Sayyidati Hajar
Sayyidati Hajar Pengajar - Pengamat - Pejalan

Perempuan Timor penyuka puisi dan senja yang juga cinta mengajar. Inisiator Komunitas Sastra Aspira Universitas Muhammadiyah Kupang.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Galeri Sepi

19 Oktober 2018   16:40 Diperbarui: 19 Oktober 2018   23:44 185 2 0

Rasanya bangunan kotak ini seperti galeri sepi. Aku bisa menangkap cerita dari setiap sudut yang murung, sepi, seperti akan bunuh diri. Suara-suara tawa yang sebentar, lalu lebih banyak menangis dan bertengkar itu kusepakati sebagai musik pengiring. Selain pagar tembok, udara yang tertahan dalam bangunan kotak ini, juga sepi yang mengiring. Tak ada yang peduli apa mimpi buruk yang datang setiap kali mataku merapat.  Sungguh,  tak ada. Sekali lagi, kecuali pagar tembok,  udara yang tertahan,  dan sepi yang mengiring.

Seperti idealnya manusia,  aku belajar lebih baik dari pengalaman. Belajar menghentikan tangis sebelum datang.  Juga memoles senyum dengan tarikan pipi patah-patah. Aku belajar otodidak. Hanya melihat contoh dari gelembung-gelembung sepi yang terbang di sudut ruang.  Tempat sebuah foto terpasang dengan bingkai emas sebagai penghormatan terakhir. Mata dingin dengan senyum terpaksa manis itu menyedotku dalam renungan panjang. Sesungguh, sepi yang kini berbuah gelembung itu adalah usaha terakhir dari sebuah penyerahan diri. Setidaknya dapat memutus ingat dari mereka yang dicintai dan mengikhlaskan mereka yang dibenci. Bisa jadi menyerah dalam sepi seperti sebuah latihan mental menghadapi hidup setelah mati.

Sekian lama aku memejamkan mata mendulang keberanian dalam bingkai-bingkai yang digantung rapi di sudut ruang.  Suara tawa mengisi telingaku.  Tawa perempuan. Semua renungan terputus.  Aku kehilangan sepi sesaat sebelum suara itu bertambah pelan kemudian tenggelam. Mereka sungguh tak tahu betapa pentingnya sepi untukku. Selain tembok dan udara yang tertahan,  memang tak ada yang mengerti mengapa aku selalu merawat sepi. Suara perempuan itu benar-benar tenggelam.  Aku bersiap memasuki gelembung sepi yang terbang di sudut ruang. Tepat di depan foto bermata dingin itu. Gelembung menetas menyisakan pecahan air juga udara yang terlepas sekali waktu.  Mata dingin itu berubah hangat,  juga senyumnya yang terpaksa itu jadi manis sekali.  Aku menciumnya lekat,  juga memeluk sisa hangat yang tak pernah kudapat lagi.

"Sayang,  kau begitu kurus," bisiknya.

"Aku merindukanmu," balasku setelah lama menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya.

Sebuah tawa kudengar kembali.  Kali ini aku mendengar tawa lain,  yang tak menjengkelkan,  juga tak mengusik sepi dalam bangunan kotak ini. Justru semakin mengekalkan sepi,  dan aku ikut tertawa bersamanya. Lama sekali sebelum saling melepas peluk. Aku meluruskan posisi badan,  memandangi wajahnya lebih dalam.  Sebuah luka merah  di pelipisnya. Mengapa tak kucium aroma darah yang mengalir di pelipisnya itu? Pikirku setelah menyadari darah itu bertambah segar. Suara tawa tak ada lagi.  Sebuah gelembung pecah lagi.  Suara perempuan yang menganggu itu terdengar.  Kali ini diiringi teriakan-teriakan halus. Seekor cicak jatuh di lantai setelah puas mengintip, entah pertengkaran, entah apa.  Aku ingin muntah segera. Aku tak suka berbagi udara yang tertahan di bangunan kotak ini dengan orang lain.  Termasuk dengar suara perempuan yang datang setiap malam tiba itu.  Aku berlari ke dapur,  menenggak lebih banyak air putih. Mengutuk suara-suara itu dan menyesali keinginanku untuk muntah. Bukankah bangunan ini sepenuhnya milikku?

Suara itu datang lagi,  kali ini lebih dahsyat karena aku berada tak jauh dari asalnya.  Tak hanya suara tawa, teriakan halus itu terdengar lebih jelas. Aku menggak lebih banyak air lagi dari sebelumnya.  Udara semakin mendesak.  Suara-suara itu semakin dekat. Aku kehilangan sepi.  Kali ini suara-suara diiringi langkah pendek dan malas.  Bau aneh menyegat hidungku.  Lagi-lagi aku benci bau itu. Rasanya aku hampir tumbang,  tak ada udara lagi di sini.  Aku tak dapat benapas.  Semua udara telah tertahan suara-suara.  Aku tak kuat.  Untuk pertama kalinya aku berlari keluar.  Membuka pintu dengan susah payah dan mulai menghirup udara yang lain.  Udara yang tak berdesak dalam bangunan kotak. Tapi mataku tak mampu menerima cahaya.  Tubuhku tak dapat menerima hangat matahari.  Aku limbung.  Jatuh tepat di depan pintu.

"Harusnya kau bilang jika ingin keluar jalan-jalan," ucapnya dingin setelah membopong tubuhku ke kamar, "biar ditemani,  kalau begini kan repot toh?"

Aku memalingkan wajah ke jendela. Ditemani?  Kata itu yang sering aku ingin. Juga sering kudengar seriap kali pintu terbuka dan suara-suara itu hadir.

"Tolong temani Pih, pastikan dia tidak keluar," lelaki yang membopongku itu menitip pesan pada tembok dan udara, juga pada seorang perempuan tua yang berdiri di depan pintu.

Aku mengabaikan kata 'temani' itu dengan mengamati foto yang tergantung di tembok dengan bingkai emas sebagai penghormatan terakhir.

"Mah,  Bapak bawa perempuan lagi. Kakak hanya pulang sesekali," bisikku pelan sekali hingga terdengar seperti doa penutup hidup.

"Bekalku sudah cukup Mah,  aku ingin menyusulmu mengabadikan sepi."

Malam itu setelah udara lain kubiarkan masuk ke bangunan kotak itu.  Ada yang menangis,  tapi suara tawa dan tangis-tangis kecil itu semakin ramai.

Kayu Putih,  19 Oktober 2018