Mohon tunggu...
satria winarah
satria winarah Mohon Tunggu...

Mahasiswa universitas budi luhur hobi menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Seandainya Kau Tahu Warna Angin

10 Maret 2014   03:26 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:06 95 0 0 Mohon Tunggu...

Angin menerpa seluruh perbukitan dengan semilir anggunnya yang menyejukkan. Saat itu, Sekar berdiri tegak tepat dibawah sebuah pohon yang dari sana ia memandang hamparan hijau hutan yang berbaris menutupi seluruh dasar lembah yang curam. Sekar terserap ke pemandangan tersebut amat dalam. Beberapa saat tidak menyadari keberadaannya. Aku tidak mau menjadi orang buta, hingga hilang tenggelam segala makna, dan gerak tak punya arti. Sekar tahu, sudah berapa orang yang tertipu oleh matanya sendiri. Bahkan dahulu, ia juga begitu. Dibohongi oleh indra.

Tapi semua itu sudah lama berlalu, dan ia sudah tidak lagi dapat dibohongi begitu saja oleh indranya. Sayangnya, tidak hanya indra yang mengkhianati dirinya. Apa yang ia kira sebagai akal sehat juga terkadang menipunya dengan keji. Sampai suatu ketika, baginya lebih baik, pikiranku menipuku, maka aku tidak akan melibatkannya disejumlah waktu. Jadi lantas kemana? Kembali ke perasaan sebagaimana ketika akalnya belum tumbuh dewasa? Tidak juga.

Hanya saja. Ada satu hal. Satu hal yang terkesan seperti perasaan tapi tidak bersifat rasa. Sebuah pengertian yang muncul tiba-tiba, dimengerti, seperti terdengar, tapi tidak dengan telinga. Aku tidak tahu apa itu.. tapi terkesan seperti ilham. Apakah itu ilham? Tidak ada kecondongan kemanapun ketika ia tiba. Tidak ke kanan maupun ke kiri. Begitu tawar...

Sekar masih memikirkan itu. Tapi juga memikirkan yang lain. Aku memikirkan yang tidak terpikirkan, pikir Sekar. Mungkinkah? Kenapa tidak sedikit saja tunjukkan, bukankah akan lebih baik..? Sesungguhnya terdapat tanda, bagi orang-orang yang berakal. Tapi aku belum termasuk orang-orang yang berakal..

Renungnya tersadar oleh hembusan angin yang cukup keras, menerpa wajahnya dan menyibak rambutnya. Mataku perih. Sekar terpejam sebentar, berusaha memulihkan matanya. Tapi tiba-tiba, itu belum seberapa. Sekar terkejut. Lagi-lagi itu bukan aku...

***

Ada banyak hal yang tak terjelaskan. Tak bisa diungkapkan seperti apa, kecuali sama-sama mengalaminya. Tentu, seperti rasa manis, pedas, dan sebagainya.

Ada banyak hal pula yang tak terpikirkan. Banyak sekali.. hingga hanya bisa dipercaya. Dan nyatanya kita bisa percaya begitu saja. Ketika ini, kita tahu kita mencampakkan akal sehat kita, dan tidak membiarkan akal sehat itu menjelaskan apapun atau sekedar berpendapat mengenai hal yang tak terjelaskan itu. Kita memilih bungkam, berujar, ‘tidak! Aku tidak sanggup’, lantas mempercayainya.

Hingga, ada suatu waktu dimana mereka yang berfikir dengan tulus dan positif, ditarik perlahan-lahan hingga mendekat. Terkadang proses penarikan itu seperti teror. Seperti seorang gadis cantik yang dikirimi surat misterius oleh seorang pria misterius yang jenius. Gadis itu kebingungan dari mana surat ini, kenapa ada, siapa pengirimnya, mau apa pengirimnya? Hingga dikemudian hari, surat-surat yang dibaca itu menciptakan suatu alur yang menuntun sang gadis jatuh ke dalam pelukan sang pria.

Juga, ada suatu waktu dimana mereka yang berfikir dengan sarkastis dan negatif, perlahan-lahan dibelokkan dari jalan yang benar. Semakin lama dan semakin lama, ia hanya dituntun menuju kesesatan. Hingga jatuh ke jurang yang takkan membuatnya bisa kembali, kecuali melalui peran yang sama yang membuatnya jatuh. Disini, ada suatu kejelasan yang wajar kenapa ‘kekejaman’ itu bisa terjadi. Ada yang maha pengasih, yang mewujudkan apapun yang diminta manusia. Termasuk, permintaan manusia untuk menjadi orang gagal, bahkan orang sesat. Permintaan itu, terkadang tidak disadari oleh yang minta sendiri; tapi sesungguhnya fikirannya terus meraung-raung meminta. Seorang yang sarkastis dan negatif, terus mengejek dan meremehkan, terus begini dan begitu; seseorang mencintai apa yang ia pikirkan, demikianlah, maka terkabul!

Duhai... siapa yang salah jika begitu???

Sekar kembali tersadar dari fikirannya barusan. Hujan semakin deras saja. Rerumputan di taman belakang rumahnya sudah tidak terlihat karena digenangi oleh air. Bunga-bunga dan semak, tak henti bergoyang tertunduk karena ditimpa oleh air hujan yang deras dari atas langit. Angin berayun keras, menciptakan ombak hujan yang menari dengan keras ke kanan dan ke kiri. Dan sebagiannya memasuki teras, membasahi ujung-ujung lantai teras yang sendiri meninggi.

Sekar mengganti pandangannya. Kini menatap langit. Tampak gelap ditutupi awan hitam yang menghalangi matahari. Awan hitam yang bergerak cepat. Lebih cepat dari pada awan putih biasa. Sungguh menarik... kesuraman hidup memang cepat datang dan memakan kebahagiaan yang ada, tapi ia juga lekas pergi. Selama kita melepaskannya..

Sayangnya, sebagian dari kita justru mempertahankan kesuraman tersebut untuk tetap di dalam hati. Kesulitan akan semakin banyak bila dihitung, dan hilang bila tidak diperhatikan.

Awan hitam itu.. pikir Sekar. Bagaimana ia bisa datang? Dengan cara yang sama yang membuat ia pergi?

Angin.

Itu bukan aku... tukas Sekar dalam hati.

***

Aneh. Sekar kini sudah berada disuatu tempat yang amat cerah, dengan pohon-pohon cemara menjulang tinggi dan padang rumput yang luas dan hijau. Tanah yang berbukit-bukit, semak yang rapi terpangkas. Dimana ini? Indah sekali. Pemandangan tak tertutupi oleh sehelai kabut pun, hingga habis dipangkas oleh batas penglihatan. Menyisakan hijau padang rumput yang menjulang tinggi dan rendah dibentuk bukit. Sementara langit, tampak biru cerah, sedikit awan dan matahari yang terang tapi tak panas.

Sekar semakin terpesona. Semakin terus berjalan terkagum-kagum. Dimana aku??? Tak henti ia bertanya-tanya. Tapi tak pernah ada yang menjawab. Hingga sekali lagi, itu terjadi. Pertanyaanmu akan terjawab!

Sekar terpaku. Langkahnya terhenti. Ia tertegun. Itu bukan aku. Pikirnya lagi. Ia tak berdaya. Ia berfikir, tapi tidak memikirkan apapun. Ia vakum. Hingga tiba-tiba, sesuatu dikejauhan sana, menutupi pandangan yang sebelumnya ada. Suatu warna. Begitu pekat, lebar, dan terus merambat mendekat. Sekar tetap tidak berdaya. Terus bertanya, apa itu?

Terus mendekat. Mendekat dan mendekat, hingga pada akhirnya sampai. Dan Sekar tak bisa melihat apapun. Hilang semuanya tertutupi oleh warna itu. Sekar panik. Kembali bertanya, dimana aku?!

Tapi ia tidak ada yang bisa menolongnya. Tidak ada jalan keluar dari keanehan itu. Setiap kali ia melangkah, ia tidak dapat melihat apapun. Terbatas pada warna tersebut saja, sekalipun kakinya tetap merasa menyentuh bumi. Sekar panik, tapi tidak takut. Ia tidak merasa itu berbahaya, tapi hanya berada dalam kondisi yang berbeda saja. Dan meskipun begitu, akhirnya ia menangis. Seketika itu pula ia terbangun dari mimpinya dengan air mata sudah membasahi pipi dan lehernya. Sekar segera duduk dipembaringan, dan berujar dalam keheningan malam itu : Seandainya kau tahu walaupun sedikit saja, itu tidak akan membuatmu hidup. Engkau hidup, selama engkau masih mencari..![]






Chairil Anwar





Imam Mailiki




VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x