Mohon tunggu...
Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Mohon Tunggu... Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Demam Pilgub DKI Jakarta 2017

14 Maret 2016   08:32 Diperbarui: 14 Maret 2016   08:53 322 2 6 Mohon Tunggu...

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta memang masih sekitar satu setengah tahun lagi, namun gaungnya telah berkumandang dalam kurun waktu kisaran 3 bulan terakhir. Dalam jangka waktu tersebut bisa kita amati adanya transformasi terhadap informasi-informasi seputar PilGub DKI Jakarta di tahun 2017 dimana umumnya ditenggarai oleh pemberitaan-pemberitaan di ragam media, walaupun demikian informasi tersebut masih berkutat seputar siapa-siapa saja sosok individu yang akan maju mencalonkan dirinya di PilGub mendatang.

Tidak bisa dipungkiri kalau dikatakan PilGub DKI Jakarta memiliki pamor lebih bahkan hampir setingkat Pemilihan Presiden, hal ini tidak hanya dilatarbelakangi Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan bisnis saja melainkan faktor besarnya nominal uang yang berputar didalamnya membuat setiap pribadi kepincut ingin menguasainya. Tak mengherankan bilamana Ibukota dijadikan target utama segelintir orang yang memiliki kepentingan didalamnya, gambaran mengenai hal tersebut bisa kita semua amati dengan mata kepala sendiri bahwa permasalahan di Jakarta umumnya timbul diakibatkan adanya kepentingan-kepentingan tersebut. 

Permasalahan yang kian hari terus saja menumpuk seiring bergantinya kepemimpinan, oleh karena itu Jakarta membutuhkan pemimpin yang mempunyai kapabilitas mumpuni menyelesaikan permasalahan tetapi bukan pemimpin yang justru membuka jalan kepentingan tertentu dan menambah permasalahan.

Inilah sisi menarik dari PilGub DKI 2017, sepeninggal Jokowi yang kemudian kini menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia periode 2014-2019 maka jabatan Gubernur DKI Jakarta diamanatkan kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan dipilihlah wakilnya Djarot Saiful Hidayat. Keduanya memiliki peran dan membagi tugas satu dengan yang lain, saling bahu membahu menyesaikan permasalahan Ibukota dan hubungan keduanya pun terlihat harmonis meskipun Ahok lebih mendominasi pemberitaan di ranah media.

Dari hal ini bisa kita amati bahwa Ahok sudah selayaknya menjadi magnet dalam pengertian ia menjadi kutub yang memiliki daya tarik kuat kepada media, kutub dimana sebagian pihak (saat ini) sedang mencari kandidat yang memiliki daya tarik sama kuatnya. Mengapa Penulis katakan sama bukan melebihi, hal tersebut dikarenakan dalam suatu gelaran pemilihan pemimpin daerah maka selayaknya kekuatan masing-masing kutub ditentukan oleh publik selaku pemilih. Jika saja yang Penulis prediksi demikian adanya terjadi maka saling adu kuat masing-masing kutub dapat menimbulkan potensi keributan serupa dengan apa yang terjadi pada masa PilPres 2014 lalu.

Aroma-aroma persaingan jelas sudah tercium semerbak di setiap penjuru sudut Ibukota bahkan ranah Kompasiana sekalipun, tensi-tensi tinggi akan pandangan individu seperti saling berlomba adu pendapat. Benih-benih keberpihakan mulai ditebar sambil menunggunya berbunga (pihak-pihak panas dingin menanggapi) dan kemudian berbuah kebencian diantara sesama. Pertanyaan Penulis sekarang, apakah anda yang sedang membaca artikel ini demikian adanya?

Apakah kita semua akan kembali diliputi oleh yang namanya "kebodohan" ? Kebodohan yang dilatarbelakangi luapan emosi merasa bahwa calon Gubernur DKI Jakarta mendatang yang didukungnya seolah sebagai Tuhan? Hilang nalar dan tanggalkan strata pendidikan, kita layaknya kembali ke zaman primitif dimana otot lebih utama ketimbang logika sedangkan di PilGub 2017 mendatang tujuannya adalah untuk bersama-sama yaitu warga DKI Jakarta.

Namun hal yang Penulis khawatirkan kiranya tidak akan terjadi bilamana kita semua berpikiran cerdas dan cermat dalam menilai setiap pandangan yang masuk dan tentunya mampu mengontrol emosi masing-masing sehingga tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab yang memungkinkan terciptanya tindakan-tindakan merugikan lebih lanjut maupun diri pribadi. Kiranya dalam kesempatan ini pula Penulis pun ikut menghimbau mari kita jadikan momentum ini untuk saling koreksi pribadi kita masing-masing dan sukseskan PilGub DKI Jakarta 2017 secara sehat. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x