Sastro Admodjo
Sastro Admodjo Penikmat Kopi

Seorang pengembara edan. Mencari keindahan alam semesta Tuhan. Menorehkan tulisan untuk saling berbagi pengalaman. Menikmati kopi hitam, menjadi tuntutan dengan kawan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Globalisasi dan Toleransi dalam Islam

25 Desember 2017   03:00 Diperbarui: 25 Desember 2017   03:12 795 0 0

Dalam kancah modernisasi, dewasa ini Islam mengalami tantangan tersendiri dari beberapa sudut, baik dalam pergaulan bahkan sampai kepada permasalahan yang menyentuh keyakinan beragama itu sendiri.

Praktek yang digulirkan oleh modernisasi tersebut telah mendatangkan istilah globaliasasi. Kata ini memang sangat unik dan menjadi perdebatan dipelbagai kalangan; budayawan, pemikir dan tokoh agama terkemuka. Jadi tidak salah apabila paham globalisasi ini sering memunculkan kontroversial diantara pemaham tataran konsep tersebut, ada yang menolak atau ada pula yang menyetujuinya. 

Bagaimana tidak, kalau ditinjau kembali terhadap tujuannya, kira-kira seperti ini: untuk menyamaratakan semua faham yang memberlakukan dunia secara umum sebagai lingkungan pengaruh politik, dan tentunya secara menyeluruh diberbagai aspek (Kamus Ilmiah Populer; Red). 

Mengingat permasalahan ini cukup rumit dan mungkin bisa dikata menakutkan pada tubuh Islam, maka sebagian tokoh terkemuka Islam mencari sebuah solusi untuk menyaring kemudian mencerna segala yang datangnya dari globalisasi itu. Adalah Dr. Yusuf Qordawi,  salah satu tokoh terkemuka yang sangat giat untuk mencari solusinya. 

Selain dakwah lewat tulisan, (untuk menanggapi datangnya globalisasi) ia juga menekuni kegiatan tulis-menulis untuk mempertahankan Islam, karena dengan cara inilah nantinya bisa memberikan pemecahan masalah terkait berduyun-duyunnya globalisasi yang mulai merebah diberbagai aspek itu.

Tulisan yang patut kita apresiasi dari Yusuf Qordlowi (seorang tokoh Islam yang memunyai pemikiran moderat) untuk mengamankan Islam dari budaya asing, yang berjudul: Khithobuna Al-Islamy Fi 'Asril 'Aulamah, didalam buku itu, ia menggambarkan posisi muslim dan peranannya dalam menghadapi globalisasi.

Diawal tulisannya (hal, 19) ia terlebih dahulu memberikan pertanyaan mendasar akan posisi agama Islam pada saat ini, "hal yataghayyaru al-khitob addini?," tanyanya dalam oretan hitamnya, dengan cermat ia menggiring pemahaman al-khitob ad-dinidengan kontek zaman sekarang.Namun sebelum kita berpanjang lebar membincang masalah ini, terlebih dahulu kita mencari tahu apa pengertian al-khitob ad-dini yang ditawarkan oleh Qordawi. 

Maksud dari Khitob addinidalam pandangannya ialah penjelasan yang mengarahkan pada agama Islam baik itu kepada orang muslim maupun non-muslim, dengan tujuan untuk mengajak dan memberikan pemahaman kepada mereka tentang  Islam. Tentu tak luput dengan berbagai aspek pula, baik etika, interaksi dan transaksi perdagangan; mengingat globalisasi saat ini menjamur diberbagai lini.

Dari pertanyaan pragraf diatas, ia menemukan sebuah tawaran konsepsi jawaban dari pertanyaan itu. ia memaparkan bahwa agama dari berbagai sisi; ushul, aqidah, etika dan syariat, tidaklah berubah, akan tetapi yang patut dirubah adalah metodologi-tranformasi Islam. Secara tidak langsung, ia mau mencoba untuk mengkontektualisasikan dan membumikan ajaran Islam sesuai dengan zaman berikut kebutuhan masyarakat terhadap agama itu sendiri. 

Sebagaimana kita ketahui bahwa perkembangan penyebaran Islam dipersesuaikan dengan kebudayaan masing-masing penduduk setempat. Hal yang bisa kita ketahui dalam bentuk penyesuaian itu terbingkai di negara Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia mempunyai ragam kultur, yang mungkin bisa disebutkan, Islam tidak boleh masuk sembarangan untuk kawasan-kawasan tertentu, karena didalamnya masih banyak penganut-penganut agama Pagan.

Paham kontektualisasi-tranformasi Islam bukan hanya tergambar para era globalisasi ini.  Akan tetapi pada zaman primitif pun hal ini bisa dibuktikan dengan turunnya al-quran kepada orang-orang Mekah yang tidak sama kondisinya dengan Madinah. Terbukti, disana terdapat perubahan-perubahan penyesuai medode dakwah dengan sosio-kultur kala itu. 

Tercatat dalam sejarah Arab kuno, semisal di Mekah, firman-firman tuhan ternyata lebih diarahkan kepada teologi, sebaliknya Madinah, masyarakat disana kala itu lebih menerima titah tuhan dari segi syariah (dirosah fi ulumil quran;Red).

Lantas dan bagaimana metodologi Islam agar bisa diterima dalam kontek kekinian?

Al-quran menggambarkan metode itu dengan matang dan terukir rapi dalam surat an-nahl, ayat 125, yang berbunyi: ud'u ila sabili robbika bil hikmati wal mau'idhotil hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. 

Konsep ini sangat penting untuk direnungkan dalam penyebaran Islam agar tidak terdapat radikalisasi, terorisme dan paham-paham yang merusak sejatinya citra Islam. Konsep ini diungkap dan ditelisik oleh Qordlowi di sub-judul yang bertuliskan, manhajul khitob addini kama rossamahu al-quran,hal 31.

Setelah menawarkan konsep yang mapan itu, Qordawi langsung beranjak ke titik permasalahan inti. Bagaimana menguraikan Islam, khususnya pada zaman globalisasi ini?

Diantaranya: Pertama, mengajak mereka mengimani pada tuhan satu (Allah) dan tidak mengkafirkan orang lain. Kedua, mempercayai wahyu dan menghormati akal, karena dengan akal kita bisa memahami khitob addini.Ketiga, menjaga etika dalam Islam, karena etika adalah buah dari iman kepada Allah. Kelima, adanya toleransi terhadap kesamarataan hidup dalam bermasyarakat. 

Dipembagian yang ke lima ini, memang sangat dibutuhkan dalam kontek kekinian. Karena perbedaan pendapat dan cara pandang dalam masyarakat modern sangatlah beragam, solusinya, Islam harus menggambarkan dan mencerminkan toleransi kepada non-muslim. Keenam, menghargai dunia ke-masadepan-an dan tidak memungkiri masa silam. Ketujuh, adanya dinamisasi, dan tidak boleh menciptakan stagnasi dalam Islam. Kedelapan, menjaga hak-hak kaum minoritas.

Dari sini, dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa seorang muslim-sejati dalam kancah era globalisasi seyogyanya mengedapankan toleransi dan kesetaraan hidup. Dan inilah sebenarnya Islam. Agama ini tidak pernah mengajarkan kekerasan dalam penyebarannya dan tidak pula terorisme dalam ajarannya. Islam yang kaffah adalah Islam yang menjunjung tinggi sebuah toleransi, sebagaimana yang digambarkan dalam buku ini.

S. A.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2