Mohon tunggu...
Sarah Finka Simangunsong
Sarah Finka Simangunsong Mohon Tunggu... Mahasiswa - Political Science Student of UPN Veteran Jakarta

Most millionaires get a B or C on campus. They build wealth not of IQ alone, but creativity and common sense.

Selanjutnya

Tutup

Love

Apa Arti Cinta? Bedakah Cinta Orang Dulu dengan Orang Sekarang?

21 Juli 2022   11:19 Diperbarui: 21 Juli 2022   11:30 92 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber gambar: Dokumen Pribadi

Jika ketulusan dan kesetiaan telah ada dalam sebuah hubungan. Cinta yang bersifat aktif, terkadang bisa kita handle perkembangannya, kadang bisa semakin mendalam. Banyak kesalahan dari diri seseorang, yang mulai mencintai pasangannya dengan dalam. Hal ini bisa fatal jika, terjadi perpisahan.

Dan yang paling menjadi sebuah perbedaan yang signifikan adalah cara mencintai pada orang zaman dahulu yang masih ketebatasan dalam berkomunikasi. Dari sini terlihat perjuangan dalam berpacaran. Jaman dahulu, jika kita tertarik dengan sesorang maka akan berjanjian pada saat ketemu saja. Contohnya, hari ini adalah hari senin dan bertemu dengan X, kemudian kita memutuskan bertemu lagi dengan X pada senin minggu depan. Nah, kita harus pegang janji itu, dan harus datang tepat pada hari dan tempat yang sudah dijanjikan.

Dari ilustrasi di atas, maka jelas terlihat bahwa keterbatasan komunikasi bisa melatih tanggung jawab seseorang. Berbeda dengan masa sekarang, yang sudah disusupi digitalisasi pada media komunikasi. Seolah-olah berpacaran dan bergonta ganti pasangan menjadi hal yang lumrah dan mudah dilakukan. Oleh karena itu, saya berpandangan bahwa penyebab merosotnya arti cinta di masa sekarang adalah cara berpikir seseorang yang mulai berubah dengan makna cinta tersebut.

Seorang psikolog sosial yakni Eli Finkel, dalam bukunya yang berjudul "The All-Of Nothing Marriage: How the Best Marriages Work" menjelaskan bahwa hubungan masa kini sangat berat, dan tercatat sebanyak 42 persen pernikahan berakhir perceraian. Selain itu, para ahli juga mencari penyebab banyaknya kasus perceraian. Salah satu penyebabnya adalah sikap over idealis. Eli Finkel menjelaskan bahwa saat ini banyak pasangan yang mempunyai ekspektasi berlebihan terhadap hubungan cintanya.

Selain itu, dalam Journal of Social and Personal Relationship yang telah menganalisis sebanyak 269 pasangan muda tentang ekspektasi dalam pernikahan. Dan hasil risetnya adalah ketika ekspektasi dan realita tidak tercapai, banyak pasangan yang memutuskan hubungan pernikahannya.

Data perceraian pada tahun 2021 yaitu sebanyak 447.743 kasus, dan naik 54% dari tahun sebelumnya. Dari kasus perceraian tersebut bukan dijadikan hal untuk ditakuti ya Guys, tapi perlu menjadi bahan pertimbangan saja.

Menjalankan pernikahan memang bukan hal yang mudah, apalagi jaman sekarang yang faktor x nya lebih beragam. Tapi bukan dijadikan hal untuk tidak menikah ya Guys. Apabila sesama pasangan bisa menumbuhkan cinta yang positif dan bisa menahan ego masing-masing, pernikahan bisa dipertahankan kok. Dan jangan lupa untuk menurunkan ekspektasi dalam pernikahan. Biar pernikahan kita bisa seawet orang tua pada jaman dahulu. So, hargain pasangannya ya dan bertanggung jawab!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan