Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Tekno Pilihan

Ironi "Flashsale", Punya Uang tetapi Produk Terbatas

25 Februari 2018   11:05 Diperbarui: 25 Februari 2018   11:32 577 0 0

Dengan jumlah populasi penduduk terbesar peringkat 4 dunia, Indonesia memang memiliki potensi besar sebagai pangsa pasar yang sangat menjanjikan untuk memasarkan berbagai macam produk baik produksi maupun konsumsi. Tak lupa pula tingkat konsumerisme yang tinggi masyarakatnya menambah daya tarik Indonesia sebagai destinasi pasar utama. Beragam produk-produk mancanegara dapat ditemui disini, salah satunya yaitu smartphone atau ponsel pintar.

Animo masyarakat Indonesia terhadap smartphone terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, terbukti dengan semakin bertambahnya unit produk smartphone yang dikirim ke Indonesia baik oleh produsen lokal maupun luar negeri. Berdasarkan data Quarterly Mobile Phone Tracker yang dirilis IDC (International Data Corporation), jumlah pengiriman unit ke Indonesia dari tahun 2015 kuartal 1 sebanyak 6,3 juta unit, tahun 2016 kuartal 1 sebanyak 6,4 juta unit, dan pada tahun 2017 kuartal 1 sebanyak 7,3 juta unit.

Smartphone asal produsen Cina mengalami peningkatan yang signifikan dengan raihan 31%, akan tetapi smartphone asal produsen global masih merajai dengan raihan 47% walau mengalami trend penurunan, dan disusul oleh smartphone asal produsen lokal 17%, dan lainnya sebesar 6%. Berdasarkan data IDC kuartal 3 tahun 2017, 5 produsen smartphone yang menguasai pangsa pasar Indonesia antara lain : Samsung, Oppo, Advan, Vivo, dan Xiaomi. Mengacu dari data diatas maka dapat diperkirakan pangsa pasar smartphone di Indonesia pada tahun 2018 akan tetap bergairah seiring tingginya permintaan produk oleh konsumen.

Ada beberapa contoh yang bisa diamati betapa besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap smartphone, salah satunya yaitu dengan laris manisnya produk smartphone yang dipasarkan melalui toko online lewat event pre-order maupun flashsale. Beberapa smartphone seri terbaru yang diprakarsai produsen negeri Tirai Bambu di awal tahun ini ludes habis bak kacang goreng. Saking begitu besarnya animo konsumen terhadap produk bahkan sampai dilangsungkan beberapa kali flashsale, bahkan pada saat promo melaui penjualan offline sale tak segan mereka rela mengantri berjam-jam lamanya untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Hal tersebut dapat dimungkinkan sebagai bagian dari strategi marketing semata guna menarik lebih banyak konsumen.

Namun strategi marketing seperti itu bukanlah tanpa masalah. Strategi marketing dengan menarik minat pengguna melalui flashsale maupun berupa offline sale dapat berimbas buruk bagi citra produsen bilamana tidak dipersiapkan dengan baik. Bahwa benar baik flashsale dan offline sale seolah mampu menghipnotis konsumen untuk sesegera mungkin mendapatkan produk idaman dengan rayuan harga promo dan macam bonus lainnya, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah apakah stok barang yang ditawarkan berbanding sama banyaknya dengan jumlah konsumen yang perlu diantisipasi?

Sebagai gambaran apabila pihak produsen telah mempersiapkan unit smartphone sebanyak 1000 buah, ternyata antusiasme konsumen pada saat flashsale melebihi jumlah tersebut sebesar 2000 orang. Tentu hal ini akan menimbulkan defisit 1000 orang yang tidak bisa mendapatkan produk idamannya dan memungkinkan timbulnya rasa kecewa serta berimbas kepada citra produsen.

Dilain pihak strategi marketing melalui flashsale rawan permainan didalamnya. Acapkali permasalah yang ditemui pada saat flashsale barang berlangsung ketersediaan barang tiba-tiba habis dalam jangka waktu sekejap, entah apa disebabkan stok produk yang dijual sedikit dan terbatas, atau memang sesuatu hal yang disengaja untuk menggenjot pamor produk di pasaran? Oleh karena itu tak mengherankan bilamana muncul praduga bahwa flashsale hanya sekedar gimmic untuk menarik minat konsumen, tetapi dibalik hal tersebut produsen lebih mengutamakan distribusi ke agen yang menjual produk mereka.

Menanggapi permasalahan ini tentu kesemua tertuju kepada konsumen agar lebih bijak dalam bersikap. Sebagaimana produk yang baru maka selayaknya membutuhkan waktu untuk dapat mengakomodir banyaknya konsumen. Flashsale memang menarik dan dengan flashsale maka konsumen segera mendapatkan produk terbaru, namun bukan berarti sebagai konsumen menjadi terburu-buru mengganti unit yang baru serta bukan pula sebuah kompetisi dimana mencari siapa yang lebih dahulu dan yang terakhir kalah. Sebagai konsumen menjadi yang terbelakang bukanlah sebuah dosa, justru dengan menjadi terbelakang anda akan jauh lebih tahu banyak informasi baik kelebihan dan kekurangan prihal produk dimaksud. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.