Mohon tunggu...
Wahyu Saputra
Wahyu Saputra Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis di saputrawhy.com

Mencoba sedikit salah | Penulis buku The Missing Point (EA Books, 2021)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengakui Ketidaktahuan untuk Menerima Kenyataan

7 November 2020   09:15 Diperbarui: 10 November 2020   16:22 205 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengakui Ketidaktahuan untuk Menerima Kenyataan
Ilustrasi (Pixabay/Lars_Nissen)

Kehidupan memang tidak selalu sejalan dengan apa yang kita skenariokan. Masa depan yang kita harapkan sebagai tempat yang tenang, aman, dan nyaman, bisa saja berakhir dengan kenyataan pahit yang mengecewakan.

Ya, begitulah kehidupan. Dia memang selalu bisa menemukan cara untuk memberi pukulan terkerasnya untuk kita. Dia juga tidak peduli dengan perasaan kita meskipun kita tidak mau menikmati rasa sakit dan bersikeras menghindari ketidaknyamanan.

Di keadaan seperti itu, akan mudah bagi kita untuk membagi sifat peristiwa yang terjadi ke dalam dua kategori: baik dan buruk.

Namun, apakah baik dan buruk itu bisa kita terapkan dalam melihat sebuah kenyataan dalam hidup?

Dalam kuliahnya tentang Taoisme yang berjudul Swimming Headless, Alan Watts, seorang filsuf Inggris yang memopulerkan filsafat timur kepada audiens barat, menceritakan kisah yang bisa memberi gambaran bagaimana seharusnya kita bersikap saat kenyataan datang.

Suatu ketika, seekor kuda milik petani Cina kabur. Malam itu, semua tetangganya datang untuk bersimpati. Mereka berkata, "Kami sangat menyesal mendengar kudamu kabur. Ini sangat disayangkan."

Petani itu berkata, "Mungkin."

Hari berikutnya kuda yang hilang itu kembali dengan membawa tujuh kuda liar dan pada malam hari semua orang kembali dan berkata, "Oh, bukankah itu keberuntungan. Pergantian peristiwa yang hebat. Anda sekarang memiliki delapan kuda!"

Petani itu berkata, "Mungkin."

Keesokan harinya putranya mencoba untuk mengistirahatkan salah satu kudanya dan saat menungganginya, ia terlempar dan kakinya patah. Tetangga kemudian berkata, "Ya ampun, itu buruk sekali."

Petani itu menjawab, "Mungkin."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x