Mohon tunggu...
Fransiskus Sardi
Fransiskus Sardi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Lulus dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Program Filsafat

Follow ig @sardhyf dan ig @areopagus.2023 “Terhadap apa pun yang tertuliskan, aku hanya menyukai apa-apa yang ditulis dengan darah. Menulislah dengan darah, dan dengan begitu kau akan belajar bahwa darah adalah roh” FN

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Berdamai dengan Corona ala Sisifus dan Ayub

12 September 2021   19:50 Diperbarui: 12 September 2021   20:24 210
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Dok. Fransiskus Sardi, Kupang 2021

Ketika merenungkan pandemi Covid-19, saya teringat akan sebuah mite yang sangat familiar karya Albert Camus; Mite Sisifus. Mitos tersebut mengisahkan tentang seorang tokoh bernama Sisifus, yang mendapat siksaan dari para dewa. Siksaan disebabkan karena ia bekerja sama dengan Jupiter untuk menculik puteri Asop bernama Ejin. 

Dinarasikan juga, Sisifus adalah seorang yang paling bijaksana dan waspada, tetapi cendrung menjadi perampok. Ada banyak kontradiksi mengenai kepribadian Sisifus, tetapi di sini saya tidak ingin mempersoalkan hal tersebut, fokus saya adalah pada penderitaan yang dihadapinya dan responnya atas penderitaan. 

Ia mendapat hukuman dilemparkan ke neraka. Sisifus disiksa oleh para dewa dengan cara yang sangat mengerikan. Ia harus menggulingkan sebuah batu besar ke atas sebuah lereng gunung. Ia mengangkat batu raksasa tersebut, menggelindingkan dan mendorongnya sampai di lereng berulang-ulang tanpa berhenti. 

Ketika batu sudah digulingkannya dengan susah payah ke atas lereng, batu tersebut jatuh lagi ke bawah, dan seterusnya terjadi demikian (Albert Camus. Mite Sisifus, Suatu Penalaran Absurd, 155-156). 

Kisah ini mengaktifkan imajinasi saya, bahwa betapa penderitaan yang dialami oleh Sisifus ini tidak akan pernah berakhir. Ia berjuang menggulingkan batu raksasa ke atas, dan dengan sendirinya batu itu kembali lagi tergguling ke lembah.

Sisfus tampaknya terbiasa dengan penderitaan, saya mereka-reka mungkin dia juga paham filsafat stoa. Dia menerima penderitaan sebagai musibah akibat kesalahannya sendiri (personalization), (bdk. Filosofi Teras, hal. 201), tetapi dia memiliki kemampuan untuk melampui opininya itu dengan menerima penderitaan secara lapang dada. 

Dalam filsafat stoa, respon atas penderitaan menjadi kunci untuk menentukan keadaan diri kita selanjutnya. Pandemi covid-19 bisa menjadi ladang untuk melatih diri untuk merespon penderitaan (rasanya agak berlebihan). 

Menerima penderitaan akan menjadikan diri semakin tangguh, membentuk rasa percaya diri, dan menjadi pribadi yang menolak kenikmatan semata (FT. 207). 

Latihah untuk menerima penderitaan juga menjadi bagian dari usaha untuk memikirkan skenario-skenario buruk yang mungkin akan terjadi. Kekuatan filsafat stoa ada pada kemampuan untuk menerima penderitaan seperti Sisifus dalam mitenya Albert Camus.

Dalam konteks pandemi covid-19, saya merenungkan bahwa kita mesti terus berjuang seperti Sisifus yang menggangap 'dirinya lebih kuat daripada batunya'. 

Sisifus tidak pernah menyerah dengan perjuangannya untuk menggulingkan batu ke puncak. Usahanya ini memang menuai hasil yang nihil, namun dalam proses mengangkat batu ke puncak, telurlah sebuah kesadaran yang sangat hakiki dan mendalam, bahwa penderitaannya tidak akan pernah berakhir dan hal yang perlu dilakukan hanyalah berusaha untuk berdamai dengan penderitaannya, menerima semuanya dengan lapang dada, mengafirmasi pengalaman kegetirannya sebagai bagian dari hidupnya sendiri sambil terus berjuang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun