Mohon tunggu...
Wahyu Saputra
Wahyu Saputra Mohon Tunggu... Penulis di saputrawhy.com

Mencoba sedikit salah dengan menyelami self-exploration.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Seni Memainkan Peran untuk Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

19 November 2020   08:13 Diperbarui: 6 Desember 2020   14:56 1225 19 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seni Memainkan Peran untuk Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
ilustrasi membandingkan diri dengan orang lain. (sumber: pxiabay.com/geralt)

Salah satu kemudahan yang diberikan teknologi adalah kemudahan untuk membandingkan diri kita dengan orang lain.

Media sosial menjadi tempat di mana kita bisa melihat pasangan yang harmonis dan melihat diri sendiri yang masih gagal dalam menjalin hubungan. Kita bisa melihat mereka yang berlibur ke luar negeri dan melihat diri sendiri yang masih sebatas memenuhi kebutuhan pokok. Kita bisa melihat mereka yang mendapatkan jabatan penting di perusahaannya dan melihat diri sendiri yang masih tinggal dalam stagnasi.

Lalu, apa yang kita dapat dari perbandingan tersebut? Kita seperti diundang ke dalam sebuah koloseum di mana ada pertandingan pola pikir—growth mindset dan fixed mindset

Jika pemenangnya adalah growth mindset, kita akan berakhir dengan perasaan berapi-api karena melihat sebuah hasil berasal dari investasi sumber daya yang bisa diusahakan oleh setiap orang, tetapi jika pemenangnya adalah fixed mindset, kita akan berakhir dengan merendahkan diri karena menganggap hasil yang dicapai orang lain hanya berasal dari keberuntungan.

Kita ini aneh. Kita sering mengatakan bahwa kita harus mencintai diri sendiri jika ada sesuatu yang membahayakan. Jika ada api yang membakar tangan, sebisa mungkin kita akan menyelamatkan tangan kita. Jika ada seseorang yang akan memukul kita, secepat mungkin kita akan menghindarinya. Itu memang bentuk mencintai diri sendiri, tetapi apakah kita sudah melakukan itu dengan sepenuhnya?

"Aku sering bertanya-tanya bagaimana mungkin setiap orang mencintai dirinya sendiri lebih dari orang lain," kata Marcus Aurelius, "tetapi masih menempatkan pendapatnya sendiri dengan nilai yang lebih rendah daripada milik orang lain." 

Dengan kata lain, kita ini seringkali mencintai diri sendiri hanya sebatas fisik, tetapi jika berbicara tentang mental, kita belum melakukannya. Kita kuat untuk menjaga tubuh, tetapi lemah untuk menjaga pikiran.

Air yang Mematikan

Dalam serial dokumenternya, Inside Bill's Brain: Decoding Bill Gates, Bill diberi pertanyaan tentang apa ketakutan terbesar yang dimilikinya. Dengan sedikit merenung, dia kemudian menjawab, "Aku tidak mau otakku berhenti berpikir." 

Itu adalah jawaban yang sangat masuk akal karena Bill merupakan seorang yang gila belajar. Sejak kecil, dia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar untuk membaca meskipun itu waktunya makan bersama keluarga. 

Kebiasaannya tersebut selalu dia jaga sampai sekarang untuk menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaannya atau jawaban atas permasalahan yang ingin diselesaikannya.

Suatu hari, Bill membaca koran pagi. Perhatiannya kemudian tertuju pada sebuah artikel yang memuat foto anak-anak yang mengambil air dengan judul For Third World, Water Is Still Deadly Drink—Bagi Negara Berkembang, Air Masih Menjadi Minuman yang Mematikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x