Mohon tunggu...
Erni S. D.D. Lubis
Erni S. D.D. Lubis Mohon Tunggu... Guru di TK Al Hidayah, Yayasan Padepokan Modern Titoti Darussalam, Ngadirojo Wonogiri

Pengajar dan pembelajar.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Selamat Hari Guru untuk Diriku

25 November 2020   20:53 Diperbarui: 25 November 2020   21:01 136 19 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Selamat Hari Guru untuk Diriku
Instagram @generasi90an

Jika pada hari guru tahun kemarin di dalam tulisanku yang berjudul "Pak Nadiem, Perubahan Apa yang Harus Dilakukan untuk Mencetak Calon Guru?" saya mengucapkan selamat kepada guru-guruku, juga kepada teman-temanku yang telah berprofesi menjadi guru, maka pada hari guru 25 November 2020 ini saya mengucapkan selamat hari guru untuk diriku sendiri.

Waktu kecil setiap orang pasti pernah bercita-cita. Ada yang ingin jadi guru, dokter, polisi, tentara, pramugari, dan lain-lain. Termasuk saya dulu ketika SD. Saya terinspirasi dengan guru saya Bu Sri Marmiyati, beliau guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Beberapa kali beliau mengantar saya untuk mengikuti lomba Baca Tulis Al Qur'an (BTA). Sejak itu saya memantapkan diri untuk memiliki cita-cita menjadi guru PAI.

Dulu saya tidak tahu apa itu Pegawai Negeri Sipil, apa itu guru tidak tetap, berapa gaji guru, apa itu sertifikasi, dan lain-lain. Saya buntu tentang hal-hal itu, meski saya bercita-cita menjadi guru sejak Sekolah Dasar. 

Mungkin tulisan ini seperti diary yang bersifat subjektif. Tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan profesi apapun. Tapi melalui tulisan ini saya ingin menggambarkan perjuangan saya untuk menjadi guru sekaligus mencari jati diri saya hingga akhirnya sekarang di tahap ini.

Tentu setiap orang pernah berjuang, dan memiliki perjuangannya masing-masing. Termasuk saya. Bagi saya ini adalah perjuangan yang tidak mudah. Yang harus saya alami sejak lulus S1 (2017) hingga akhir tahun 2019.

Ketika lulus S1 saya mulai melamar ke beberapa sekolah. Di pikiran saya saat itu saya hanya ingin segera mengajar. Namun ternyata takdir berkata lain, selepas wisuda saya diminta untuk menjadi asisten dosen oleh pembimbing skripsi saya. Bagi mereka yang freshgraduate, mungkin ini suatu tawaran yang keren. Beberapa teman saya bahkan mengira bahwa saya digaji dan memiliki banyak uang.

Seperti para freshgraduate lain yang sedang dalam masa kebingungan mencari jati diri, saya pun demikian, dan akhirnya menerima tawaran itu. Meski tidak ada tanda tangan kontrak, hanya ucapan lisan, tapi setelah dijalani itu sungguh-sungguh memberatkan saya.

Tadinya saya bilang kepada dosen pembimbing saya tersebut bahwa saya telah melamar di beberapa sekolah dasar. Tapi dosen saya malah kaget dan mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang profesi guru. 

Beliau meminta saya tetap menjadi asisten dosen dengan syarat tidak bekerja apapun selain fokus untuk mewujudkan harapan (nya) agar saya menjadi dosen, atau tetap menjadi guru SD dan beliau tidak akan memberi lagi tawaran kepada saya untuk beliau bimbing supaya kelak menjadi dosen. Saya pun memilih untuk menjadi asisten dosen selama hampir 2 tahun, sekaligus mengambil gelar magister di kampus saya.

Pekerjaan saya selama menjadi asisten dosen sebenarnya tidak rumit, saya mengurusi administrasi dosen saya tersebut, menilai tugas mahasiswa, berkesempatan untuk menggantikan dosen saya ketika tidak mampu mengajar, juga diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan mahasiswa ketika jadwal presentasi, dan menjadi pengawas ketika ujian.

Selain karena pekerjaan yang tidak berat, menjadi asisten dosen juga terlihat bergengsi dan keren di pandangan adik-adik mahasiswa. Tapi ada tidak enaknya juga, saya merasa tidak enak karena sering berjumpa dengan dosen-dosen saya yang lain. Terlebih saya anaknya introvert, pendiam, dan irit bicara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x