Mohon tunggu...
Wahyu Saputra
Wahyu Saputra Mohon Tunggu... Penulis di saputrawhy.com

Mencoba sedikit salah dengan menyelami self-exploration.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kekosongan, Terikat pada Satu Identitas

2 Desember 2020   08:07 Diperbarui: 5 Desember 2020   04:04 214 16 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kekosongan, Terikat pada Satu Identitas
Ilustrasi kesendirian. (Ameer Basheer/Unsplash)

Bayangkan jika kamu adalah seorang atlet renang Olimpiade. Kamu telah mempersiapkan semuanya dengan baik. Kamu memperhatikan pola makan dan kebutuhan gizimu secara ketat, berlatih dari hari ke hari untuk memecahkan rekormu sendiri, bahkan untuk sementara waktu, kamu menyempitkan hidupmu hanya untuk berenang. Semua kamu lakukan agar kamu bisa melihat emas dikalungkan di lehermu.

Sayangnya, saat hari besar itu datang, waktumu di garis akhir hanya menunjukkan bahwa kamu nomor empat. Kamu kalah.

Normalnya, kamu akan merasakan kekecewaan, atau yang lebih buruk, depresi karena gagal membayar kepercayaan yang diberikan oleh negaramu. Perasaan bangga yang sebelumnya ada tiba-tiba runtuh hanya dalam waktu yang singkat.

Kamu mungkin memang bukan atlet dalam kehidupan nyata, tetapi kejadian seperti itu bukanlah sebuah imajinasi kosong. Psikolog olahraga Scott Goldman menyebutnya sebagai post-Olympic depression.

Jika kamu mengira itu hanya berlaku bagi para atlet yang kalah, kamu salah. Faktanya, post-Olympic depression juga menyerang mereka yang berhasil mendapatkan medali emas.

Pada Olimpiade London 2012, Allison Schmitt, atlet renang wanita dari Amerika, tenggelam dalam perasaan yang tidak pernah kita pikirkan ada dalam diri seorang pemenang. Setelah memenangkan lima medali di mana tiga di antaranya emas, Allison mengalami depresi dan membutuhkan konseling.

Mark Spitz, seorang perenang Amerika di tahun 70-an yang memenangkan tujuh medali emas dan mencetak tujuh rekor dunia di '72 Munich Games menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran para atlet.

...Jika aku berenang enam kali dan menang enam kali, aku menjadi pahlawan. Jika aku berenang tujuh dan menang enam, aku gagal.

Kita memang tidak bisa membenarkan bahwa apa yang dirasakan Allison adalah karena 'kegagalannya' untuk menyapu bersih seluruh emas, tetapi berdasarkan Spitz, kita bisa melihat bahwa beberapa atlet memiliki masalah dalam memperlakukan sebuah hasil. Dan, itu menyangkut identitas diri mereka.

Goldman setuju bahwa ketika para atlet terlalu mengidentifikasi diri dengan olahraga mereka, mereka dapat kehilangan kesadaran tentang siapa mereka. Mereka terlalu kaku dengan identitas sebagai perenang. Sehingga ketika dihadapkan pada kehidupan biasa, mereka menemukan kesulitan karena kehilangan persaingan yang meningkatkan adrenalin, perhatian penonton dan media, serta kemenangan.

Dengan kata lain, mereka kecanduan untuk memegang status mereka sebagai atlet hingga sulit menerima semua kenyataan saat menjadi organisme yang hanya berstatus manusia. Mereka kesulitan memulai kehidupan dengan lembaran baru karena tempat ternyaman mereka tidak lagi tersedia.

Dua Fungsi Identitas

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x