Mohon tunggu...
Tsugali Oozora
Tsugali Oozora Mohon Tunggu... Punya ilmu kebal senapang

io scrivo

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Argumen-argumen yang Mewajarkan Ketimpangan

14 Februari 2020   11:53 Diperbarui: 14 Februari 2020   11:55 88 0 0 Mohon Tunggu...
Argumen-argumen yang Mewajarkan Ketimpangan
socialisteconomist.com

Ketimpangan jadi persoalan yang pelik karena ada argumen-argumen masuk akal yang menopangnya. Ia melibatkan hukum permintaan penawaran. Ia membuat orang memperdebatkan moralitas. Ia membuat banyak pihak yang mestinya berkerja sama jadi saling menjegal kepentingan. Bahkan Amnesty International, yang aktif menyuarakan persamaan hak juga pernah tersangkut masalah ini dan jadi pelaku ketimpangan.

Dibalik status kuo selalu ada kelompok yang ingin mempertahankannya. Termasuk soal ketimpangan ini. Ada pihak-pihak yang memaklumkan ketimpangan karena mereka berpikir keadaan ini menguntungkan mereka atau justru menganggap situasi seperti ini justru hal yang sudah adil.

Kita perlu tahu argumen-argumen yang menyebabkan orang menerima keadaan yang tidak setara. Perkara apa kegunaan argumen-argumen ini saya serahkan kepada pembaca. Pembaca bisa langsung membantahnya atau justru bisa mempertahankannya.

Saya tidak berani menyebut argumen-argumen dibawah ini sebagai benar atau salah, karena argumen mesti dilekatkan pada konteks yang membuatnya hadir dalam pembicaraan. Dan sialnya konteks ketimpangan luar biasa banyaknya sehingga tidak mungkin dijabarkan dalam tulisan yang pendek ini. Berikut ini adalah sebagian argumen-argumen yang sering muncul dalam perdebatan soal ketimpangan.

  • Kemajuan tidak selalu datang dari kesetaraan

Dunia tidak selalu zero sum game, yang menang tidak harus lahir dari kekalahan pihak lain. Ada banyak ide-ide dan teknologi yang lahir dari hubungan antar pihak yang tidak setara. Pemikir zaman Rennaissance hanya bisa berkarya karena biaya hidup dan ongkos eksperimen mereka dijamin oleh parton-patron mereka yang kaya raya. Bahkan Karl Marx pun punya Friedrich Engels, pemilik pabrik di Manchester yang selalu membantunya dengan ide dan dukungan finansial.

  • Ketimpangan adalah bahan bakar untuk bekerja lebih keras.

Frustrasi, rasa tidak puas, pertentangan dan krisis punya sisi positif. Ia memacu orang memperbaiki diri. Keinginan untuk memperbaiki diri ada dalam diri manusia yang tidak bisa dilepaskan dari perasaan ketidaknyamanan.

  • Berupaya menghilangkan ketimpangan sama artinya dengan mengabaikan keadilan.

Orang kaya menganggap bisa mencapai status finansialnya hari ini karena ia bekerja lebih keras dibanding orang lain. Jika pemerintah memajaki mereka yang kaya lebih besar sama artinya pemerintah tidak ingin rakyatnya berkerja keras. Dan sebaliknya, memberi insentif besar untuk orang miskin sama artinya dengan membiarkan mereka hidup dalam kemalasan. Ada masalah keadilan serius yang muncul disini.

  • Raise the bottom, not levelling down.

Pihak-pihak yang tidak terlalu mempersoalkan ketimpangan cenderung berpikir bahwa solusi ketimpangan adalah dengan mendorong mereka yang berada di bawah naik jadi kelas menengah, bukan menarik mereka yang berada di kelas atas turun ke bawah. Pemerintah tidak perlu menarik pajak yang lebih besar lagi dari orang-orang kaya. Tapi fokus saja memaksimalkan fungsinya untuk menaikkan taraf hidup mereka yang masih di garis kemiskinan dengan rate pajak yang sudah ada.

  • Institusi negara yang terlalu kuat melanggengkan ketimpangan.

Saat negara dikuasai oleh sebagian kelompok maka kelompok yang lain akan disingkirkan dengan mudah melalui tangan negara. Hal ini perlu dicegah dengan membuat negara tidak terlalu kuat dibanding masyarakatnya. Pendelegasian wewenang yang terlalu besar pada negara mesti dicabut dan sejumlah persoalan mesti dikembalikan pada masyarakat.

  • Negara kekurangan kompetensi untuk mendistribusikan kekayaan.

Korupsi, birokrasi yang lamban, proses politik yang alot adalah penyebab mengapa sulit untuk mempercayakan uang pajak bisa tersalurkan bagi yang membutuhkan. Jika dibandingkan sektor swasta, budaya kompetisi tidak mengakar dalam birokrasi pemerintah. Hal ini menyebabkan birokrasi selalu kalah efisien. Pegawai pemerintah menikmati dua hal dalam pekerjaan mereka. Masa kerja yang terjamin dan promosi berdasarkan senioritas. Ini bukan insentif yang baik untuk memacu performa pegawai.

  • Sistem jaminan sosial adalah moral hazard

Semua sistem monopoli yang dilindungi akan selalu jadi tidak efisien. Tidak terkecuali sistem yang dipelihara oleh negara. Sistem jaminan sosial yang tidak punya mekanisme evaluasi yang baik akan membuat rugi negara sekaligus akan membuat rakyat ketergantungan pada dana bantuan sosial. Monopoli menyebabkan absennya evaluasi. Tidak ada evaluasi akibatnya tidak ada tanggung jawab. Kebebasan dan tanggung jawab harus satu paket.

  • Equal work for equal pay tidak akan berjalan baik karena pekerja dan konsumen merespon insentif yang diberikan pada mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x