Mohon tunggu...
http://sejarawan.id
http://sejarawan.id Mohon Tunggu...

Blogger dan sejarawan sekaligus joki kronologi yang suka bisnis +62 821 3874 3737 http://sejarawan.id

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Hidup Harus Kreatif ala Indonesia

5 Juli 2015   15:53 Diperbarui: 5 Juli 2015   15:53 355 8 7 Mohon Tunggu...

 

Dalam menghadapi krisis ekonomi, rakyat Indonesia SUDAH terbukti lebih tangguh dibanding orang Eropa. Foto di bawah ini yang bicara. Saya sendiri tinggal dan mencari nafkah di Indonesia, ke negara Barat cuma pernah 2 kali, itu pun cuma sebentar. Jadi, saya lebih tahu keadaan rakyat INDONESIA.

Terus terang, berstatus sebagai karyawan di negara dengan sistem yang "beres" seperti kebanyakan negara Eropa dan Amerika Utara sangat menyenangkan. Meskipun tidak ada yang namanya status "karyawan permanen" seperti di Indonesia, kesejahteraan karyawan betul-betul diperhatikan. (Kondisi ini antara lain karena lobby serikat buruh atau bahkan Partai Buruh yang sangat kuat di sana). Dua minggu lalu, pelanggan keju saya yang seorang warga negara Belanda cerita ke saya bahwa gaji pokok paling rendah seorang buruh di Eindhoven setara dengan Rp 22 juta per bulan, itu buruh dengan skill minim, tidak bisa bahasa asing, tidak punya sertifikat keahlian apa pun, cuma bisa pegang sapu dan ngangkat-angkat barang. Di luar itu masih ada jaminan kesehatan (ini mah orang nganggur di sana juga dapat), jaminan jika nganggur lagi (semacam JHT-nya sini), dan beberapa fringe benefit lainnya. Diakui, punya karyawan legal di Eropa adalah sumber pengeluaran paling mahal bagi sebuah perusahaan.

Karena kondisi seperti itulah, rakyat Barat saat ini merasa jauh lebih nyaman jika berstatus sebagai karyawan, apalagi di perusahaan mapan yang (seolah-olah) jauh dari bayangan kebangkrutan. Makanya, begitu mereka terkena PHK, langkah selanjutnya (kadang seterusnya) yang bisa mereka lakukan adalah mencari pekerjaan lagi. Kalau tidak didapat di negara sendiri, mereka masih bisa bergerak ke negara tetangga dengan relatif mudah (dibanding di sini, loh ya).

Terus apa yang terjadi di Indonesia? Dulu ya, sebelum krisis 1998 yang super-duper dramatis, rakyat negeri ini juga seolah mendewakan status kekaryawanan, apalagi kalau bisa bekerja di perusahaan "mapan" seperti Sempati Air, Bank Bumi Daya, Bank Bappindo, atau BHS Bank. Namun, krisis ekonomi-sosial-politik-kejiwaan di tahun 1998 telah menyadarkan bangsa ini bahwa: HIDUP HARUS KREATIF. Rakyat yang seumur-umur dicekoki pandangan bahwa bekerja di pemerintahan dan perusahaan besar adalah status "adiluhung" mulai sadar bahwa segala yang kelihatannya besar tadi (sistem besar, perusahaan besar, nama besar) tidak selamanya bisa diandalkan. Mulai saat itu, baik dengan ikhlas maupun kepepet alias terpaksa, bertumbuhanlah jiwa-jiwa kewirausahaan atau bahasa gaulnya "enterpreneurship" pada bangsa ini. Awal-awal terasa pedih, memang. Seorang bapak yang sebelumnya berangkat kerja dengan baju rapi, kini hanya berkaus oblong mendorong gerobak. Pemuda kekar yang sewaktu bekerja rajin ngegym, kini harus ngontel sepeda keliling kampung menjajakan siomay, dan berbagai kisah dramatis drastis lainnya. Orang-orang tua saat itu banyak yang mencibir: sarjana kok jualan siomay, bekas manajer kok nggoreng tahu, dan aneka kalimat nyelekit lainnya. Tapi toh bangsa ini tidak mudah menyerah. Bangsa ini berjalan terus dengan tetes-tetes keringat membasahi bumi pertiwi.

Dan sekarang, lihatlah hasilnya. Meski masih banyak kekurangan di sana-sini, bangsa ini mulai bisa mandiri. Krisis finansial yang menjungkalkan banyak perusahaan di Amerika Utara tahun 2008 kemarin nyaris tidak terasa riaknya di sini. Orang-orang muda (baik secara fisik maupun cuman perasaannya) terus bergerak dengan kreatif menggerakkan roda ekonomi. Sudah jamak saat ini anak lulus kuliah langsung menggelar dagangan, menggulung lengan baju sekaligus menggulung rapat ijasahnya. Mereka sadar dengan segala konsekuensi dan ketidakpastian dalam berwirausaha, toh mereka jalan terus. Sebagian jalan cepat, sebagian jalan lambat, dan yang agak apes jalan di tempat. Hahahaha....Nggak masalah, yang penting mereka tetap semangat.

Kembali ke korban PHK di Barat. Mengapa mereka kemana-mana kembali menenteng surat lamaran kerja? Apakah mereka tidak tertarik berwirausaha? Ya, mungkin mereka tertarik punya usaha sendiri. Tapiiiiii....tapi, yang saya tahu, membuka usaha sendiri di negara dengan sistem yang sudah sangat mapan tidak semudah buka usaha di negeri yang konon masih ngeker-eker ini. Katakanlah seseorang mau jualan "keju goreng" (sengaja ngasih contohnya bukan jualan tempe goreng, karena ini di Eropa) di pinggir jalan di Strassbourg, maka dia tidak bisa seenaknya tahu-tahu mikul rombong penggorengan dan mangkal di halte bus di sana. Tidak hanya diusir polisi, dia bisa kena denda ber-euro-euro karena kelakuannya. Mau buka warung "ketoprak keju" di depan rumah mertua? Maka ada selusin ijin nyang kudu dia beresin: ijin tetangga, ijin dinas kesehatan, ijin pengelolaan limbah, ijin tidak menimbulkan berisik ulekan keju, ijin menggunakan bahan makanan non-GMO, dan sederet ijin lainnya. Belum lagi kalau dia mempekerjakan karyawan, maka orang dari dinas tenaga kerja akan mencecar dengan pertanyaan: mana ijin mempekerjakan karyawan, mana bukti anda menggaji karyawan sesuai ketentuan, karyawannya dari negara sendiri atau luar negeri, mana ijin kerjanya, mana sponsornya, bla-bla-bla. Kondisi semacam inilah yang membuat mereka ogah-ogahan buka usaha sendiri. Karena itulah mereka kembali menenteng-nenteng lamaran kerja. Dan saat perusahaan-perusahaan tidak kunjung membuka pintu, mereka mulai frustasi.

Beda sekali dengan yang terjadi di sini. Karyawan yang terkena PHK minggu kemarin, hari ini sudah bisa menggoreng tahu isi. Atau, kalau korban PHK tersebut sedikit revolusioner dan berwawasan ke depan, hari ini dia sedang jualan barang @Dealer_Antik

Old Amsterdam Antiques showroom
Old Amsterdam Antiques showroom
 

Artikel Reposting from anonymous di Sosmed FB, by Old Amsterdam Antiques

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x