Mohon tunggu...
Sekar Rifa Andini
Sekar Rifa Andini Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa di salah satu PTN di Indonesia

Seorang mahasiswa semester 5 yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikannya dengan baik.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Masjid Gedhe Kauman Sebagai Ciri Kerajaan Islam di Yogyakarta

2 Desember 2022   02:50 Diperbarui: 2 Desember 2022   04:01 148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia melakukan  kegiatan Kuliah Kerja Lapangan dalam rangka implementasi mata kuliah Kajian Peninggalan Sejarah ke Semarang-Solo-Yogyakarta selama 5 hari 4 malam.

Perjalanan kami dimulai pada hari Kamis malam, 27 Oktober 2022. Di pagi harinya pada Jumat, 28 Oktober kami sampai di Semarang dan melakukan perjalanan ke Lawang sewu, Tugu Muda serta Sam Pho Kong. Kemudian, keesokan harinya kami mengunjungi Keraton Surakarta yang kemudian lanjut mengunjungi Yogyakarta. Setibanya di Yogyakarta pada hari Sabtu sore, 29 Oktober kami beristirahat di UNJ Hotel untuk pagi harinya melanjutkan perjalanan ke sekitar Malioboro. Lalu, di hari Minggu, 30 Oktober 2022 tibalah kami mengunjungi Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.

Seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia yang mengikuti KKL ini sudah memiliki kelompoknya masing-masing dengan destinasi yang berbeda. Saya bersama teman kelompok saya memilih Masjid Gedhe Kauman. Kami melalukan studi literarur dan observasi untuk mencari tahu lebih lanjut akan masjid ini.

Pada saat itu, kami datang berkunjung di siang hari sehingga matahari tampak sangat dekat dengan kami. Hal ini pula yang membuat kami sangat nyaman berada di dalam masjidnya karena lantainya yang terasa sejuk. Lalu, tak lama ketika kami berkunjung berdekatan dengan waktu dzuhur sehingga kami melihat banyak orang yang beribadah disana yang membuat suasana masjid ini terasa semakin khidmat. Setelah itu, kami melakukan studi literatur yang akan dijelaskan pada pembahasan di bawah ini.

Kesultanan Yogyakarta terbentuk karena adanya Perjanjian Gianti pada tanggal 13 Februari 1755 yang berisi bahwa Negara Mataram Islam dibagi menjadi dua. Setengah menjadi hak Kerajaan Surakarta dan setengah lagi menjadi hak Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Dimana nantinya Ibukota yang dipilih oleh Sultan Hamengku Buwono I ialah di Yogyakarta yang akhirnya terbentuk menjadi Kesultanan Yogyakarta.

Pada awal pembangunan Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I sangat memikirkan pembangunan tersebut dengan penuh pertimbangan untuk dapat memenuhi kebutuhan pemerintahan, sosial, ekonomi, agama, budaya maupun tempat tinggal masyarakat sekitar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut salah satunya dibangun lah Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang berada di halaman pertama atau berada di Jl. Kauman, Ngupasan, Kec. Gondoman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage 29 Mei 1773, didirikan atas prakarsa Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Fakih Ibrahim Diponingrat selaku penghulu keraton.

Setiap bangunan keraton tentunya memiliki corak arsitektur yang khas dan mengandung makna simbolik yang berbeda-beda. Masjid Gedhe Kauman ini mewarisi gaya arsitektur Masjid Demak. Karakteristik dari masjid ini adalah keberadaan empat pilar utama atau dikenal dengan saka guru dengan atap berbentuk tajug lambang teplok. Tajug lambang teplok ini adalah atap yang bersusun tiga. Tiga tingkat pada atap tersebut juga dapat dimaknai sebagai iman, islam, dan ikhsan.

Selain itu, Masjid Gedhe Kauman ini memiliki 48 pilar dan 16 sisi atap dengan tiga tingkatan. Masjid ini terdiri dari beberapa bagian, diantaranya mi’rab atau tempat pengimaman, liwan yaitu ruangan luas untuk jamaah, serambi yang merupakan bagian luar bangunan, dan tempat wudhu. Di dalam Masjid Gedhe ini juga terdapat ruangan khusus bagi raja ketika hadir di masjid, yang berada di baris (shaf) terdepan, dikenal dengan nama maksura. Sebagai ciri lain yang menunjukan bahwa masjid ini milik kesultanan yaitu di puncak atapnya dipasang hiasan mahkota berbentuk bunga. Hiasan pada puncak atap semacam ini disebut sebagai mustaka.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa selain sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan di bidang agama, masjid ini juga pernah dipergunakan sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan hukum Islam, terutama masalah perkara perdata. Prosesi penyelesaian permasalahan hukum ini dilaksanakan di serambi masjid yang juga disebut sebagai Al Mahkamah Al Kabirah. Selain sebagai tempat pengadilan agama, juga berfungsi sebagai tempat pertemuan para alim ulama, pengajian dakwah islamiyah, dan peringatan hari besar yang mencirikan fungsi di bidang sosial.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta, Masjid Gedhe pun turut dalam dinamika bangsa Indonesia. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, bangunan Pajagan digunakan sebagai markas Asykar Perang Sabil yang membantu Tentara Nasional Indonesia melawan agresi militer Belanda. Para pahlawan yang gugur kemudian dimakamkan di sisi barat masjid ini. Selain itu, Masjid Gedhe terus menjadi sarana perjuangan. Baik bagi Komponen Angkatan '66 dalam menumbangkan Orde Lama, maupun bagi pejuang reformasi dalam menumbangkan Orde Baru.

Setelah membahas mengenai unsur historis, ternyata Masjid Gedhe ini juga memiliki keunikan dimana batu kali putih yang ada pada dinding masjid disusun tanpa menggunakan semen atau unsur perekat lain. Serta, penopang bangunan masjid ini yaitu kayu jati yang telah berusia lebih dari 200 tahun masih kokoh berdiri hingga saat ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun