Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

"Agama untuk Agama" itu "Nothing"

16 Mei 2018   17:12 Diperbarui: 16 Mei 2018   17:29 486 3 1
"Agama untuk Agama" itu "Nothing"
Gambar: koleksi punyakuh

Bicara soal agama dan nasionalisme, barangkali kedua hal itu masih menjadi pembahasan dikotomis bagi sebagian orang. Ada yang masih membicarakan agama hanya dalam konteks agama itu sendiri, dan ada juga yang membicarakan agama dalam konteks yang lebih luas. Kalau saya sih lebih suka yang kedua.

Soalnya suka bosan kalau pembahasan agama dibatasi hanya dalam perspektif agama itu sendiri; kayak misalnya hanya ngomongin soal iman iman iman dan iman melulu (terus kalau ada yang bertanya cara supaya beriman, gimana? Kan iman itu bukan asal percaya buta. Kalau percaya secara buta ya itu gak pakai akal namanya).

And... kalau bisa ya relasikan juga pembahasa agama ke dalam aspek-aspek humaniora. Itu bisa saja. Cuma masalahnya, para agamawan (atau orang-orang beragama lainnya) mau atau tidak ngomongin agama "kesana-kesini". Ibaratnya, orang yang membahas "agama untuk agama" itu kayak lari di tempat. Jadi ya gak kemana-mana. Di situ-situ aja.

Begitupun ketika kita bicara soal nasionalisme. Mungkin saja masih ada yang begitu anti bicara tentang persoalan kebangsaan. Bisa karena anti Pancasila. Bisa karena menganggap negara ini tidak sejalan dengan agama. Atau mungkin ada faktor-faktor lain yang saya tak tahu tapi Anda sekalian tahu itu.

Maka kalau seandainya negara kita punya program untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme yang itu harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk agawaman, saya yakin bakal ketahuan mana orang-orang yang bersikap oposisional terhadap nilai-nilai kebangsaan negeri ini.

Tapi ya sudahlah, saya tak mau membahasnya lebih jauh. Walaupun saya tentu pingin tahu siapa-siapa saja yang bersikap seperti itu. Saya penasaran apakah kita masih sevisi berlandaskan pada kesatupahaman kita atas Pancasila atau tidak. Kalau tidak mencintai negeri ini, lalu mau mencintai negeri mana lagi? Terang-terangan sajalah. Tak perlu menipu diri sendiri.

Tapi toh agama dan ajarannya bukanlah untuk agama dan penganut agama itu sendiri. Agama untuk kemanusiaan, termasuklah di situ dalam hal kebangsaan. Agama bukan untuk sesuatu yang partikularistis, melainkan untuk sesuatu yang lebih umum, lebih universal, lebih global, dan bukan gombal-gambel.

So, agama haruslah menyentuh segala macam aspek kehidupan bahkan terhadap hal-hal yang paling modern, karena agama memang harus dapat mengakomodasi segi-segi paling aktual dalam kehidupan. Inilah kenapa saya meyakini agama saya, karena saya mendapati hal itu padanya. Lagipula, dari situlah saya sadar bahwa ini soal bagaimana kita "menggunakan" agama.

Kalau kita tidak bisa membawanya (maksudnya mengimplementasikannya) ke dalam kehidupan saat ini, yang ada malah sikap konservatif atau kolot. Padahal agama tentu didesain Tuhan supaya bisa menjangkau atau melintasi ruang dan waktu, yaitu pada masa agama itu diturunkan, masa saat ini maupun nanti. Agama tentu harus mutakhir, harus modern semodern modernnya melampaui modernitas zaman itu sendiri.

Dari hal demikian, nampaknya kita harus sadar bahwa mempelajari agama bukan hanya mempelajari agama itu sendiri, melainkan juga mempelajari budaya maupun konstelasi sosial (apakah itu politik, ekonomi, dan lain-lain), aspek psikis masyarakatnya, dan termasuklah mempelajari kemajuan peradaban yang melingkupi agama tersebut pada saat ia diturunkan.

Karena agama memang tak lepas dengan hal-hal tadi dan jangan pula dilepaskan darinya! Agama macam apa yang terpisah dari segi-segi kehidupan dan kemanusiaan? Bahwa agama adalah petunjuk bagi manusia supaya kita tahu cara menyikapi kehidupan beserta konstelasi permasalahan-permasalahan di mana kita hidup.

Agama bukan pula barang mentah. Agama harus selalu dipahami, diolah oleh akal sehat manusia supaya bisa diimplementasikan ke dalam berbagai permasalahan aktual kita.

Analoginya, yang namanya buah-buahan itu dari dulu ya tetap sama. Tapi karena manusia memiliki akal untuk mengolah, maka buah-buahan itu menjadi berbagai olahan makanan dan akan selalu ada makanan jenis baru yang berbahan dasar buah-buahan, yang tentu esensi dari buah-buahan itu selalu bermanfaat.

Begitu juga dengan berbagai hal mendasar di muka bumi ini. Maka memahami agama tidak seharusnya dilakukan secara tekstual belaka. Juga tidak seharusnya hanya bergantung pada teks-teks keagamaan saja. Ada esensi yang harus selalu ditemukan karena begitu luasnya agama mencakup segala macam permasalahan.

Tapi esensi itu tak akan bisa ditemukan kalau kita membatasi pemahaman kita hanya pada substansi agama. Apalagi kalau menganggap perintah agama sebagai kepatuhan mutlak dan bukan pilihan sebagaimana manusia adalah makhluk yang bebas memilih. Sikap seperti itu sudah cukup untuk dijadikan indikator bagaimana kualitas intelektual dan spiritual.

Agama Tidaklah Hebat!

Bukanlah agamanya yang hebat, melainkan manusianya. Bukanlah dengan banyak membaca kitab-kitab, seseorang akan menjadi pintar. Bukan hanya sekedar menghapal seluruh ayat-ayat saja seseorang bisa dikatakan tahu agama. Karena itu semua hanyalah sarana pendukung. Kalau pun kita mengakui bahwa agama memiliki kehebatan, di situlah kita harus sadar bahwa tanpa kehebatan manusia, kehebatan agama hanyalah nothing.

Ya, yang hebat itu justru manusianya dan apa yang ada di dalam dirinya; kemampuan internalnya. Hebatnya seorang manusia ditentukan oleh seberapa intens dia menggunakan rasionya untuk memahami dan menggunakan hatinya untuk meresapi suatu fenomena (termasuklah di sini ayat-ayat Tuhan).

Di situlah pengalaman akal sehat (pikiran dan perasaan) personal tadi membawa dirinya naik semakin tinggi kepada pemahaman-pemahaman baru yang tak terbatas. Orang yang tak pernah berolah-rasa pasti tak akan ada kesan pada dirinya ketika melihat suatu keburukan terjadi. Baginya itu hanya sebatas tontonan.

Melihat wakil rakyatnya centang-prenang pun dia tak akan acuh, seolah-olah itu bukan urusannya dan tak ada kaitan dengan dirinya sama sekali. Orang yang kurang melatih akal sehatnya untuk mengembara menelusuri fenomena-fenomena kehidupan, tak akan bersikap kritis dan tak memiliki kesan afektif ketika "membaca" suatu fenomena-fenomena tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2