Mohon tunggu...
Sebastianus KiaSuban
Sebastianus KiaSuban Mohon Tunggu... ASN

ASN

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Apel Kesadaran ASN dan Kesadaran ASN yang Masih Sebatas Mimpi

17 Juli 2019   23:27 Diperbarui: 17 Juli 2019   23:39 0 1 1 Mohon Tunggu...

                Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di daerah, Hari ini, Rabu, 17 Juli 2019, bertempat di depan Lapangan Kantor Bupati Kabupaten Flores Timur, saya mengikuti apel kesadaran ASN yang lazim di gelar setiap tanggal 17 dalam bulan.

Sejatinya, apel kesadaran ASN merupakan salah satu kegiatan, yang darinya diharapkan mampu membangkitkan kesadaran korps pegawai negeri mengenai tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat. Itu artinya, kegiatan ini bukan sekedar formalitas, atau seremonial semata melainkan punya peran subtantif bernilai jika direfleksikan dengan sengguh secara penuh.

Menarik untuk saya bagikan di sini, karena dalam sambutannya, Wakil Bupati Kabupaten Flores Timur, Bapak Agustinus Payong Boli, SH, yang bertindak selaku inspektur upacara, secara khusus menyoroti impact dari apel kesadaran ASN terhadap kesadaran ASN sendiri yang baginya belum menunjukan dampak yang cukup berarti.

"Sudah tak terhitung lagi berapa kali apel kesadaran ini kita gelar, sejak Kabupaten ini didirikan dan lebih khusus sejak kami dilantik sebagai pemimpin di daerah ini pada bulan Mei tahun 2017 lalu. Tapi pertanyaan reflektifnya, sejauh mana impact dari apel kesadaran ini terhadap kenerja kita sebagai ASN. Jujur saja yang kita lihat belum menampakan perubahan yang signifikan. Ini adalah refleksi atau bahan permenungan yang harus kita lakukan sebagai bentuk tanggung jawab sosial kita terhadap negara dan Kabupaten tercinta ini", demikian ungkap Beliau dalam sambutannya pagi itu.

Senada dengan penilaian Beliau, sementara sayapun berpikir demikian. Ungkapan beliau, bagiku bak cermin besar yang sedang terpampang jelas tepat didepanku kala itu, saat kalimatnya mampir di telingaku, lalu menghentak kesadaranku dengan keras untuk segera menyadarinya. Kudapati diriku di balik cermin itu, sebuah wajah seorang aparatur negara yang masih malas, tak bergairah dan rendah komitmen tuk negara apalagi sebagai pelayan masyarakat.

Semestinya ASN hadir sebagai contoh di tengah masyarakat. Masyarakat merindukan sosok pelayan dan pengabdi di negeri ini. Maklum, cita-cita akan reformasi birokrasi, termasuk kesadaran dan profesionalisme ASN masih sebatas jargon saat pidato, barisan kata dan kalimat dalam regulasi yang dilegalkan, belum nyata dalam prakteknya.

Semua kegiatan, sekecil apapun itu, mulai hari ini, harus dilihat dengan kacamata yang berbeda demi kemajuan ASN, termasuk momentum apel kesadaran yang biasa digelar. Jauhi kesan sekedar hadir belaka, lalu pulang tanpa menimba energi pembaharuan komitmen yang terkandung didalamnya.

Sejumlah upaya sudah dilakukan, termasuk dengan meningkatkan kesejahteraan ASN. Namun sekali lagi, upaya ini tak berbanding lurus dengan peningkatan kinerja ASN. Ini berarti, kesadaran dan mentalitas ASN masih jauh panggang dari api. Inilah persoalan utama kita.

Semua bisa berubah hanya jika ASN pertama -- tama sadar. Jika semua ASN, menyadari peran fungsi dan tugas panggilannya yang mulia sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, maka fungsi pelayanan publik dapat tercipta dan dirasakan dalam masyarakat. Saat itu, kita semua sepakat, kehadiran korps pegawai negeri itu sungguh berarti bagi negeri ini.

Sebelum barisan dibubarkan, Wakil Bupati meminta peserta apel menyanyikan bersama lagu "Padamu Negeri". Mengkahiri lagu ini, saya teringat kutipan ini, "Jangan tanya apa yang sudah diberikan negeri ini untukmu, namun tanyakanlah seberapa besar cintamu yang kau sudah diberikan pada negeri ini".