Lingkungan

Sampah Lebaran dan Pesan Kemanusiaan

12 Juni 2018   09:25 Diperbarui: 12 Juni 2018   19:51 237 0 0
Sampah Lebaran dan Pesan Kemanusiaan
screenshot pesan berantai yang marak beredar (Dokumen Pribadi)

Sebuah pesan dikirimkan oleh melalui aplikasi Whatsapp Group oleh seorang teman, Isinya cukup menarik, tertulis:

"Kepada Masyarakat Kota. Mari kita membantu saudara kita penyapu jalan dan pekerja sampah dengan tidak membuang sampah pada hari PERTAMA dan KEDUA LEBARAN agar saudara2 kita ini  bisa juga merayakan hari bahagia ini bersama keluarganya. 

Buanglah sampah pada H-1 dan H+2. Mari kita sambut IDUL FITRI dengan membahagiakan seluruh lapisan masyarakat. Terima Kasih, Hormat kami. DLH Kota Balikpapan.

Kontan saja, tak beberapa lama, kembali masuk pesan yang sama dikirimkan di group yang lain dari orang berbeda. 

Usut punya usut, pesan tersebut ternyata bersumber dari surat himbauan sebuah instansi lingkungan hidup yang ditujukan kepada jajaran camat dan lurah untuk menjaga kebersihan menjelang dan sesudah Idul Fitri.

Namun, bila dilihat seksama, ada perbedaan mendasar antara keduanya, baik pesan berantai dan himbauan, dan kenapa pesan berantai begitu masif disebar dan membawa pengaruh berbeda pada komunikan sebagai penerima pesan.

Yang berbeda antara pesan berantai dan himbauan ada pada tambahan diksi "agar saudara2 kita ini bisa juga merayakan hari bahagia ini bersama keluarganya." 

Dari diksi ini ada pesan yang menyentuh sisi kemanusiaan, ini terkait dengan nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan. Nilai memanusiakan manusia untuk menghendaki masyarakat agar memiliki sikap dan perilaku sebagaimana layaknya manusia, pesan yang membuat setiap orang, siapapun juga berhak untuk merasakan kebahagiaan berlebaran bersama keluarga.

Menurut A.W Widjaja dan M. Arisyk Wahab, bila dilihat pada bentuknya, terdapat 3 bentuk pesan, yaitu: Informatif, persuasif, dan koersif. Pada himbauan, pesan berbentuk informatif, yaitu memberikan data dan fakta terkait dengan meningkatnya timbulan sampah pada Idul Fitri.

Sedangkan pada bentuk pesan kedua, yaitu persuasif yang menjadi kekuatan pesan berantai. Pada pesan yang berbentuk persuasif berisi bujukan yang membangkitkan pengertian kesadaran manusia bahwa apa yang kita sampaikan akan memberikan sikap berubah.

Namun, pesan yang mengandung nilai kemanusiaan itu baiknya tidak berhenti sampai pada menahan membuang sampah. Karena dengan hanya tidak membuang sampah pada H-1 dan H+2, persoalan timbulan sampah tidak teratasi, bahkan akan tertumpuk dua kali lipat dan akan memberatkan pekerjaan petugas sampah.

Semangat nilai pesan kemanusiaan itu  harus  bergerak pada hal yang lebih mendasar, yaitu peningkatan sampah yang diakibatkan oleh pola konsumsi. Dalam libur lebaran, timbulan sampah diprediksi akan meningkat lebih dari 20%. 

Peningkatan ini ditengarai disebabkan oleh meningkatnya pola konsumsi harian dan juga peningkatan pada timbulan sampah di tempat wisata. Di sisi lain, warga juga belum bijak dalam mengelola dan memilah sampah. Akhirnya, headline pemberitaan di media massa paska lebaran tidak jauh dari soal permasalahan sampah yang menggunung dan tidak terangkut di TPS.

Oleh karena itu, ditengah semangat untuk meraih kemenangan di hari yang fitri setelah sebulan berpuasa, menahan lapar juga dahaga, terselip pesan kemanusiaan yang penting untuk menjaga nafsu konsumsi yang berlebihan untuk sama-sama berbagi kebahagiaan untuk sesama.