Mohon tunggu...
Sayyid Yusuf Aidid
Sayyid Yusuf Aidid Mohon Tunggu... Dosen - Dosen Pendidikan Agama Islam Universitas Indonesia dan PNJ

Saya adalah seorang dosen agama yang moderat yang suka membaca dan menulis. Genre bacaan saya yaitu religi dan tasawuf. Adapun saya mengajar Agama Islam di Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta. Link : www.yusufaidid.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Pentingnya Buku Kontrol Wawasan Kebangsaan

12 Juni 2024   11:25 Diperbarui: 12 Juni 2024   12:10 145
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dokumentasi Pribadi 

            Di tahun 2021, ada berita tentang tes wawasan kebangsaan sebagai tes masuk di salah satu lembaga independen negara. Tentu tes wawasan kebangsaan itu simbolisasi atau bentuk kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seberapa hafal di terhadap dasar negara yaitu Pancasila dan pengimplementasikan nikai-nilainya di dalam kehidupan yang dijalani, seberapa pekanya terhadap konstitusi dalam hal ini yaitu UUD 1945, dan seberapa cintanya terhadap tanah air. Hasil dari tes tersebut tentu ada hal yang mencengang bahwa 57 orang pelamar kerja di instansi tersebut tidak lolos disebabkan nilai tes wawasan kebangsaannya tidak mencapai nilai maksimum.

            Namun dalam artikel ini penulis tidak menyoroti tes wawasan kebangsaan tersebut. Akan tetapi pentingnya wawasan kebangsaan untuk dipahami oleh setiap warga negara Indonesia. Wawasan Kebangsaan adalah sebuah pandangan yang harus dimiliki oleh seluruh Warga Negara Indonesia untuk menciptakan kerukunan, kendamaian dan kondusifitas di Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang majemuk yang terdiri dari banyaknya suku, budaya, agama, ras, dan golongan.

            Internalisasi wawasan kebangsaan ada mulai Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum, dengan adanya upacara bendera setiap hari Senin. Wajib pada upacara tersebut yaitu pengibaran bendera Merah Putih, hormat kepada bendera Merah Putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, melafalkan Pancasila, membacakan UUD 1945, dan menyanyikan lagu daerah. Kegiatan tersebut akan memberikan proses dan output bagi siswa-siswi yang ada di sekolah untuk mengenal dan cinta tanah air.

            Hal yang terpenting, yang harus dipupuk wawasan kebangsaan ialah gen Z. Sebab interaksi mereka dengan gadget akan mempengaruhi kepribadian mereka. Apalagi ada kasus yang terjadi beberapa hari lalu bahwa anak-anak SMP yang membuat konten melecehkan anak-anak Palestina. Hal tersbut telah melecehkan Pembukaan UUD 1945 alenia ke-4, "Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan  suatu  Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."

            Sisi pelecehan tersebut disebabkan mereka tidak mempunyai jiwa kemanusiaan dan simpati terhadap kejadian yang miris di Palestina. Sebab humanisme salah satu bagian dari sikap wawasan kebangsaan yang harus dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia. Maka dari itu, kondisi yang tersebut harus mendapat perhatian dan bimbingan bukan hanya generasi milenial yang ada di satu SMP melainkan di seluruh sekolah dari tingkat dasar, menengah, dan tingkat atas. Tugas tersebut bisa ditangani semua guru-guru yang mengajar di seluruh Indonesia khususnya guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN).

            Memang pelajaran PPKN yang ada di sekolah, umumnya hanya didapatkan siswa seminggu sekali dan itu pun hanya dengan 100 menit. Kontrol di luar jam tersebut memang sulit, apalagi pergaulan mereka setelah pulang sekolah. Sebab pergaulan sosial akan mempengaruhi 70 persen dari kepribadian seseorang. Paling tidak Kemenristekbud bekerjasama dengan guru-guru dan dosen-dosen PPKN membuat buku kontrol wawasan kebangsaan. Kemudian buku tersebut dibagikan kepada seluruh siswa-siswi di Indonesia. Sehingga tidak ada lagi kejadian-kejadian yang dapat merusak jati diri bangsa Indonesia. Jati diri bangsa Indonesia yaitu jati diri yang religius, humanis, toleran, demokratis, dan peduli terhadap sesama.

            Buku Kontrol Wawasan Kebangsaan berisikan kolom-kolom kegiatan sosial, kegiatan positif, dan kegiatan sekolah yang mencerminkan patriotisme dan nasionalisme dalam sebulan. Paling tidak dalam sebulan ada 4 kolom kegiatan yang diisi dan nantinya ditandatangani oleh guru-guru mereka. Sehingga dari buku kontrol tersebut tidak ada lagi radikalisme, perbuatan yang merendahkan kemanusiaan, bulliying, dan kegiatan yang bisa merusak kepribadian anak bangsa.

           

           

           

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun