Mohon tunggu...
Wahyu Saputra
Wahyu Saputra Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis di saputrawhy.com

Mencoba sedikit salah | Penulis buku The Missing Point (EA Books, 2021)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Ilusi Tujuan: Ketika Tujuanmu Menjadi Tidak Berarti

2 Februari 2021   17:42 Diperbarui: 3 Februari 2021   13:51 594 18 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ilusi Tujuan: Ketika Tujuanmu Menjadi Tidak Berarti
Ilustrasi oleh Simon Migaj / Unsplash

Dari seorang yang biasa, J. Robert Oppenheimer, menjelma menjadi salah satu orang yang memiliki andil besar dalam jatuhnya banyak korban di perang dunia kedua.

Oppenheimer berspesialisasi dalam fisika teoretis. Kepintarannya membawanya lulus dari Harvard, menjadi profesor di UC Berkeley, dan juga bekerja di Princeton dan Caltech.

Dua bulan sebelum Amerika Serikat ikut serta dalam perang dunia kedua, Franklin D. Roosevelt menyetujui proyek pengembangan bom nuklir. Nama Oppenheimer masuk setelah ketua National Defense Research Committee, James B. Conant, yang juga merupakan salah satu dosen Oppenheimer di Harvard, mengundangnya untuk mengambil alih pekerjaan untuk perhitungan neutron cepat.

Pada tahun 1942, meskipun ada pertentangan dari pihak lain, Oppenheimer menerima kepercayaan untuk menjadi pemimpin proyek Manhattan—sebuah proyek untuk membuat bom nuklir pertama di dunia.

Proyek itu seperti mustahil mengingat teknologi yang belum maju. Artinya, para peneliti harus mengandalkan teori murni untuk menciptakannya. Dari pagi hingga lanjut ke pagi, Oppenheimer bekerja dengan timnya agar bisa menciptakan bom tersebut lebih cepat dari Jerman yang juga berusaha menciptakan penghancur serupa.

Pada 16 Juli 1945, untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, bom nuklir berhasil diciptakan oleh para peneliti Amerika. Mereka kemudian melakukan uji coba bom di Alamogordo, New Mexico, yang lebih dikenal dengan Trinity—yang juga merupakan nama kode ledakan pertama nuklir.

Booommmm! Sebuah ledakan berbentuk jamur menjadi saksi keberhasilan Oppenheimer dalam memimpin proyek Manhattan. Setelah itu, dunia mengenalnya sebagai father of the atomic bomb.

Bom Nuklir Pertama / theatlantic.com
Bom Nuklir Pertama / theatlantic.com

Cerita itu kemudian membuka lembaran baru yang tidak pernah dirasakan Oppenheimer sebelumnya.

Di saat menyaksikan ledakan itu, Oppenheimer teringat dua ayat Bhagavad Gita yang mencerminkan dua perasaannya yang kontradiksi.

  1. Divi srya-sahasrasya bhaved yugapad utthit yadi bh sad s syd bhsas tasya mahmana. (Jika pancaran seribu matahari meledak secara bersamaan ke langit, itu akan seperti kemegahan yang perkasa.)
  2. Klo'smi lokakayaktpravddho loknsamhartumiha pravtta. (Aku menjadi maut, penghancur dunia.)

Ayat pertama memang menggambarkan kebanggaannya karena berhasil, tetapi ayat kedua adalah penyesalan nyata yang tidak bisa dia tolak. Dua perasaan itu mengobrak-abrik hati dan pikirannya. Perasaan mana yang menjadi pemenang dijelaskan Oppenheimer dalam kesaksiannya di siaran televisi pada tahun 1965.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x