Mohon tunggu...
Iya Oya
Iya Oya Mohon Tunggu... Laki-laki

90's

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Jurus-jurus Dajjal

2 Mei 2019   20:19 Diperbarui: 2 Mei 2019   20:32 0 1 0 Mohon Tunggu...
Jurus-jurus Dajjal
Ilustrasi: Karya Penulis

Suatu kegilaan yang bukan-bukan. Mereka tak mau dibilang gila. Mereka kira mereka itu waras. Sampai akhirnya mereka tak sadar kalau yang gila itu diri mereka sendiri. Tepatnya, kegilaan yang negatif.  Gilanya tak bagus. Kira-kira seperti itu realitas saat ini. Makna yang sudah jelas malah dirancukan. Semua sudah dicampuradukkan dengan sengaja pembentukannya dengan nilai-nilai objektif. Pantas saja, Al-Masih Ad-Dajjal nampaknya memang sudah mengeluarkan jurus-jurusnya sebagaimana etimologi nama Dajjal itu sendiri.

Saya mesti siap-siap kalau apa yang di tangan kanannya pun sudah nampak. Saya tahu kalau apa yang saya pilih justru adalah apa yang ada di tangan kirinya. Gawat! Kebanyakan manusia memilih tangan kanannya! Tidak hanya orang terdekat, tapi juga saudara, teman, dan orang lain, siapapun itu.

"Oke, Are you ready?" tanya saya kepada diri sendiri.
"Kau tau ini tak mudah?" tanya saya kepada diri saya sekali lagi.
"Kau bisa saja sendirian menempuh jalan ini sampai nanti berjumpa dengan orang-orang yang menempuh jalan yang sama," nasihat saya kepada diri saya sendiri.

"Oke... Tak ada jalan untuk kembali karena aku sudah pasti kalah menempuh perjuangan hidup," jawab saya kepada diri saya sendiri.
"Kau tau, aku sudah habis!"
"Kau tau, aku tak lagi ingin menempuh apa yang ditempuh orang banyak!"
"Kau tau siapa aku yang tak banyak berbuat sebagaimana manusia lain yang begitu sibuk mengejar dunia. Mengejar sesuatu yang tak begitu penting. Bukan itu tugas kekhalifahanku. Bukan untuk itu aku diciptakan,"  kataku kepada diriku.

Mungkin kita harus bedakan antara mengurusi dunia dengan mengejar dunia. Dua hal berbeda yang dirancukan maknanya sebagaimana apa yang ada di buku Max Webber. Makna "zuhud" sebagai suatu sikap terhadap dunia tidak akan melenceng dari definisi zuhud itu sendiri kalau saja orientasinya benar. Karena, orang-orang pasti akan menyelewengkan makna kalau arahnya saja sudah tak lagi benar.

Hidup tak lepas dari orientasi. Dan bagi manusia, hidup tak lepas dari memaknai dan menyikapi. Garis-garis batas pun sudah jelas. Kalau yang "ini" sudah dibegitukan, dan "itu" sudah dibegitukan, maka sudah pasti chaos struktur maupun tatanan kehidupan manusia. Gampang saja itu dilakukan kalau niat berupa nafsu itu muncul. Katakanlah hal demikian sebagai pembenaran atas perilaku yang tak benar. Karena akal yang tak sehat bisa saja membolakbalikkan logika sekehendaknya kalau fundamen atau aturan-aturan primordial itu dicampakkan. Nilai-nilai bisa dicampakkan. Agama bisa dicampakkan. Termasuk juga Kitab Suci pun bisa dicampakkan sejauh-jauhnya. Itu sudah terjadi. Bahkan saat ini kita tak perlu terlebih dahulu memegang Kitab Suci itu untuk kemudian mencampakkannya. Karena cukup dengan tak usah menyentuhnya sama sekali itu sama artinya dengan mencampakkannya.

Inilah zaman kerancuan. Zaman post-Jahiliyah. Zaman dimana orang-orang semakin sedikit untuk peduli pada prinsip suci dariNya. Sangat berbeda dengan kejahiliyahan di masa lalu, di mana prinsip suci belum diwahyukan dan manusia bisa berbuat semaunya. Sekarang, sedikit manusia yang mengenal fitrah dirinya yang suci. Bisa saja mereka tak ingin kembali menjadi diri mereka yang dulu; yang tercipta dan terlahir tanpa dosa.

Inilah dunia. Yang semakin mengasyikkan. Yang semakin kuat menarik-narik manusia untuk jatuh ke jurang kelupaan, kelalaian, ketidaktahuan, dan termasuklah kebodohan.

Tapi, di saat yang begitu pula aku masih asyik berbicara sendiri...