Mohon tunggu...
bebet rusmasari
bebet rusmasari Mohon Tunggu... Menjadi bermanfaat

Saya adalah seorang guru yang tinggal di kota kecil.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cuma Manusia Biasa

16 Januari 2020   08:27 Diperbarui: 16 Januari 2020   08:30 34 0 0 Mohon Tunggu...

Sepulang dari sekolah selepas mengajar sore itu, saya langsung menelepon Ibu untuk bilang,

"Bu, maaf sudah kecewakan Ibu." Itu saja. Ibu tidak menyahut.

Hari Sabtu itu cukup melelahkan. Saya mulai masuk kelas jam 7.15 di kelas X. Bangku di kelas belum sepenuhnya terisi. Masih ada saja satu dua siswa yang terlambat. 

Alasannya macam-macam. Terlambat bangun adalah alasan yang paling klise. Rencana untuk ulangan harian tertunda beberapa menit. Sambil menunggu seluruh siswa di kelas itu hadir semua.

Satu setengah jam berlalu, saya lanjut mengajar di kelas XII. Ruang kelasnya jauh di belakang. Dekat pagar batas sekolah. Melewati beberapa unit ruang kelas, lapangan basket, kantor, laboratorium, ruang guru dan jembatan kecil untuk sampai ke sana dari ruang kelas yang pertama tadi. Saya sudah merasa seperti Dora the Explorer pagi itu.

Kelas XII aman sampai jam istirahat. Satu setengah jam yang kedua terlewati. Istirahat 15 menit cukuplah untuk meluruskan punggung sebentar sambil menikmati ubi goreng bersama dua kawan sejawatku di perpustakaan sekolah.  Hilanglah penat saat itu hingga bel masuk kelas berikutnya berbunyi.

Jam 10.30 kelas terakhirku Sabtu itu. Agak panjang durasinya hingga jam 13.10 dijeda istirahat sholat Dhuhur. Entah kenapa, di kelas itu saya merasa kesal dengan ulah seorang anak. 

Kelas terakhir ini juga jadwalnya ujian, dan si anak ini sebut saja namanya Dudung berkali-kali berbohong. Semua hal yang saya tanyakan dijawabnya bohong dan saya tahu dia bohong. Dan parahnya lagi, dia juga tahu kalau saya tahu dia bohong.

Saya marah. Saya kesal. Saya merasa dipermainkan. Saya ucapkan kata-kata dengan nada yang keras yang tidak sepatutnya didengar oleh anak-anak saya. 

Saya marahi dia. Saya banding-bandingkan dia dengan anak lain. Saya cela dia. Saya sudutkan dia. Saya tunjuk-tunjuk dia. Di depan kawan-kawan sekelasnya. Belum puas sampai disitu, saya laporkan ke wali kelasnya.

Saya berjalan ke arah pintu kelas dengan dada yang sesak dan jantung berdegup kencang. Angin kering meniup pepohonan di jalan setapak sepanjang lapangan depan kelas. 

Semilirnya teduh membuat dedaunan berguguran. Ranting-ranting dan cabang-cabang kecilnya meliuk-liuk.  Ranting-ranting kecilnya yang rapuh, patah berjatuhan di tanah kering.

Ranting patah itu saya pungut. Boleh jadi ia patah karena angin terlalu kencang meniupnya. Tiba-tiba saya teringat anak semata wayangku Mahesa yang saat itu juga pasti masih berada di sekolah. 

Bagaimana kalau ia berbuat kesalahan di sekolah. Bagaimana jika ia dimarahi gurunya. Bagaimana kalau ia dicela karena kesalahannya itu. Bagaimana jika ia disudutkan di depan teman-temannya. Bagaimana kalau... ah... Semestaku.

Saya gagal sabar. Saya gagal menjadi seperti dewa. Semestinya saya tidak perlu marah sehebat itu. Seharusnya saya yang notabene adalah manusia yang paling dewasa, paling matang, paling stabil tingkat emosinya di ruang kelas itu harus lebih bisa mengendalikan perasaan.  Si Dudung adalah semesta bagi kedua orang tuanya. Dan saya hanya menghukum diri sendiri dengan marah karena kesalahannya.

Dua hari kemudian saya harus mengajar di kelas yang sama. Di kelas yang ada si Dudung. Dan pagi itu Ibu telepon. Saya menduga Ibu akan bilang satu kata, Sabar. Namun pagi itu Ibu bilang begini,

"Jangan lupa sarapan. Kamu harus kuat. Kamu cuma manusia biasa. Bisa sakit. Ibu tidak mau kamu sakit."

Saya harus kuat. Manusia yang kuat tidak mudah marah. Marah bisa membuat sakit, patah dan jatuh berguguran. Kalimat Ibu menegaskan langkah saya pagi itu. Ibu yang menjadikan anaknya semesta. Walaupun saya cuma manusia biasa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x