Mohon tunggu...
Iya Oya
Iya Oya Mohon Tunggu... Administrasi - Laki-laki

90's

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Datangnya Azab Tuhan Bukan Karena Agama

10 Februari 2018   22:16 Diperbarui: 10 Februari 2018   22:33 898
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kalau melihat kondisi kita setiap hari, setiap saat, dimana selalu saja ada tindak keburukan-keburukan baru, saya jadi makin khawatir kalau azab Tuhan akan datang seketika. Yang mesum-lah, yang korupsi-lah, yang joget gak karuan-lah, pokoknya ada aja yang begitu itu. Apalagi kita ini beragama. Mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

Saya pikir, kalau Tuhan memang menakdirkan azab atas suatu umat atau bangsa, pasti itu bukan berdasarkan agama. Ya, bukan agama. Mau bangsanya beragama Islam, Yahudi, Kristen, atau yang tak beragama sekalipun, semua bisa kena jder diazab Tuhan.

Apa artinya beragama kalau tidak menjalankan ketentuan agama? Kita beragama, tapi kalau lebih banyak yang berkelakuan buruk, ya itu sama saja nothing. Lalu agama itu apa? Apa agama cuma sekedar dipercaya? Apa jilbab itu sekedar identitas atau perlengkapan perempuan thok?

Mungkin, berdasarkan apa yang saya lihat, saya akan mengambil tiga kategori dari orang-orang beragama.

Pertama, orang-orang yang cuma sekedar beragama dimana orang-orang ini memiliki kelakuan atau pola hidup yang sama sekali tidak agamis. Agamanya cuma identitas atau label. Bahkan bukan mustahil dia tak bisa membaca Kitab Suci. Lha kalau Kitab Suci saja dia tak bisa membacanya, bagaimana dia bisa mengetahui esensi agama?

Kedua, adalah orang-orang yang beragama tapi tidak sampai kepada Tuhan. Maksudnya, orang-orang ini tahu apa itu agama, tapi pengetahuannya tidak sampai kepada tahap makrifat. Dia tidak kenal apa itu yang disebut Tuhan, dan siapa itu Dzat Tuhan. Padahal dua hal ini bisa dikatakan sebagai muara agama. 

Kalau seseorang mau mengenal DzatNya, maka pertama-tama dia harus mengenal apa itu Tuhan. Ini dua tahapan yang berbeda. Yang pertama ditempuh dengan nalar-logika atau daya pikir, dan yang dengan daya rasa. Bukannya apa, karena mayoritas manusia pun masih salah atau tak tahu kategori-kategori yang disebut Tuhan itu. Kebanyakan orang mencampuradukkan sifat-sifat makhluk (ciptaan) kepada sifat-sifat Khalik (Pencipta).

Yang ketiga, adalah orang-orang yang memang sudah komprehensif dalam beragama maupun bertuhan. Orang-orang semacam ini cuma tinggal berurusan dengan persoalan akhlak; Bagaimana membersihkan dirinya dari dosa, bagaimana berperilaku benar tapi juga dengan cara yang baik (karena banyak juga orang yang cuma pingin benar tapi seringkali caranya gak baik), maupun intens mendekatkan diri kepada Penciptanya.

Jadi, kembali soal azab Tuhan, sebenarnya bukan agama yang lagi kita tekankan, melainkan perbuatan kita. Bangsa ini sudah cukup dalam hal agama, tinggal bagaimana kita mau benar-benar patuh pada perintah Tuhan, dan tidak melakukan hal-hal yang dilarangNya. Rasanya bener-bener memalukan kalau kita beragama tapi hidup seolah-olah tak beragama.

Tak usah-lah kita terlalu yakin kalau azab Tuhan tidak mengenai kita suatu hari nanti. Gimana kita bisa yakin kalau kita yang menganut agama sudah mengabaikan apa yang kita anut? Bisa dikatakan penghinaan itu namanya. Menghina Tuhan, menghina Nabi. Ibarat mencampakkan Kitab Suci dan lebih mengandalkan identitas atau kostum keagamaan belaka. Itu lucu. Itu parah!

Apakah kita memang sudah tercerabut dari prinsip kita, itu soal yang saya tak mau bahas di sini. Saya cuma ingin mengajak seluruh saudaraku, apapun agamanya, untuk sama-sama kembali mengenal prinsip hidup kita. Jelas, supaya kita tak dibodohi orang lain dan tak membuat Tuhan marah kepada kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun