Mohon tunggu...
Satya Anggara
Satya Anggara Mohon Tunggu... Lainnya - Academic Researcher and Investor

Menyajikan tulisan seputar dunia investasi, bisnis, sosial, politik, humaniora, dan filsafat. Untuk korespondensi lebih lanjut, silahkan hubungi melalui kontak yang tertera di sini.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Reuni dengan Benjamin Graham: Kembali Waras sebagai Investor di tengah Pandemi

1 Juli 2020   03:18 Diperbarui: 1 Juli 2020   03:55 390
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar diambil dari: www.seekingalpha.com

Pandemi Covid-19 menjejakkan kakinya di Indonesia pada awal tahun 2020 tanpa kata permisi sebelumnya. Setelah sebelumnya pemerintah dan masyarakat berguyon bersama tentang Sang Virus yang konon katanya tak akan mampir ke Indonesia karena kalah saing dengan virus dan kuman lokal, kini gantian Sang Virus menertawakan kita semua yang dibuat merana akibat minimnya persiapan dan bodohnya keangkuhan yang kita pertontonkan. Kini, sebagaimana nyawa-nyawa manusia dibuat tidak berdaya menghadapi ganasnya virus tak bervaksin ini, perekonomian juga berjalan beriringan dengan nasib kita. Terjadi perlambatan ekonomi secara signifikan, entah akibat operasional bisnis yang disetop PSBB atau akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada kuartal pertama 2020 mencerminkan perlambatan ini. Pasca menyentuh level tertinggi tahun ini pada tanggal 15 Januari 2020 di angka Rp. 6.348, IHSG terjun bebas ke titik terendah tahun ini pada tanggal 24 Maret 2020 di angka Rp. 3.911 (indopremier.com). Sejumlah emiten bahkan tercatat mengalami koreksi hingga lebih dari 50%. Tidak sedikit analis yang membandingkan kondisi ini dengan krisis ekonomi yang terjadi di masa lalu seperti misalnya krisis tahun 1998 atau 2008. Beberapa menyatakan kita telah memasuki masa resesi ketimbang krisis, beberapa lainnya menyatakan pemulihan ekonomi mungkin akan memakan waktu beberapa tahun. Kini kendati mulai terjadi pelonggaran dengan diberlakukannya kebijakan New Normal, kegiatan bisnis, menurut sejumlah pengamat, tidak akan serta-merta beroperasi 100% bahkan hingga awal tahun 2021 nanti.

Anehnya, di tengah pesimisme yang merebak terkait masa depan ekonomi Indonesia, kuartal kedua 2020 menunjukkan terjadinya rally pada sejumlah saham. Beberapa bahkan hampir memulihkan kembali harganya ke level semula sebelum terjadinya pandemi. IHSG merangkak naik dan saat ini (1/7/2020) bergerak di sekitar level Rp. 4.900 hingga Rp. 5.000. Seakan acuh terhadap kondisi ekonomi di lapangan, harga saham bergerak dengan tempo dan iramanya sendiri. Pertanyaannya, kok bisa?

Jawaban sederhananya terletak pada sifat alamiah dari pasar saham itu sendiri yang pada dasarnya adalah pasar. Pasar merujuk pada tempat atau proses yang menjembatani penjual dan pembeli dalam melakukan pertukaran dan pada gilirannya juga memicu terjadinya ekuilibrium harga melalui mekanisme tawar-menawar (Purwanti, dkk., 2012). Bagaimana terjadinya formasi harga, dengan kata lain, ditentukan oleh konsensus para pelaku di dalamnya, yakni penjual dan pembeli (dan dalam beberapa kasus, regulator seperti pemerintah). Masalahnya, penentuan harga bukanlah sesuatu yang eksak sebagaimana menentukan besaran tekanan di fisika atau nilai pH di kimia. Jika pada suatu waktu para pelaku pasar sepakat bahwa barang A bernilai Rp. 1.000.000, sedangkan besoknya semua sepakat nilainya menjadi Rp. 100, maka sejumlah itulah nilainya.

Lantas, apa yang menyebabkan munculnya kesepakatan ini? Tentu para pelaku tidak asal-asalan menuliskan nominal sebagaimana menuliskan angka togel (meski dalam beberapa kesempatan, hal inilah yang terjadi). Ada alasan bagi sesuatu untuk menjadi lebih berharga dibanding hal lain. Jika dalam ajaran ekonomi klasik alasannya terletak pada utilitas yang diasumsikan objektif, dalam ajaran neoklasik kita diperkenalkan dengan faktor lain yang lebih subjektif seperti sentimen pribadi. Ini mengapa lukisan bisa lebih berharga dibanding berhektar-hektar perkebunan sawit dalam kasus tertentu, misalnya.

Secara khusus di dalam pasar saham, stimulus utama dari pergerakan harga adalah ragam berita yang diinterpretasikan secara bervariasi oleh para pelaku. Di atas, misalnya, kita telah melihat bagaimana pemberitaan mengenai Covid-19 menciptakan sentimen negatif di awal tahun pada pergerakan harga saham dan bagaimana pengumuman kebijakan New Normal memberikan sentimen positif pada gilirannya. Rumitnya bertransaksi di pasar saham, kita tidak selalu dapat secara tepat meramalkan apakah suatu berita akan memberikan sentimen positif atau negatif terhadap pergerakan harga saham. Kita bahkan tidak tahu secara pasti berita mana yang akan berdampak signifikan. Semua bergantung pada bagaimana para pelaku menginterpretasikan informasi yang ada dan mencapai konsensus mengenai dampaknya terhadap kinerja emiten dan pergerakan harga saham. Beberapa saham, misalnya, bergerak naik saat pengumuman pembagian dividen kendati yield dan payout ratio-nya kecil, sementara beberapa lainnya berlawanan.

Melihat betapa longgarnya hubungan antara situasi ekonomi dengan pergerakan harga saham serta sulitnya menebak secara akurat dan konsisten pergerakan tersebut, penulis teringat kepada mendiang Benjamin Graham, sosok yang dianggap sebagai guru besar di dunia pasar modal. Di dalam magnum opus-nya yang berjudul "The Intelligent Investor", Graham telah jauh-jauh hari memberikan peringatan sekaligus penekanan terkait dunia pasar modal, termasuk di dalamnya pasar saham, ketika pada bab pertama sang guru besar mendefinisikan pemilahan antara apa yang disebut sebagai "investasi" dengan apa yang disebut sebagai "spekulasi". Pemilahan ini hingga sekarang menjadi populer di kalangan pelaku pasar modal,

'An investment operation is one which, upon thorough analysis promises safety of principal and an adequate return. Operations not meeting these requirements are speculative.'

Pembacaan awam terhadap kutipan ini mensyaratkan kegiatan investasi memuat sekurang-kurangnya tiga hal: (1) adanya analisis mendalam terkait instrumen investasi; (2) tingkat keamanan yang tercermin dari selisih nilai intrinsik instrumen jika dibandingkan dengan harga yang tertera; serta (3) imbal hasil yang memadai. Menariknya, dalam halaman-halaman selanjutnya di buku yang sama, Graham secara implisit menyatakan bahwa sulit bagi kita untuk menghindari sisi spekulatif dari pasar modal. Misalnya saja pada bagian ini,

'In most periods the investor must recognize the existence of a speculative factor in his common-stock holdings. It is his task to keep this component within minor limits, and to be prepared financially and psychologically for adverse results that may be of short or long duration.'

Juga pada bagian ini,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun