Mohon tunggu...
Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko Mohon Tunggu... Dosen - Penikmat bacaan

Bersyukur selalu.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Berdiri Antara Sejahtera dan Bencana

5 Agustus 2022   11:40 Diperbarui: 5 Agustus 2022   11:54 138 13 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Beberapa hari belakangan ini jalan-jalan sudah kembali ramai anak sekolah dan mahasiswa seiring dimulainya tahun ajaran baru dan kelas tatap muka. Aktifitas sekolah dan kampus nyaris sudah kembali ke situasi sebagaimana dulu sebelum pandemi. Demikian juga pertokoan, pasar, mall dan supermarket. 

Pemandangan lalu lintas pagi yang padat merayap dan macet pun kembali hadir. Segala macam kendaraan tumpah ruah di jalan, dari bis sekolah, bis kota, mobil, angkot, o-jol, sepeda motor, sepeda onthel, anak-anak jalan kaki hingga ibu-ibu mengantar anaknya. Semua hilir-mudik, kesana-kemari ke segala penjuru dalam rangka menuntut ilmu, mencari nafkah dan menjahit masa depan yang lebih cerah. 

Begitulah, pemandangan yang sebenarnya sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Meskipun tentu ada bedanya. Dulu, jumlah penduduk masih belum sebanyak sekarang, lahan hijau masih luas, pepohonan masih banyak, sawah masih membentang, jalan lancar walau masih sempit, sungai masih mengalir deras dan bersih, kendaraan masih belum banyak dan udara masih belum banyak dikotori polutan.   

Dunia berputar dan jaman terus berjalan, yang lama menjadi usang yang baru berkembang dan yang akan datang dijelang. Kini semuanya sudah jauh berbeda. Hijaunya pohon dan sawah diganti banyak tumbuh gedung-gedung megah, pertokoan dan mall, perumahan, jalan-jalan baru maupun pelebaran jalan yang lama dan bandar udara baru. Perubahan sangat terasa di pulau Jawa. yang pertambahan penduduk dan kebutuhan infrastruktur meningkat begitu pesat. 

Kita hidup di bumi yang satu. Bumi yang tidak pernah bertambah menjadi lebih besar dan meluas, atau mengecil dan menyempit. Maka, menambah sesuatu berarti mengurangi yang lain. Puluhan atau ratusan kilometer jalan tol, umpamanya, harus dibangun di atas lahan yang semula perumahan, sawah, kebun atau hutan. 

Demikian pun bandar udara, komplek perumahan dan real estate, banyak diantaranya berdiri di atas lahan yang semula kebun, sawah atau hutan. Contoh lebih nyata sekarang ini ada di pembangunan IKN

Namun banyak pihak melihat beralihnya fungsi lahan hijau untuk keperluan lain adalah konsekwensi lumrah dari perkembangan, kemajuan jaman dan pertambahan penduduk. Apalagi persepsinya, apapun bentuk sumberdaya alam yang ada, baik hutan, kebun, tambang dan mineral, semua itu memang untuk dimanfaatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia sekarang. Seolah sumberdaya alam itu adalah harta cadangan yang tidak akan pernah habis. Benarkah demikian? Coba lihat Jepang dan Pakistan. 

Jepang negara kaya tetapi memiliki hutan seluas 67% dari luas daratannya. Negara ini mampu bangkit dari kekalahan perang dunia II, lalu membangun dan mensejahterakan rakyatnya tanpa "merusak" hutan. Kekayaannya diraih tanpa memperlakukan hutan sebagai sumberdaya utama ekonomi negeri. 

Pada tahun 2010, Kepala Pusat Inovasi LIPI saat itu (lipi.go.id), Bambang Subiyanto, menyatakan bahwa Jepang lebih banyak mengimpor kayu untuk kebutuhan dalam negeri demi menjaga kelestarian lingkungan dan hutan mereka. Negeri Sakura itu lebih mendayagunakan sumber daya hutan untuk perlindungan tata air dan konservasi tanah. 

Disisi lain, lihatlah Pakistan. Hamid Mir, seorang columnist dari Islamabad menulis di washingtonpost.com 14 Juli 2022, bertajuk Climate Change is a Bigger Threat to Pakistan than Terrorism.  Terjemahan bebasnya kira-kira: Perubahan Iklim itu Lebih Kejam dari Terorisme. Mir menulis bahwa di tahun 2022 saja banjir di Pakistan telah menewaskan 150 orang termasuk wanita dan anak-anak. 

Ditulisnya bahwa di negerinya, pemanasan global berandil besar pada terjadinya cuaca akstrim. Cuaca ekstrim ini berbuah banjir di suatu daerah dan mengakibatkan kekeringan di daerah lainnya. Beberapa daerah diperkirakan akan tenggelam lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan