Mohon tunggu...
Santi Titik Lestari
Santi Titik Lestari Mohon Tunggu... Menulis itu membebaskan diri kita dari banyak hal dan membawa diri kita ke banyak belahan dunia.

Penulis yang ingin terus berusaha menjadi penulis yang sebenarnya. :D

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Kita dan "Sibuk", Sahabat atau Budak?

21 Juli 2019   23:33 Diperbarui: 21 Juli 2019   23:43 0 5 2 Mohon Tunggu...

Tanpa disadari, ternyata kata "sibuk" punya peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya sekadar berurusan dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari, tetapi kata "sibuk" ternyata menjadi salah satu senjata terpopuler untuk mengisi kekosongan jiwa. Benarkah?

Sibuk dalam Pekerjaan

Dalam kehidupan sehari-hari, kata "sibuk" erat kaitannya dengan "banyak yang dikerjakan", bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pun mendefinisikannya demikian. 

Saking banyaknya yang dikerjakan, seseorang cenderung lebih gampang untuk memutuskan menyelesaikan pekerjaan di kantor dibandingkan dengan pulang ke rumah tepat waktu dan menikmati waktu bersama keluarga seperti yang seharusnya. Atau, malah kadang pulang tepat waktu, tetapi tetap membawa pekerjaan kantor ke rumah dan segera mengerjakannya lagi begitu sudah sampai di rumah. 

"Sibuk" sering kali menuntut seseorang untuk melakukan banyak hal, memenuhi pikiran seseorang dengan "deadline-deadline" yang berjajar, dan mendesak ambisi seseorang untuk terus mengerjakannya sampai selesai ... yang seringnya memang sulit mencapai kata "selesai". 

Mengapa? Ketika bekerja, seseorang sering kali ingin menjadi yang terbaik (entah dalam kadar yang mana), paling unggul, dan bisa mengerjakan banyak hal dengan baik/sempurna. Itu tidak salah. 

Hanya, kalau sampai kesibukan memperbudak kita dan menyebabkan orang lain menderita, atau membuat kita menjadi terperangkap dengan rasa selalu tidak puas, ya lebih baik dipikirkan ulang apakah kita "sibuk" dalam arti yang benar. Sebanyak apa pun pekerjaan kita, mari kita bersikap arif dalam menyikapinya dan tetap memikirkan hal-hal di sekitar kita yang masih membutuhkan perhatian kita.

Sibuk dalam Rutinitas

Seorang ibu rumah tangga memang tidak bekerja di kantor, tetapi dia juga termasuk sibuk. Salah satu pekerjaan yang tidak ada habisnya/tidak pernah benar-benar selesai adalah pekerjaan rumah tangga. Hari ini dianggap selesai, besok-besoknya masih mengerjakan hal yang sama dan sama lagi. Apalagi ditambah mengurus balita. Baru selesai mengepel, eh 10 menit kemudian sudah kotor lagi ... kena tumpahan susulah, remahan roti, cokelat, dan apa saja yang dia bawa. 

Ditambah lagi jika anak berlari ke sana-kemari ketika disuapi, si ibu benar-benar akan menjadi atlet ... kerjakan banyak hal, lari ke sana-kemari, siapkan ini-itu, dll.. Karena itu, menurut saya, menjadi ibu rumah tangga termasuk golongan orang sibuk yang akut. Namun, kesibukan seorang ibu rumah tangga seringnya membawa hasil yang bisa dinikmati setiap hari dan menciptakan kepuasan yang signifikan. 

Kesibukan bisa menjadi sahabat kita jika kita bisa menguasainya dengan baik. Sekalipun banyak hal harus dikerjakan, kita harus bijak dalam mengatur pekerjaan, mengolah emosi, dan menetapkan target setiap hari.

Sibuk Menjadi Senjata Kekosongan Jiwa

Salah satu sapaan yang sering dilontarkan kebanyakan orang ketika mereka bertemu dengan rekannya/teman lama adalah "Kamu sibuk apa sekarang?" Kalimat ini menjadi jurus andalan hampir kebanyakan orang untuk memulai pembicaraan yang "mungkin" berpotensi kaku. Hal ini mencerminkan betapa kata "sibuk" menjadi bagian yang mengakar dalam diri seseorang. 

Setiap orang mengalaminya, dan setiap orang merasa perlu mengalaminya. Di satu sisi, seseorang memerlukan kesibukan (dalam artian pekerjaan) karena membutuhkan penghasilan untuk hidup. Selain itu, bisa juga karena ingin mengisi waktu luang dengan melakukan hal-hal yang berguna.

Namun, ada alasan lain lagi tentang hal ini. Mengapa ada orang yang merasa perlu mengalami kesibukan? Disadari atau tidak, ada satu aspek lain, yaitu ketika seseorang mengalami kekosongan jiwa, pasti dia akan mencari kesibukan, melakukan apa saja yang dia bisa. Seolah-olah dengan melakukan banyak hal, jiwanya terisi, kegundahannya teralihkan, atau kesedihannya berkurang. 

Benarkah bisa menolong? Untuk sementara, mungkin bisa menolong. Namun, untuk jangka panjang, tidak. Jiwa yang kosong harus diisi dengan sesuatu yang rohani, bukan sesuatu yang bersifat fisik. Hal-hal fisik hanya bisa menolong mengalihkan perhatian atau pikiran, tetapi tidak mengisi jiwa. 

Karena itu, jika memang kita merasakan adanya kekosongan dalam jiwa (bisa karena kelelahan rohani, kekecewaan, kesedihan, kehilangan, putus asa, putus cinta), ya kita berdoa dan minta supaya Tuhan memberikannya kepada kita (kedamaian, ketenangan, pengampunan, pengharapan, dll.). Jangan sampai kita terus menyibukkan diri dan malah menjadi makin lelah, baik jasmani maupun rohani.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x