Sarah Shafira Sandy
Sarah Shafira Sandy

Currently Living at Jogjakarta. 96' and Cancer Personality. *dsc: I don't debating about religion.

Selanjutnya

Tutup

Gaya Hidup Artikel Utama

Fenomena Artis Bisnis Kuliner Oleh-oleh (Bukan) Khas Daerah

21 Mei 2017   07:18 Diperbarui: 21 Mei 2017   15:54 6048 16 10
Fenomena Artis Bisnis Kuliner Oleh-oleh (Bukan) Khas Daerah
Ilustrasi. Gudegnet.com

Ketika pertama kali saya melihat billboard Jogja Scrummy, saya langsung bertanya-tanya. Wah ada makanan baru punya artis? Oleh-oleh khas Jogja? Kok makanan ini bisa jadi oleh-oleh khas? Beberapa waktu kemudian, ketika saya berada di ruang tunggu bandara Adi Soetjipto dan mendapati ternyata banyak juga yang sudah tertarik membeli oleh-oleh khas Jogja dari Dude Harlino ini. Oh, sudah jadi fenomena bahwa artis berbisnis oleh-oleh khas daerah.

Sebuah akun twitter @gembrit menuliskan dan menguggah foto beberapa artis yang juga berbisnis usaha kuliner, di antaranya:

  1. Semarang Wingkoroll by Dewi Sandra 
  2. Palembang Queenroll by Sandra Dewi 
  3. Makassar Baklave by Irfan Hakim 
  4. Bogor Raincake by Shireen Sungkar 
  5. Makassar Bosang by Ricky Harun
  6. Jogja Scrummy by Dude Herlino 
  7. Medan Napoleon by Irwansyah 
  8. Bandung Makuta by Laudya Cynthia Bella 
  9. Malang Strudel by Teuku Wisnu 
  10. Lamington Pontianak by Glen Alinskie 
  11. Surabaya Snowcake by Zaskia Sungkar 
  12. Cirebon Sultana by Indra Bekti 
  13. Cirebon Kelana by Ussy Sulistyowati 
  14. Lampung Banana Foster by Hengky Kurniawan
  15.  Cirebon Cinnamon by Dimas Seto  
  16. Mamahke Jogja by Zaskia Adya 
  17. Solo Pluffy by Jessica Mila 
  18. Milvil Manado by Mikha Tambayong 
  19. Mungkin masih akan bertambah lagi.
    media promosi kuliner artis dikolase oleh akun twiter @juriglagu
    media promosi kuliner artis dikolase oleh akun twiter @juriglagu

Fenomena ini tak luput dari kritik, ada yang khawatir bahwa kuliner baru ini dapat menggeser kuliner khas daerah yang sesungguhnya. Namun banyak juga yang mewajarkan dan menganggap ini merupakan hak sang artis untuk membangun usaha kuliner kemudian mengajak masyarakat untuk berpikiran positif menanggapi usaha kuliner buatan para artis. 

Saya meyakini bahwa selain harus berpikir positif, kita juga harus berpikir kritis. Sebuah kuliner dapat menjadi oleh-oleh dan disebut khas karena telah melewati proses yang panjang, mempunyai nilai historis, dan tak jarang namanya juga mempunyai makna tersendiri. Hal ini sangat berhubungan dengan identitas daerah tersebut. 

Karena kita sedang membicarakan kuliner maka cita rasa adalah hal yang terpenting. Misalnya, Gudeg Jogja yang berasa manis. Mayoritas masyarakat Jogja menyukai rasa manis dan hal ini berkaitan dengan Jogja yang merupakan penghasil gula sejak jaman kolonial, banyak pabrik Tebu. Tentu sangat berbeda dengan masyarakat Jawa Barat yang mayoritas lebih menyukai teh tawar ketimbang teh manis.

Selayaknya kuliner khas daerah, kuliner tersebut dapat di produksi dan dijual oleh masyarakat daerahnya. Bakpia dapat diproduksi dan dijajakan oleh masyarakat Jogja, sehingga kuliner daerah dapat mensejahterakan kehidupan masyarakatnya. Berbeda dengan Jogja Scrummy yang hanya dapat diproduksi dan dipasarkan pihak Dude Harlino. 

Memang adanya usaha kuliner daerah ini juga dapat menarik tenaga masyarakat, namun masyarakat Jogja berperan sebagai karyawan dari pemilik modal Jogja Scrummy (asas kapitalisme). Saya juga jadi bertanya-tanya apakah ada sebuah agen yang menawarkan kepada artis-artis untuk membuka usaha kuliner, dengan produksi dan marketing diurus oleh sang agen sementara artis mendapatkan persenannya? Dilihat sekilas, bisnis kuliner para artis ini mempunyai karakteristik kuliner yang serupa yaitu cake dan pastry. Bahkan bisnis Lamington Pontianak by Glenn Alinskie mempunyai nama yang sama dengan kue asal Australia. Apakah hanya kebetulan? Apakah hanya namanya saja yang sama? Saya tidak tahu juga karena belum pernah memakan kedua makanan tersebut.

Screenshot google wikipedia Lamington. Dokumentasi pribadi.
Screenshot google wikipedia Lamington. Dokumentasi pribadi.

 

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Penyeragaman konsumsi merupakan kehendak kapital, masyarakat dilebur dari batas-batas tradisionalnya menjadi satu massif konsumsi [Buku Budaya Populer]. Hal Ini dapat mengakibatkan konsumen kurang mengenal identitas asli dari daerah yang di klaim oleh-oleh khas tersebut. 

Siapapun, artis atau bukan, ketika ingin membuat sebuah inovasi kuliner sebagi oleh-oleh khas sebaiknya mempelajari karakteristik dan kekayaan daerah itu sehingga dapat tercipta cita rasa yang sesuai daerahnya juga dan agar tidak terkesan asal modern demi meraup keuntungan semata. Jika sekarang beberapa kuliner oleh-oleh brand artis dijejerkan diatas satu meja, kemungkinan besar saya akan sulit membedakan yang mana yang dari Solo, Jogja, Makassar, Bandung, Surabaya, dan lainnya. :D