Otomotif

Keuntungan Menerapkan Sistem Industri 4.0 Bagi Produsen Otomotif

30 November 2017   15:56 Diperbarui: 30 November 2017   16:29 1732 1 0
Keuntungan Menerapkan Sistem Industri 4.0 Bagi Produsen Otomotif
Sumber: Kemenperin.go.id

Produsen otomotif nasional yang diproduksi oleh PT. Sokonindo Automobile telah menerapkan sistem Industry 4.0 dalam proses produksinya. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan daya saing dan berperan penting dalam rantai nilai global. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia bersama negara-negara lain semakin kompetitif untuk memasuki revolusi industri keempat.

Dengan mengadopsi Industri 4.0, pabrik yang bangun dengan flexible manufacturing system bisa memproduksi berbagai macam jenis produk dengan biaya yang lebih rendah. Penerapan Industri 4.0 juga tidak akan menggantikan atau mengurangi peran tenaga kerja manusia, tetapi justru dapat mendorong peningkatan kompetensi mereka dalam memahami penggunaan teknologi terkini di industri.

Bahkan, pegawai yang rata-rata masih berusia sangat muda dan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta program pendidikan vokasi masih diberi peluang yang sebesar-besarnya untuk bekerja. Menariknya di lini perakitan, ada sejumlah pekerja perempuan. Tentu ini menjadi sesuatu hal yang berbeda, yang ditampilkan Sokonindo dan patut diapresiasi.

Seiring membaiknya pertumbuhan ekonomi, juga bisa dijadikan momentum untuk memaksimalkan utilisasi dari kapasitas produksi industri kendaraan bermotor dalam negeri. Hal ini guna mewujudkan target industri otomotif sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrain (Kemenperin) tengah memprioritaskan pengembangan industri otomotif nasional melalui berbagai langkah strategis untuk menarik investasi baru maupun perluasan usaha. Terlebih lagi, sektor ini telah menunjukkan kinerja yang cukup baik. Di mana pertumbuhannya mencapai 5,63 persen atau di atas pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen pada triwulan III tahun 2017. Selain itu, juga ada industri alat angkutan sebagai salah satu kontributor terbesar pada pembentukan PDB sektor industri pengolahan non-migas yang mencapai 10,11 persen.

Industri otomotif tergolong sektor padat karya, dan telah membuka peluang bagi penyerapan tenaga kerja lokal yang cukup besar. Pada 2016, industri otomotif di Indonesia telah mempekerjakan sebanyak 1,5 juta orang. Jumlah ini terdistribusi pada berbagai sektor, mulai dari industri perakitan, komponen lapis pertama sampai ketiga, hingga tingkat bengkel resmi untuk sales, service, dan spare parts.

Selain itu, rantai industri otomotif dari hulu ke hilir juga melibatkan banyak sektor industri lain. Tak heran, jika industri otomotif berkembang, apalagi Indonesia masih menjadi negara tujuan utama untuk investasi di sektor industri otomotif.

Berdasarkan data dari ASEAN Automotive Federation, Indonesia saat ini merupakan salah satu pemain penting di industri otomotif Asia Tenggara menempati posisi terbesar kedua setelah Thailand. Tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, saat ini Indonesia juga terus digenjot untuk menjadi basis produksi global. Peluang investasi yang cerah mendukung perwujudan sasaran tersebut.