Mohon tunggu...
Tsugali Oozora
Tsugali Oozora Mohon Tunggu... Punya ilmu kebal senapang

io scrivo

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Artikel Utama

Jika Tidak Dipulangkan, WNI Eks ISIS Masih Punya Potensi Ancaman untuk Negara

9 Februari 2020   12:29 Diperbarui: 10 Februari 2020   06:13 3121 8 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jika Tidak Dipulangkan, WNI Eks ISIS Masih Punya Potensi Ancaman untuk Negara
Polemik ide pemulangan WNI eks-ISIS terus bergulir. (Foto: AFP/Delil Souleiman via washingtonpost.com)

Munculnya ide pemulangan 600 WNI eks-ISIS dalam pemberitaan media nasional dalam beberapa hari ini menimbulkan perdebatan.

Yang paling mengemuka adalah soal risiko makin menyebarnya ideologi radikal dan aksi terorisme di Indonesia setelah mereka kembali ke masyarakat. Terlebih 47 orang dari 600 WNI eks ISIS yang mau dipulangkan tersebut berstatus sebagai tahanan. Wajar saja apabila masyarakat Indonesia menjadi khawatir soal ini.

Tapi yang perlu diperhatikan adalah komentar Menko Polhukam Mahfud MD. Ia menyebut pemerintah tidak pernah menggulirkan ide untuk memulangkan para WNI eks ISIS. Komentar Menko Polhukam ini jadi petunjuk bahwa isu pemulangan WNI eks ISIS tidak terlepas dari dinamika politik internasional yang terjadi di Suriah saat ini.

Para WNI eks ISIS ini ditahan bukan oleh Pemerintah Suriah. Para simpatisan ISIS ditampung di kamp pengungsian di daerah otonomi khusus etnis minoritas Kurdi, Autonomous Administration of North East (AANES) yang berupaya memerdekakan diri dari pemerintah Syriah.

Sementara para militan eks ISIS ditahan di penjara tentara pemberontak Syrian Democratic Force (SDF), sayap militer AANES. Kedua badan perjuangan kelompok Kurdi ini disokong oleh Amerika Serikat, baik saat melawan Pemerintah Bashar al Assad maupun saat melawan ISIS di teritori mereka.

Liputan Majalah Tempo dengan tajuk Mengejar Mimpi ISIS yang terbit pada 17-23 Juni 2019 lalu menyebut ada sekitar 200 warga negara Indonesia, para perempuan dan anak-anak di tempat pengungsian Al-Hawl di wilayah Rojava, sebutan lain untuk AANES.

Secara keseluruhan ada sekitar 70.000 pengungsi yang ditahan di kamp Al-Hawl. Hampir 10.000 pengungsi berasal dari negara selain Irak dan Syria. Juli tahun lalu sekitar 240 anak meninggal di kamp atau saat menuju kamp karena kekurangan pasokan makanan, minuman, dan obat-obatan.  

Februari tahun lalu SDF sudah mengeluhkan bahwa mereka tidak mampu lagi menampung pengungsi dan militan ISIS yang kebanyakan adalah warga negara asing. Mereka minta agar negara-negara asal militan ISIS mengambil kembali warga negaranya. Permintaan SDF ini juga digaungkan oleh Amerika Serikat.

Sebuah laporan dari Rojava Information Center yang berjudul Bringing ISIS to Justice pada tahun lalu menyebut pemerintah otonomi Kurdi mengeluarkan US $700.000 setiap hari atau US $250 juta setiap tahunnya untuk kebutuhan dasar para penghuni kamp.

Angka yang sangat besar untuk ditanggung oleh kedua organisasi pemberontak. Tentara SDF dan pegawai AANES bahkan mesti dipotong gajinya untuk bisa membiayai kamp pengungsian. Sheikhmus Ahmed, kepala kantor urusan pengungsi AANES menyebut total ada 17 kamp pengungsian yang berada di wilayah otonomi AANES.

Sejak 3 tahun lalu pengaruh presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara Suriah semakin menguat dan sebaliknya kekuatan pasukan pemberontak semakin terkisis. 

Serangan Turki ke wilayah Suriah dalam Operasi Peace Spring sejak Oktober tahun lalu untuk mengejar pasukan Kurdi -yang mereka tuduh sbg pemberontak dan pelaku aksi teror di negaranya- juga memperlemah SDF dan AANES.  Ditambah pula Amerika Serikat, sekutu utama orang Kurdi memutuskan menarik pasukannya dari Suriah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN