Mohon tunggu...
Wahyu Saputra
Wahyu Saputra Mohon Tunggu... Penulis di saputrawhy.com

Mencoba sedikit salah | Penulis buku The Missing Point (EA Books, 2021)

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

2 Cara Memperlakukan Informasi, Kamu yang Mana?

16 November 2020   10:03 Diperbarui: 17 November 2020   17:38 853 14 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
2 Cara Memperlakukan Informasi, Kamu yang Mana?
Ilustrasi (Unsplash/Dmitry Ratushny)

Jika ada seorang anak laki-laki berusia 15 tahun bertanya padamu bagaimana cara membayar barang di toko, apa reaksimu? Aku yakin, kebanyakan dari kita akan menganggap itu sebagai hal aneh atau bahkan bodoh. Yakali anak 15 tahun nggak tahu bagaimana cara melakukan hal sederhana seperti itu, kan?

Tetapi bagaimana jika aku menambahkan konteks di sana? Pertama, anak tadi menderita social anxiety di mana dia memiliki ketakutan atau kecemasan yang berlebihan ketika melakukan interaksi sosial. Kedua, anak itu ingin mencoba berbelanja sendiri, ditambah orang tuanya menginginkan dia untuk belajar mandiri.

Apakah kamu ingin mengubah kesimpulan awalmu? Hmmm, kamu memiliki 100% kontrol penuh untuk memodifikasinya atau tidak, tetapi satu hal yang harus kamu tahu, cerita itu bukanlah cerita fiksi yang aku buat. Itu adalah cerita nyata yang aku temukan di Reddit.

Tangkapan layar dari Reddit
Tangkapan layar dari Reddit
Kita sering melakukan hal yang sama dalam kejadian yang berbeda. Kita mengambil kesimpulan tentang suatu peristiwa hanya dari sepotong informasi tanpa mau melihat konteks yang lebih luas. 

Namun, mengapa kita melakukannya? 

Dalam psikologi ada istilah pattern recognition yaitu keadaan di mana informasi yang kita terima masuk ke memori jangka pendek, dan mengaktifkan informasi tertentu dari memori jangka panjang. 

Sederhananya, ketika indra kita menangkap informasi - entah itu dalam bentuk suara, tulisan, tindakan, bau, atau sentuhan - otak akan dengan cepat mencocokkannya dengan memori yang sudah kita ketahui sebelumnya.

Contoh lain misalnya, ketika kamu melihat cowok bertato menangis, apa yang ada dalam pikirkanmu? Mungkin kamu menganggap hal itu sebagai hal yang konyol dan berpikir, "Masa cowok, tatoan, nangis". 

Di sana, tato menjadi informasi yang memicu memorimu sebelumnya. Apa itu? Kepercayaan bahwa tato adalah lambang kemacoan jika itu dilekatkan pada laki-laki. Padahal, jika mau menggali lebih dalam lagi, kita bisa menyadari bahwa tato itu sebenarnya tidak bisa mengubah sifat dasar manusia. Jadi, sah-sah saja cowok bertato menangis karena itu memang salah satu yang menjadikannya manusia.

Poin yang ingin aku sampaikan adalah otak kita itu sangat mencintai pola. Dengan pola, otak tidak harus memikirkan sesuatu dengan keras. Artinya, dia bisa menyimpan energi. 

Maka, sangat masuk akal jika kita sering kali mengambil kesimpulan tentang suatu peristiwa secara cepat karena kita mendasarkannya pada kepercayaan, informasi, atau pengalaman yang sudah kita lalui sebelumnya, terlepas itu salah atau benar. Ini menunjukkan bahwa kita tahu tentang apa yang kita pikirkan (what to think), tetapi tidak tahu tentang bagaimana cara memikirkannya (how to think).

What To Think

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN