Mohon tunggu...
Elisabeth Murni
Elisabeth Murni Mohon Tunggu...

Perempuan. Duapuluhsekian. Suka keliling kota sambil membawa peta. Sering bercerita di www.ranselhitam.com | www.maioloo.com

Selanjutnya

Tutup

Wisata

Gunungkidul yang Kering, Embung Nglanggeran, dan Pemuda Berdaya

22 Mei 2013   16:23 Diperbarui: 4 April 2016   21:58 0 5 9 Mohon Tunggu...
Gunungkidul yang Kering,  Embung Nglanggeran, dan Pemuda Berdaya
13692138291868052771

[caption id="attachment_262891" align="aligncenter" width="504" caption="Embung Nglanggeran (Sash)"][/caption]“Itu telaga mana Sash?” tanya beberapa kawan saat saya mengunggah sebuah foto telaga berlatar senja di jejaring sosial. Ketika saya menjawab itu bukan telaga melainkan embung (telaga buatan yang dibuat sebagai sumber pengairan) di Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, kawan-kawan saya banyak yang tidak percaya. “Hah? Emang di Gunungkidul ada telaga bagus gitu? Bukannya sana daerah kering ya?”, saya hanya terkikik geli membaca komentar dan pertanyaan mereka satu persatu.

Gunungkidul sulit air? Ah, its so last years. Itu paradigma salah yang selama ini berkembang di masyarakat. Okay, untuk beberapa tempat di Gunungkidul, saat musim kering memang kekurangan air. Namun sejatinya ada banyak daerah Gunungkidul yang berlimpah air. Coba tengok daerah Karangmojo, pasti kaget melihat hamparan sawah yang luas atau kolam-kolam berisi ikan.

Saya sih secara pribadi menobatkan Gunungkidul sebagai pusat wisata tirta di Jogja. Maksudnyaaaah apa? Ya kalau pengin ciblon tinggal main aja ke Gunungkidul. Disana ada sederet pantai cihuy yang gak cukup kalau dikunjungi dalam waktu 2 hari, ada air terjun ciamik, ada sungai buat main kayak, ada aktivitas cavetubing yang pertama di Indonesia, dan tentunya ada juga Embung Nglanggeran yang cihuy itu.

[caption id="attachment_262896" align="aligncenter" width="504" caption="Gunungkidul ijo royo-royo (pic: Sash)"]

13692143601652137304
13692143601652137304
[/caption]

Belum lama ini, sepulang dari Karangmojo yang ijo royo-royo itu saya sempat melipir sejenak ke Embung Nglanggeran. Diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada 19 Feb 2013, embung yang berada di puncak bukit itu mampu mengairi kebun Buah Rakyat seluas 20 ha. Untuk mengunjungi embung tersebut, dari Pertigaan Polsek Patuk silahkan belok kanan menuju Gunung Api Purba Nglanggeran. Sesampainya di basecamp Gunung Nglanggeran silahkan mengikuti petunjuk arah yang ada. Embung Nglanggeran terletak sekitar 1,5 km di ‘belakang’ Gunung Nglanggeran.

[caption id="attachment_262893" align="aligncenter" width="510" caption="Embung Nglanggeran terletak di puncak bukit"]

13692139802026497564
13692139802026497564
[/caption]

Embung Nglanggeran ini dulunya merupakan sebuah bukit bernama Gunung Gandu. Bukit itu lantas di potong dan dikeruk guna dijadikan telaga tadah hujan yang bisa mengairi kebun buah yang ada di sekitarnya. Selain berasal dari air tadah hujan, air embung ini juga berasal dari Sumber Sumurup yang terletak di Gunung Nglanggeran.

Ah mendadak saya teringat percakapan 2 tahun silam dengan ketua Karang Taruna Purba Mandiri, Mas Sugeng Handoko. Saat itu saya yang masih bekerja di pabrik kata-kata ditugaskan untuk liputan ke Nglanggeran sekaligus mengejar momen sunrise supaya dapat foto cihuy. Sayang mentari tidak bersahabat sehingga kamera gagal mengabadikan pagi.

[caption id="attachment_262894" align="aligncenter" width="512" caption="Embung dilihat dari udara dan dari Puncak Gede, Nglanggeran"]

13692140581409062991
13692140581409062991
[/caption]

Untuk mengobati kekecewaan saya, Mas Sugeng mengajak saya ke kawasan belakang jajaran gunung batu Nglanggeran. Sambil ngobrol mendadak Mas Sugeng bertanya “mbak lihat gunung itu kan? Nantinya gunung itu akan dijadikan kebun buah, ditanami durian, kelengkeng, dan buah-buahan lain. Nanti ini akan dikelola sepenuhnya oleh masyarakat,”

Saya yang kala itu masih agak terkantuk-kantuk dan belum sepenuhnya “sadar’ hanya bisa mengangguk-angguk, sambil mikir “Emang bukit batu gitu bisa ditanami ya?”. Kini 2 tahun kemudian, ucapan Mas Sugeng benar-benar terbukti. Kebun buah durian dan kelengkeng telah terhampar. Meski pohonnya masih kecil, saya yakin 3 atau 4 tahun kemudian pasti akan mulai berbuah. Bahkan selain membangun kebun buah, masyarakat desa denagn memanfaatkan dana hibah APBD DIY telah berhasil membangun embung yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber pengairan namun juga berpotensi sebagai obyek wisata baru.

Secara pribadi, saya salut dengan keuletan dan kerja keras kawan-kawan pemuda Nglanggeran. Gunung api purba berupa bukit batu raksasa yang dulunya tidak bisa menghasilkan apa-apa kini dikembangkan menjadi kawasan ekowisata gunung api purba serta menjadi industri wisata kreatif berbasis masyarakat. Mereka bahu membahu membangun desa mereka supaya menjadi desa yang mandiri dan berdaya. Bahkan mereka berani bermimpi dan melakukan terobosan dengan “memotong” bukit kemudian dijadikan embung supaya bisa mengairi areal pertanian.

[caption id="attachment_262897" align="aligncenter" width="504" caption="Kelihatan bekas potongannya kan? (Pic: Sash)"]

1369214428363600093
1369214428363600093
[/caption]

Pemuda desa pun pada akhirnya betah berada di desa dan tidak memilih merantau karena di desa pun mereka bisa mendapatkan penghasilan, baik dari sektor wisata maupun indutri kreatif. Sebuah langkah jitu yang seharusnya bisa dicontoh oleh pemuda di daerah-daerah lain. Benar kata Pak Hermawan Kartadjasa dalam salah satu sesi seminar Asean Blogger Festival Indonesia di Solo beberapa waktu lalu bahwa masa depan ada di tangan pemuda. So guys! This is your time to do something!

Note: Ah mendadak saya merasa malu. Saya ngoceh beginian tapi ternyata saya sendiri malah memilih ngabur ke kota orang dan tidak kembali ke desa untuk membangun desa. Pancen ngomong ki luwih gampang tinimbang nglakoni. Salam super! #halah :)