Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Blogger/Content Creator

when you can became smarter, but you choose being stupid.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Tragedi Kanjuruhan, Bom Waktu Sepak Bola Indonesia

3 Oktober 2022   08:58 Diperbarui: 3 Oktober 2022   09:12 209
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tragedi Kanjuruhan (Okezone)

Mengawali artikel ini Penulis turut berbela sungkawa atas jatuhnya korban atas tragedi Kanjuruhan, semoga para korban ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah Swt. dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.

Kiranya tidak yang menduga pertandingan sepakbola yang sejatinya menghibur justru menjadi petaka tatkala ratusan lebih nyawa berjatuhan dan luka-luka lainnya. Tragedi di stadion Kanjuruhan menjadi kabar duka yang menyayat hati di tahun 2022 dan sejarah kelam persepakbolaan di Indonesia.

Lantas siapa yang bertanggungjawah atas tragedi tersebut? Tentu kita tidak bisa asal tunjuk karena masih dalam proses penyelidikan, semua harus disingkapi dengan kepala dingin disertai motivasi untuk melakukan perbaikan dalam tata kelola sepakbola di Indonesia.

Merunut kejadian, tragedi stadion Kanjuruhan bermula saat laga Arema FC versus Persebaya berkesudahan dengan skor 2-3. Suporter yang tidak menerima hasil pertandingan tersebut kemudian merangsek masuk ke dalam lapangan dengan melompati pagar pembatas berusaha menghampiri para pemain. Aparat pun segera melakukan pengamanan kepada pemain, namun situasi berubah menjadi tidak kondusif hingga berujung petaka.

Mengacu pada peristiwa yang terjadi, Penulis menilai momentum saat suporter merangsek masuk ke dalam perlu diselidiki apakah lahir dari spontanitas ataukah provokasi?

Jika berlandaskan kemarahan (spontanitas), gambaran pertandingan semalam antara Manchester City versus Manchester United (6-3) maka bisa saja suporter MU yang tidak terima akan kekalahan menghampiri para pemain MU guna meluapkan kemarahan, akan tetapi kita bisa lihat bahwa hal itu tidak terjadi.

Boleh jadi kemungkinan terburuk itu sudah lebih dahulu diantisipasi, apakah dengan pengamanan berlapis dan sanksi berat baik kepada panitia pelaksana maupun pelaku kerusuhan. Akan tetapi yang paling jelas yaitu para suporter di Negeri Raja Charles sana lebih dewasa menyingkapi skor akhir.

Hal ini yang menjadi letak kekurangan persepakbolaan di Indonesia, acapkali para suporter terbawa kepada sebuah rivalitas abadi antar klub hingga berujung bencana. Edukasi terhadap suporter akan sepakbola memang kurang dan seringkali diabaikan hingga menjadi bom waktu yang bisa kapanpun meledak. 

Ketika negara lain sudah menjadikan sepakbola sebagai industri besar dimana tidak hanya menghibur (sportainment) dan menghasilkan talenta, sedangkan sepakbola di Indonesia sendiri masih layaknya tarkam.

Tragedi Kanjuruhan menjadi sebuah pelajaran yang sangat mahal dan pedih untuk memulai evaluasi mendalam dan menyeluruh akan penyelenggaraan kompetisi baik liga maupun skala internasional di Indonesia, sudah pantas dan siapkah kita?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun