Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Idealisme, Barang Langka bagi Media dan Blogger

17 April 2018   10:16 Diperbarui: 17 April 2018   20:34 1693 8 5
Idealisme, Barang Langka bagi Media dan Blogger
sumber: media.motivateme.in

Sudahkah anda menonton film The Post? Film ini merupakan arahan sutradara ternama Steven Spielberg yang di adaptasi dari kisah nyata harian The Washington Post sekitar tahun 1960-an. 

Berceritakan Katherine Graham (Merly Streep) sebagai pemilik The Washington Post dan dibantu oleh kepala editor Ben Bradlee (Tom Hanks) serta rekan lainnya bersama-sama menjadi pionir bangkitnya kebebasan pers dalam mengungkap skandal The Pentagon Papers. 

Sebuah skandal yang sangat menghebohkan di negeri Paman Sam kala itu dimana membahas keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam dan menggiring segelintir pejabat dalam pemerintahan.

Sebelum skandal Pentagon Papers itu tersebar ke publik oleh media, Katherine dan Ben mengalami beragam kendala. Sebagai tokoh terpandang, Katherine sangatlah dihormati dan disegani. 

Posisinya sebagai pemilik The Washington Post (perusahaan yang dibangun oleh ayah-nya dan sebelumnya dipimpin oleh mendiang suaminya) punya banyak pengaruh dan memudahkannya bergaul dengan orang-orang penting tak terkecuali dalam pemerintahan. 

Situasi ini menjadikan dilema bagi Katherine tatkala The Washington Post juga sedang menguatkan pondasi perusahaan dengan masuk ke bursa saham, namun Ben Bradlee melalui asisten editor Ben Bagdikian kekeuh berupaya mempublikasi dokumen rahasia terkait skandal Pentagon Papers.

Alhasil dibalik keraguan dan rancu, Katherine dengan bulat sepakat untuk mempublikasi dokumen rahasia tersebut ke publik dengan dalih kebebasan pers serta media berfungsi untuk mengungkapkan fakta dan kebenaran. Langkah yang idealisme The Washington Post pun diikuti oleh harian koran lainnya dan mengungkap terbongkarnya skandal Pentagon Papers.

Apa yang coba dibahas dalam film dengan durasi 2 jam ini memang sangatlah menarik, walau saat ini era media cetak telah memudar dan mulai tergantikan akan tetapi film tersebut seolah menggambarkan realita dibalik bisnis media. 

Keberadaan orang-orang penting di sekitar media merupakan mutlak sebuah keniscayaan, segelintir orang-orang penting bukan saja bermanfaat pada kestabilan bisnis media tetapi juga memudahkan akses bagi media dalam mencari informasi sebanyak-banyaknya sebagai sumber nafkahnya

Tentu pertanyaannya sekarang adalah apakah di zaman now ini masih ada media yang mengagungkan idealisme layaknya apa yang The Washington Post lakukan?

Merujuk pada realita yang terjadi di Indonesia bisa dikatakan idealisme media-media yang ada terpantau samar. Hal ini didasari walau akses informasi lebih mudah dan cepat berkat hadirnya internet akan tetapi publik sulit sekali sekarang ini membedakan antara mana benar dan direkayasa.

 Alih-alih media berupaya mengungkapkan fakta dan kebenaran justru dinilai sebagai rekayasa, sebaliknya pemberitaan yang bersifat settingan malah membuat kehebohan dan publik gandrungi.

Mencari media yang benar-benar independen di negeri ini mungkin ibarat barang langka, alhasil umum bermain aman dan menghindari risiko yang memungkinkan bisnisnya terpuruk. Yang sangat disayangkan akibat dari tumpang tindihnya kepentingan media menginisiasi lahirnya banyak media abal-abal yang kian memperkeruh keadaan, memproduksi berita-berita tak bermutu, dan menjerumuskan publik kepada berita bohong (hoax).

Lanjut kepada ranah blogger, ya satu profesi yang sedang tumbuh pesat ini kian dilirik publik sebagai sumber referensi informasi. Blogger memiliki keunikan secara personal (individu) sebagai daya tariknya dan yang membuatnya berbeda dengan media jurnalistik pada umumnya sehingga memberikan nuansa baru dalam arus informasi. 

Sebagai agent of change, blogger posisinya sekarang ini tidak bisa dipandang sebelah mata lagi, blogger punya lingkup informasi lebih luas dan beragam untuk dibahas namun permasalahannya adalah lingkup koneksinya terbatas.

Alih-alih sebagai agent of change tak sedikit blogger yang kini sedikit demi sedikit menanggalkan idealisme dalam dirinya, faktor ekonomi akibat biaya hidup yang tambah berat serta persaingan yang terjadi dalam ranah blogger menjadikan mereka membuka mata lebar-lebar dalam mencari peluang untuk bertahan.

Mereka lebih khawatir ketika mengungkapkan fakta maka pihak-pihak yang merekrut akan membencinya, mereka lebih takut tulisannya nanti tidak laku dan publik tidak lagi yang membaca, mereka lebih concern rezeki bak layaknya anak hilang. Tentu ini akan menjadi tantangan bagi blogger di masa mendatang untuk memutuskan kemana haluan yang ingin ia tuju.

Sejatinya idealisme bukanlah sesuatu yang bisa ditebus oleh nominal uang, melainkan profesionalisme.

Ketika sebuah informasi dipublikasi maka runutan kualitas informasi itulah yang dinilai, bukan malah individunya yang bisa dibeli. Dan bagi siapa-siapa yang menjual idealisme dalam dirinya maka individu tersebut tidak bisa lagi dipercaya.

Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.