Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Konteks "Pekerjaan" Selaku Brand Ambassador

16 April 2018   10:03 Diperbarui: 16 April 2018   19:17 3137 7 1
Konteks "Pekerjaan" Selaku Brand Ambassador
Ilustrasi: Kompas Tekno

Mengawali artikel ini tentu para pembaca tahu betul bahwa setiap usaha yang bergerak dalam bidang produksi dan jasa wajib melakukan promosi. Promosi adalah suatu kegiatan yang berhubungan dengan lini marketing dimana pelaku usaha menawarkan produk maupun jasa kepada konsumen agar tertarik. Sejatinya dalam kurun waktu tertentu pelaku usaha setidaknya mempersiapkan alokasi anggaran guna kegiatan promosi. 

Kegiatan promosi merupakan sesuatu hal yang rutin dilakukan dan umumnya menawarkan sesuatu yang baru. Walau demikian hal serupa dibutuhkan kepada produk maupun jasa yang senantiasa "dibutuhkan" oleh konsumen.

Sebagai gambaran, semisal produk rokok, walau rokok ibarat sudah menjadi makanan pokok bagi para konsumennya namun promosi rokok terus berkelanjutan.

Sedangkan besar kecil anggaran promosi relatif tergantung dari seberapa luas audensi konsumen yang dituju. Namun perlu digaris bawahi disini bukan berarti anggaran yang besar maka semakin efektif langkah promosinya, anggaran yang kecil dapat pula efektif bilamana dilakukan secara efisien.

Oleh karena itulah promosi merupakan kegiatan yang amat vital dalam upaya mencapai target maka promosi memerlukan strategi yang matang dan tepat sasaran.

Membahas kegiatan promosi tentu ada kaitannya dengan istilah "Brand Ambassador". Brand Ambassador merupakan penyebutan kepada sosok dimana dipandang mampu mempresentasikan produk maupun jasa dari brand atau merk agar antusiasme konsumen meningkat. 

Fokus dari fungsi Brand Ambassador adalah mengkomunikasikan (lebih intim) produk atau jasa yang ia bawakan melalui personalisasinya. Beberapa pelaku usaha menerapkan hal ini sebagai strategi bisnisnya, tak terkecuali para produsen smartphone.

Ya kehadiran Brand Ambassador di ranah dunia gawai menjadi hal yang lumrah di mata publik. Mereka (BA) didaulat oleh produsen telepon pintar dengan maksud agar produknya laku dipasaran melalui pesona yang dimiliki.

Tak sekadar mengiklankan, beberapa Brand Ambassador dituntut dapat melakukan interaksi secara berkala dengan produk telepon pintar dimaksud dalam aktivitas sehari-harinya.

Namun ternyata tak sedikit yang menanggapi secara miring hal di atas yang menilai Brand Ambassador layaknya penipu ulung, seperti "si A promosiin produk Android tetapi dalam kesehariannya si A gunakan produk iOS". Lalu apa yang menyebabkan timbulnya sikap skpetis publik terhadap Brand Ambassador?

Mengacu kepada apa yang terjadi, respon negatif publik kepada Brand Ambassador disebabkan oleh gagal pahamnya publik terhadap konteks "pekerjaan" selaku Brand Ambassador.

Benar bahwasanya sebagai Brand Ambassador bertanggungjawab atas tugas dan fungsinya, benar bahwasanya Brand Ambassador mempresentasikan misi dari produsen, akan tetapi publik pun harus paham bahwa lingkup kesemua itu sah berdasarkan hukum sebagaimana apa yang tertulis dalam kontrak kerjasama.

Tentu publik tidak bisa menggeneralisir bahwa semua Brand Ambassador sama. Layaknya pemain bola profesional yang ditunjuk sebagai Brand Ambassador oleh sebuah apparel ternama, dalam kontraknya si pemain bola diwajibkan menggunakan produk apparel selaku sponsor dan disertakan pula sanksi pemutusan kontrak bahkan denda bilamana si pemain bola melanggar perjanjian tersebut. 

Merujuk kepada kasus ini, komitmen yang dibuat tentu membicarakan nominal yang sangat besar. Produsen smartphone bisa saja melakukan hal tersebut berlaku kepada Brand Ambassador-nya, akan tetapi kembali lagi efektif dan efisiensi alokasi anggaran perlu dipikirkan matang-matang.

Pada kesimpulannya bahwa tidak ada yang melarang sebagai Brand Ambassador menggunakan produk yang bukan ia wakili, dengan catatan selama larangan tersebut tidak tertera dalam kontrak kerjanya.

Publik pun disarankan jangan terlalu dini dan begitu mudah menghakimi, baiknya teliti terlebih dahulu sebelum berkomentar. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

Artikel terkait :

- Seluk Beluk dalam Memilih Duta Merek