Mohon tunggu...
Iya Oya
Iya Oya Mohon Tunggu... Laki-laki

90's

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Pemaaf, Toleran, Itulah Indonesia

15 Agustus 2019   19:04 Diperbarui: 15 Agustus 2019   19:27 0 6 3 Mohon Tunggu...
Pemaaf, Toleran, Itulah Indonesia
Gambar: Dokumentasi Pribadi

Negara kita ini kurang baik apa lagi? Orang-orang gak beres makin banyak, tapi tetap dimaafkan. Bahkan sampai orang yang teriak anti Pancasila pun masih dibiarkan berkoar di medsos maupun di dunia nyata. Ini bukan sarkasme atau sindiran. Tapi memang begitu adanya.

Dengan adanya media sosial sekarang makin nampak jelas watak masing-masing orang. Jadi jelas bodohnya, jelas pula kurang ajarnya. Ada yang mengata-ngatai suatu pihak dengan kritik, sarkasme, maupun hinaan yang sangat tidak cerdas. Sangat tidak intelektual, kan begitu? Walaupun orang tersebut seorang guru, misalnya. Atau mahasiswa. Atau dosen. Kan ada saja yang seperti itu. 

Entah berapa kali Presiden kita sekarang dihina, difitnah segala macam. Dan sampai sekarang pun masih ada. Padahal situasi politik sekarang sudah sangat tenang. Dan di sini Presiden kita banyak mendapat simpati. Wajarlah, kalau ada orang yang dihina, direndahkan, siapapun dia, ya pasti akan banyak yang mendukung. Tapi Presiden kita sekarang ini agak sedikit aneh. Kalau biasanya pemimpin negara dihina, kan "sewajarnya" bakal marah. Atau mengambil tindakan tegas supaya tidak ada lagi yang berbuat demikian. Tapi nyatanya yang semacam itu dimaafkan, dan diserahkan kepada penegak hukum, terserah mau diapain.

Saya bukan memuji atau apapun. Tapi kenyataannya kan seperti itu.

Begitu juga orang-orang yang terkait dengan ideologi anti Pancasila, juga masih ditolerir oleh penegak hukum kita. Atau yang belakangan ini, soal seorang anak yang masuk tentara yang katanya dia pernah membawa bendera HT (saya gak mau pakai I). Entah mau dibilang simpatisan atau sejenisnya, ya terserahlah. Bahkan ada yang mengatakan itu harus ditelusuri lagi soal foto itu memang beneran anak tersebut atau bukan. 

Sungguh kita ini negara pemaaf. Negara penyabar. Memang kenyataannya begitu kan? Walaupun jujur aja saya dongkol dan kecewa juga belakangan ini, terutama karena persoalan-persoalan semacam itu masih ditindak halus. Bahkan sesuatu yang kurang ajar pun belakangan ini bisa digampangkan dengan permintaan maaf. Walaupun penyelesaian hukumnya tidak segampang itu tapi kok kayaknya gampang banget minta maaf. Bukannya apa, saya khawatir kalau permintaan maaf itu akan digampangkan oleh orang-orang yang menganggap sepele permintaan maaf itu.

Itu Mungkin Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Tapi barangkali sikap lembut pemerintah dan pihak-pihak lainnya tadi bisa dikatakan sebagai adab kita. Itu bagus kan? Itu baik. Yang tidak baik itu orang-orang yang memanfaatkan sikap lembut orang-orang baik tadi. Dikasih kebebasan malah makin kurang ajar. Nanti begitu gak bisa berbuat apa-apa, entah apa lagi katanya.

Sikap lembut, pemaaf, intoleran dan penyabar semacam tadi sebenarnya bukan suatu aneh juga. Adab kita kan memang seperti itu. Landasan hidup kita, yaitu budaya dan agama, jelas mengajarkan demikian.

Kita tak usah terlalu tinggi memaknai adab atau peradaban itu sebagaimana negara-negara modern di sana. Kita bukan orang Amerika yang lebih "bebas". Bukan bangsa Cina yang sukses dengan komoditas dagangnya yang mendunia. Saya kira mereka punya landasan hidup sendiri. Mereka punya budaya sendiri. Peradaban kita mungkin lebih berorientasi kepada sisi internal diri kita; spiritualitas diri kita yang khas orang timur. 

Atau saya kira sikap semacam itu hampir mendekati visi kedua dari Pancasila. Bisa dibilang terlalu ketinggian penilaian saya ini. Tapi kalau memang itu sebuah visi yang menjadi tujuan kita, ya artinya bukan sesuatu yang aneh juga. Dan artinya itu bisa untuk membuktikan kalau ideologi bangsa ini memang tak lepas dari agama. Karena selama ini kan ada yang menganggap Pancasila itu tidak islami. Mereka memisahkan Pancasila dengan agama seolah Pancasila itu batil, gak bener. Dan seolah-olah agama adalah satu-satunya ajaran yang bener sehingga yang lain salah. Seolah hal-hal selain agama adalah sesuatu yang dilaknat Tuhan, termasuk hasil pemikiran atau ide manusia. Dan seolah-olah dengan diterapkannya sistem keagamaan, segala ketidakberesan di negeri ini simsalabim beres.

Heran. Memangnya bisa segalanya beres dengan cara menerapkan suatu sistem secara mentah dan membabi-buta?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x