Mohon tunggu...
Hb. Sapto Nugroho
Hb. Sapto Nugroho Mohon Tunggu... Administrasi - Hidup ini adalah Pikink ( Selalu senang dan bersyukur ), sementara tinggal di Tokyo

senang berbagi cerita

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kapan Harus "Lockdown"?

29 Maret 2020   19:49 Diperbarui: 29 Maret 2020   19:55 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Banyak teman menanyakan gimana keadaan "Tokyo", tentu saja dalam kaitan situasi sekarang ini yaitu meluasnya penyebaran virus corona. Jawaban saya adalah : Tokyo keadaannya "normal", dalam artian aktifitas masih seperti biasa hanya ada beberapa hal yang sedikit berubah.

Kehidupan Normal tapi sedikit berubah

Perubahan yang ada adalah : Berkurangnya wisatawan yang datang ke Jepang/Tokyo, Tempat2 wisata yang banyak dikunjungi orang sementara ditutup, Untuk yang bisa bekerja dari rumah diharapkan bekerja dari rumah, Event atau acara konser atau pentas yang sifatnya mengumpulkan orang banya diminta untuk ditunda atau dibatalkan ( termasuk pertandingan olah raga dan beberapa acara tetap pertandingan liga beberapa cabang olah raga)..

Toko-toko kebutuhan hidup sehari-hari masih buka dan berjualan seperti biasa. Hanya restaurant,  karena sifatnya orang berkumpul, maka sebagian besar sudah tutup. Kegiatan keagamaan pun tidak lepas dari anjuran ini, maka kegiatan acara di gereja atau mesjid pun semua ditiadakan.

Transportasi umum seperti kereta, bis , taxi semua berjalan seperti biasa, tidak ada penguranan frekuensi. Justru pengurangn frekuensi akan menimbulkan "kerumunan" atau "kepadatan" jumlah orang. Dengan sebagian warga diam di rumah atau kerja dari rumah, maka jumlah penumpang kereta pun berkurang, tetapi jumlah kereta yang jalan tetap sama. Dengan demikian untuk orang yang memang "harus" pergi tidak terganggu.

Situasi awal dan sekarang

Sejak mulai menjangkitnya virus corona di Wuhan, maka kasus pertama yang menjadi perhatian di Jepang adalah kapal pesiar yang mendarat di pelabuhan Yokohama. Karena kapal ini singgah di salah satu pelabuhan di China, maka penumpang dan awak kapalnya tidak boleh turun. ( Beberapa awak kapalnya ada yang warga negara Indonesia ). Memang penanganan pemeriksaan penumpang di kapal ini dinilai agak lambat, karena baru selesai hampir 3 minggu. Pemeriksaan PCR di jepang tidak sebanyak atau semudah seperti di Korea.

Penyebaran virus corona selain dari penumpang kapal pesiar, dimulai dengan sopir bis wisata dan guide nya. Diketahui bahwa sopir ini mengemudikan bis wisatawan dari China, beberapa orang berasal dari Wuhan. Setiap ada data yang terjangkit, semua diselidiki kemungkinan pulang dari luar jepang atau pernah berinteraksi dengan siapa. Sebelum jauh merabak virusnya, terlebih dulu semua sekolah dari SD sampai SMA selama dua minggu diliburkan sejak tanggal 2 sampai 15 Maret beberapa waktu yaang lalu.

Keputusan himbauan untuk tetap tinggal di rumah dan libur sekolah ini diambil pemerintah setelah mendengar pendapat dana nasehat dari para ahli. Para ahli memberikan masukan ke pemerintah tentang situasi yang ada dan perkiraannya.

Dalam debat di parlemen, juga dibicarakan tentang "situasi darurat". Penetapan situasi darurat, yang salah satunya bisa melakukan penutupan kota atau negara ( lockdown ) tidak bisa dilakukan begitu saja, ada syarat2 yang dipenuhi. Jepang, dalam hal ini pemerintahan Perdana Mentri Shintaro Abe, menempatkan keadaan darurat sebagai pilihan akhir. Diprioritaskan untuk usaha pencegahan dan penanganan dahulu.

Situasi gawat darurat baru akan diambil jika "kapasitas penyediaan tenanga dan perlengkapan medis sudah tidak mampu lagi atau melewati batas dan situasi kesehatan dan kehidupan rakyat sudah dalam bahaya."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun