Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Konsekuensi | Historis, Aktual, dan Fiuceristis

12 Juni 2018   22:17 Diperbarui: 12 Juni 2018   22:35 365 2 0
Konsekuensi | Historis, Aktual, dan Fiuceristis
Ilustrasi: Karya Pribadi

Yaaah... namanya juga hidup, pasti kita berhadapan dengan realitas beserta segala fenomenanya. Tak mungkin kita memandang kehidupan ini sebatas pada kondisi aktualnya saja, ya kan, ya kan? Karena, di balik yang aktual itu pasti ada akibat atau konsekuensinya, apakah itu baik atau buruk.

Seharusnya itulah yang menjadi pertimbangan manusia untuk lebih berhati-hati dalam berperilaku di muka bumi. Dan kalau harus melihat kondisi kita sekarang (yaah.. tahu sendiri-lah ya), nampaknya kita sudah sedemikian mengabaikan persoalan konsekuensi tadi.

Saya jelas tak ingin kita terpecah-belah. Tapi, nampaknya kondisi saat ini sangat berpotensi akan melenyapkan kata "Tunggal Ika" sehingga yang ada tinggal Bhinneka-nya saja. Dan terkait siapa orang yang menginginkan hal ini terjadi, yaitu perpecahan pada keutuhan bangsa ini, rasanya pingin saya tempeleng kepala tuh orang.

Yang jelas kita jadi ribut, dan kayaknya bakalan semakin ribut (tapi ini kayaknya lho ya). Kita bengak-bengok mendukung si ini dan si itu sampai-sampai kita lupa bahwa mayoritas rakyat Indonesia ini beragama Islam. 

Jadi kalau misalnya saya membenci suatu pihak, itu sama artinya dengan saya membenci saudara seiman, kan begitu? Yang pasti itu dilarang agama. Dan saya selalu berusaha bersabar supaya kebencian itu tidak menghampiri diri saya, apalagi kalau sampai mengendap di dalam hati. Astaghfirullah, jangan sampai, jangan sampai. 

Walaupun begitu, yang namanya perasaan tidak suka itu pasti ada. Wait a minute, maksudnya bukan terhadap subjeknya, melainkan kepada perbuatannya. Perbedaan antara benci dan tidak suka itu pun tidaklah sama, bagi saya. Kalau saya membenci seseorang, misalnya, saya jelas tak akan mau berurusan dengannya, bahkan bisa saja saya akan mencari-cari kesalahannya dan membuat fitnah-fitnah yang sangat ekstrim. 

Lha iya, kalau sudah seperti itu kurang ekstrim apalagi, coba? Astaghfirullohal'adhim... Bedanya, kalau saya tidak menyukai sesuatu dari seseorang (sikap atau perbuatannya), saya tentu masih akan mau memberi masukan. Dari situ, kita tentu sudah tahu fenomena keributan ini dilandasi atas kebencian atau sikap antipati. Yang mana hayooo...?

Saya tentu berani bilang kalau saat ini kita sedang tak menyadari bahwa kita sedang dipecahbelahkan. Ini aneh, karena kita bukan piring keramik atau gelas kaca yang bisa begitu mudahnya terpecahbelah berserakan di lantai ketika tak sengaja tersenggol. Kita manusia! Dan rasanya, tak ada yang lebih hina daripada membawa-bawa agama untuk melegitimasi kepentingan. 

Juga, tak ada yang lebih gawat ketika kebenaran dilepaskan dari kebaikan. Lha, kalau mau benar ya juga harus baik, kan begitu? Mana mungkin kebenaran itu berdiri sendiri. Kebenaran tak akan bisa didekati tanpa menempuh jalan atau cara yang baik, karena unsur intrinsik di dalam kebaikan dan kebenaran tersebut ya kebaikan dan kebenaran itu sendiri. Jangan coba-coba untuk menceraikannya. Karena akan lenyap kebaikan dan kebenaran tanpa salah satunya. 

Back to the point. Kalau harus dikaitkan dengan agama, sebenarnya agama pun sangat menekankan ihwal konsekuensi tadi. Konsekuensi yang paling jauh itu adalah apa yang disebut surga dan neraka. 

Ya, memang itu terlalu jauh, karena itu adalah ujung dari cerita kehidupan manusia. Nyatanya, pun seringkali dimaknai secara simplistis, bahwa demi mendapatkan surga, kita boleh melakukan suatu keburukan yang itu sudah tentu tak dibenarkan. Ngomong ya semaunya. Bertindak juga ya semaunya. Padahal kita tak seharusnya mengabaikan konskuensi terdekat, terutama dalam konteks sosial. 

Kalau kita melakukan sesuatu, pasti akan ada dampaknya bagi orang lain, walaupun yang kita lakukan itu bukanlah sesuatu yang besar. Itu konsekuensi terdekat --di samping konsekuensi terhadap diri sendiri -- yang tak seharusnya kita abaikan, tak seharusnya kita langkahi begitu saja. Wajar saja, karena dalam hidup tak terlepas dari yang namanya terpengaruh dan mempengaruhi atau contoh mencontoh, walaupun itu juga secara tak langsung. 

Orang yang memikirkan soal pengaruh-mempengaruhi inilah orang yang selalu berhati-hati dalam berperilaku. Why? Coz, dia tentu akan berpikir bahwa perbuatannya akan mengakibatkan pengaruh yang besar bagi orang lain. Syukur-syukur kalau itu kebaikan. Pada kenyataannya, bisa saja sesuatu yang sederhana, yang kecil itu, akan menyebabkan suatu fenomena yang besar kan? Bukannya tak mungkin. Dan lagi-lagi, jangan disepelekan begitu saja.

So... sebenarnya yang mesti kita lakukan adalah berpikir panjang terhadap apa yang kita lakukan saat ini. Jangan menumpulkan pikiran. Susah nanti. Siapa yang mau mengasahnya, coba? Tapi itu harus karena manusia adalah makhluk historis, temporer, dan fiuceristis. Apa yang kita lakukan sekarang jelas akan menentukan apa yang akan terjadi di hari esok. 

Untung dan ruginya pun tidak hanya mengena pada orang lain, melainkan juga pada diri sendiri. Kecuali, kalau Anda berjualan jilbab di bulan penuh barokah ini, sudah tentu prospeknya bagus. Eh maaf, gak nyambung, kwkwkwkw...

Yang jelas, saya nggak mau melakukan sesuatu yang itu bisa semakin memperburuk kondisi bangsa ini!! Udah gitu ajah...[]