Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Hari Gini Beragama?

14 Februari 2018   12:11 Diperbarui: 14 Februari 2018   12:47 374 0 0
Hari Gini Beragama?
Ilustrasi: hdmessa.files.wordpress.com

Melihat perkembangan ilmu dan majunya peradaban kita, saya jadi berpikir, kalau memang kita merasa lebih pintar, lebih canggih daripada orang-orang terdahulu yang tak pernah sekolah, ngapain pula kita masih mengagumi dan menganut agama orang-orang yang tak pernah sekolah? Sekedar catatan, tadinya saya mau menyebutkan nama-nama itu satu persatu, tapi tak jadi karena khawatir dianggap "mengapa-apakan" agama. Lagian saya tahu kalau Anda pun pasti paham maksud saya, apalagi kalau bacanya sampai selesai.

Sekarang kalau kita pahami kehidupan saat itu, para pendiri agama tadi  kan tak pernah baca buku, tak pernah sekolah, tak pernah mendapatkan gelar kesarjanaan, bahkan tak tahu dengan ilmu-ilmu kita saat ini. Terdidik? Ya terdidik. Tapi beda yang mereka pelajari. Kalau mereka begitu paham ilmu tentang akhlak, lha sedangkan kita lebih fokus pada ihwal profesionalitas yang tujuannya ke arah kerja-kerja-kerja, yang ujung-ujungnya jadi uang-uang-uang.

Bodoh sekali kita kalau bisa begitu bangga dengan kemajuan pendidikan dan peradaban saat ini, di sisi lain, kita masih menganut agama orang-orang yang tak pernah sekolah. Kita kan lebih pintar? Permasalahan dan keterbatasan hidup kita sudah terselesaikan sedikit demi sedikit. 

Terus, kenapa kita tak idolakan saja orang-orang saat ini yang jenjang pendidikannya tinggi dan kosmopolitan di sana-sini itu? Atau, kenapa orang-orang pintar kita saat ini tak membuat saja agama yang lebih canggih, lebih hebat, lebih komprehensif, lebih modern daripada agama-agama di masa lalu itu? Bisa nggak?

Tapi nyatanya saya yakin kita tidak berbuat demikian. Kita tak bisa membanggakan hal itu. Tidak bisa kita mengatakan diri kita ini lebih hebat atau lebih canggih daripada orang-orang di masa lalu cuma karena peradaban, teknologi, kualitas maupun kuantitas buku kita, atau soal keadaan gedung sekolah kita lebih maju. Mereka memang tak pernah sekolah atau tak pernah baca buku. 

Tapi jangan salah, orang-orang seperti mereka  justru memperoleh pendidikan ilmu (kebijaksanaan) dengan langsung mengorientasikan dirinya kepada Sang Pencipta sebagai pemilik ilmu dan nilai-nilai tertinggi. Sedangkan kita, orientasi itu masih terhalangi oleh banyak hal sehingga wajah kita tidak langsung menatapNya dan bias oleh-oleh kepentingan lain yang sebenarnya tidak begitu penting. Kita memang harusnya malu karena nilai-nilai primordial itu sekarang kita anggap rendah.

Makanan kita, pakaian kita, akomodasi hidup kita lainnya, termasuk ilmu kita, itu semua sudah ditanggung dan disediakan Tuhan. Tapi barangkali kita menganggap kalau hidup ini semacam improvisasi dimana Tuhan melepaskan keperluan kita begitu saja dan kita dibiarkanNya dalam kebodohan. Seolah-olah Tuhan bilang kepada kita, "Kalau mau pintar ya cari sendiri. Hidup ya hidupmu kok." Dan Tuhan kita anggap melepaskan diriNya sampai-sampai kita dengan songongnya mengklaim kalau ilmu-ilmu kita itu 100% diperoleh atas usaha kita sendiri. Terus, Tuhan dimana kita letakkan? Mungkin Tuhan cuma nonton kita di atas langit sambil selonjoran dan makan snack.  

Saya jadi heran, Tuhan macam apa yang bersikap begitu? Lha, kan Dia sendiri yang menghendaki kita hidup, kok malah Dia membiarkan kita begitu saja? Tidak. Tuhan tidak bersikap demikian. IlmuNya dimana-mana, dan tentu bukan cuma dapat diperoleh di gedung sekolah.

Kita pun tahu, kalau sampai sekarang kebenaran itu tidak akan bisa diperoleh atau diproduksi oleh akal. Kebenaran itu tidak ada di dalam diri kita dan tak akan ada dimana-mana selain ada pada Dia, yaitu Sang Pencipta. Di sinilah arti menganut suatu agama, disamping utilitasnya sebagai jalan menuju Tuhan. Lagipula, agama yang mengandung kebenaran adalah sesuatu yang lain yang tak bisa ditemukan oleh manusia-manusia atau peradaban-peradaban paling canggih sekalipun.

Mau dengan apa kita mencari kebenaran? Dengan mesin pencari Google yang katanya serba tahu itu? Lha, waktu saya tanya "siapa aku?" saja Google tak tahu kok...

Agama Itu kan Untuk Orang Bodoh

Ya, agama itu memang untuk orang bodoh. Itu tak bisa dinafikan. Agama adalah pilihan bagi mereka yang tahu hakikat dirinya yang berada dalam kubangan dosa dan kebodohan sehingga mereka merasa mesti mencari jalan menuju kepada fitrah mereka yang lahir dalam keadaan suci. Mereka mencari kesejatian hakikat diri dalam kebodohan yang memang mereka sadari. 

Kalau sudah merasa benar dan yakin tak pernah salah, buat apa menganut agama? Kalau yakin sudah mendapatkan kebenaran dengan kemampuan pribadi, buat apa menganut agama? Kalau sudah hebat dan merasa suci, buat apa menganut agama? Kalau sudah bisa sombong dan merasa mampu atas segalanya, buat apa menganut agama? Agama juga inheren dengan persoalan kesadaran. Yaitu, orang yang sadar bahwa dirinya memang bodoh dan tak seharusnya dia menyombongkan diri atas kepintarannya.[]