Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memang, Tuhanlah Sumber Ketidakadilan

13 Maret 2018   20:11 Diperbarui: 13 Maret 2018   20:20 555 2 1
Memang, Tuhanlah Sumber Ketidakadilan
Sumber Gambar: cyberdakwah.com

Kalau ada yang mengatakan ketidakadilan di muka bumi ini bersumber dari Tuhan, saya mau bilang apa lagi, bahwa itu memang benar. Tapi saya tidak bisa menerima kalau ada yang mengatakan Tuhan juga bersifat tak adil. Itu mustahil. Itu absurd. Pernyataan semacam itu tak logis, melainkan hanya ceplas-ceplos perkataan mulut yang tak menggunakan pikiran.

Padahal kita pun tahu, bahwa Tuhan menurunkan agama yang substansinya merupakan perintah-perintah untuk berbuat baik, termasuklah perintah menegakkan keadilan. Jadi, Tuhan memang menciptakan ketidakadilan untuk kita menegakkan keadilanNya. Itulah yang seharusnya. Itulah hakikat di balik ketidakadilan di muka bumi, yang apabila kita menjalankan perintahNya dengan baik, kita akan mendapatkan penghargaan dariNya (bisa berupa pahala atau hal-hal lain).

Memang ihwal kekurangpahaman seseorang tentang Tuhan tadi adalah permasalahan klise. Jangankan soal Tuhan, mengenai hakikat kehidupan saja pun masih banyak yang kurang paham. Permasalahan-permasalahan semacam itu bisa dikatakan sebagai pencarian seseorang akan hakikat kehidupan, dimana dia belum menemukan suatu jawaban yang benar atas pencariannya. Akhirnya konklusinya pun salah. Tuhan dikatakan begini-begitu, dan manusianya pun tak tahu bagaimana menyikapi kehidupan.

Permasalahan di atas sebenarnya klise. Setiap orang pasti mengalaminya, hanya saja dia tak sadar. Dia baru akan sadar ketika dia menemukan jawaban-jawaban atas pencarian-pencariannya.

Inilah bukti keterbatasan manusia. Manusia yang kadang mensubordinasi Tuhan dan dengan lucunya menganggap Tuhan tak lebih pintar, tak lebih adil, tak lebih hebat dari manusia itu sendiri.

Kita memang terlalu hobi berspekulasi, berapriori ria mengatakan suatu pernyataan tanpa berlandaskan pada pengetahuan yang benar. Bukan hanya lucu, tapi juga absurd. Saya tak habis pikir soal ini.

Sama sekali tak ada rasa takut terhadap Tuhan lantaran kekeliruan dalam memahami apa itu Tuhan, siapa itu Tuhan, dan bagaimana Tuhan itu. Padahal Dialah yang mesti ditakuti. Kalau bukan Dia yang paling adil, paling tahu, paling berkuasa, lantas siapa lagi yang memiliki sifat-sifat demikian? Apakah kita, yang jelas-jelas tak mungkin mempunyai sifat demikian?

Persoalan relasi manusia dengan Sang Pencipta, memang bukan persoalan yang sederhana. Bukan cuma soal menyembah dan menjalankan ritual-ritual peribadatan. Tapi juga ada usaha-usaha yang dilakukan secara terus-menerus. Tuhan yang terasa jauh --padahal Dia sangat dekat-- harus didekati. Maka tak ada rasa rindu kepadaNya kalau manusia tak mau mengenalNya kembali dan mendekatiNya.

Orang-orang tertentu tak akan merasa puas dengan hanya menyembahNya. Tuhan yamg terasa jauh tadi, harus didekati. Inilah rasa haus yang selalu menggelisahkan orang-orang tertentu, yaitu sedikitnya manusia dari sekian banyak manusia yang lalai kepada Penciptanya.

Ihwal ketuhanan pun bukan persoalan mudah. Tanpa menggunakan segala daya pikir dan perasaan, tak akan bisa seorang manusia sampai kepada pengenalan tentang bagaimananya Dia. Tak ada kata cukup maupun kata selesai. Dia pun tak bisa dikenali secara utuh, melainkan sedikit sekali apa yang kita ketahui tentangNya. Apa yang kita ketahui tentangNya tidaklah sama dengan ilmu-ilmu yang kita pelajari. Dia bukan subjek ilmu pengetahuan.

Bahkan pengetahuan yang disebarNya di muka bumi ini pun tak akan mampu kita miliki secara utuh. Siapa kita? Manusia sok tahu yang seringkali merasa tinggi. Bukannya kita dari tanah dan akan ditanam di bawah tanah? Bahkan ketika kita di bawah tanah kelak, bangkai kita pun tak lebih tinggi letaknya dari telapak kaki orang lain.

Manusia yang tercipta dari tanah, tak pantas merasa menjadi awan di atas sana.