Mohon tunggu...
Sang Pujangga
Sang Pujangga Mohon Tunggu...

aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk, aku berlindung dari kejahatan orang-orang yang zalim dan munafik, aku berlindung dari kebodohan dan kemalasan, aku berlindung dari fitnah harta, tahta dan wanita

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Anang Hermansyah dan Jurus “Bonek” Ala Ahok

21 Februari 2014   13:16 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:36 1548 11 14 Mohon Tunggu...

[caption id="attachment_323894" align="aligncenter" width="624" caption="Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)"][/caption]

Ada persamaan antara Ahok dan Anang Hermansyah dalam dunia politik. Sama-sama modal nekad alias “bonek”. Ketika dicalonkan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengaku tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Begitu pula dengan Anang Hermansyah. Ketika Partai Amanat Nasional (PAN) memintanya bergabung sebagai caleg, Anang tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Ketika caleg lain berlomba-lomba menyetorkan uangnya untuk partai pengusungnya hingga ratusan juta rupiah. Anang lebih memilih menyiapkan program kemanusiaan dan program social yang telah digagas bersama timsesnya.

Banyak pengamat politik yang mengatakan tingginya tingkat korupsi di Indonesia salah satunya disebabkan mahalnya biaya politik. Untuk menjadi pejabat publik seperti walikota, bupati atau gubernur, sang calon diharuskan menyerahkan maharnya hingga milyaran rupiah. Begitu juga untuk bisa menjadi anggota legislatif, sang caleg harus menyumbang ke partai hingga ratusan juta rupiah. Bahkan sekedar menjadi PNS saja, banyak yang harus rela menjual sawah orang tuanya. Cara-cara kotor seperti ini sudah umum diketahui. Sudah bukan rahasia lagi. Maka menjadi kecurigaan yang sangat beralasan, ketika sang calon tadi berhasil menempati posisi yang diinginkan maka dia harus mengembalikan modalnya. Dan jalan pintasnya adalah dengan melakukan korupsi. Maka menjadi hal yang lumrah ketika banyak kepala daerah atau penyelenggara negara ditangkap oleh aparat penegak hukum karena kasus korupsi.

Dalam hal ini Ahok telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua, bahwa untuk menjadi pejabat publik tidak harus mengeluarkan uang. Modalnya integritas, bersih, profesional dan kejujuran. Dan sikap Anang yang mengikuti jurus “bonek” Ahok patut untuk diberikan appresiasi. Dengan jurus “bonek” maka tidak ada beban untuk mengembalikan modal. Karena tidak ada hutang budi maka tidak perlu ada balas budi. Kerjanya bisa fokus untuk melayani rakyat.

Peluang Anang ke Senayan

Pada pemilu 9 April 2014, Anang Hermansyah akan bertarung di daerah pemilihan (dapil) 4 Jawa Timur yang meliputi Jember dan Lumajang. Sebagai putra daerah Jember yang juga menjabat sebagai Duta Jember di Jakarta, peluang Anang untuk mendapatkan satu kursi cukup besar. Namun demikian tentu tidak mudah, karena dapil Jatim 4 adalah basisnya PKB dan PDIP sedangkan Anang akan maju dari PAN. Selain itu yang akan bertarung di dapil Jatim 4 adalah para politisi beken yang sudah punya nama besar baik di tingkat nasional maupun di Jember.

Sekedar informasi, dapil Jatim 4 menyediakan 8 kursi. Pada pemilu 2009, Partai Demokrat meraup dua kursi, PKB merebut dua kursi, PDIP dua kursi, Gerindra satu kursi, dan Golkar satu kursi. Saat itu Muhammad Nazaruddin dari Demokrat yang saat ini mendekam dipenjara Sukamiskin Bandung karena tersandung banyak kasus korupsi menjadi juara dengan jumlah suara 76.256 suara.

Selain Muhammad Nazaruddin yang sudah dipecat dari Demokrat, nama besar lain yang saat ini masih duduk di DPR dan kembali akan bertarung di dapil Jatim 4 adalah: Dhohir Farisi (Gerindra) yang juga merupakan suami dari Yenni Wahid, Arif Wibowo (PDIP), Taufik Hidayat (Golkar), Nur Yasin (PKB), Masitah (PKB) dan Dadoes Soermawanto (PDIP). Semua nama-nama tersebut adalah politisi dan mantan aktivis yang sangat populer di Jember dan Lumajang karena aktif blusukan, berinteraksi dengan warga dan sering memberikan advokasi warga terhadap berbagai kasus sengketa agraria. Mereka berpeluang untuk kembali duduk di Senayan karena sering melakukan “aksi nyata” menyuarakan kepentingan masyarakat Jember dan Lumajang di tingkat nasional. Nama besar, aksi nyata dan kedekatan dengan konstituennya tentu membuat mereka optimis dipilih kembali oleh masyarakat Jember dan Lumajang.

Jika pada pemilu 2009, Demokrat berhasil mendapatkan 2 kursi yang diduduki oleh Muhammad Nazaruddin dan Subagyo (Almarhum) maka di pemilu 2014 rasanya sangat berat bagi Demokrat. Bagaimanapun nama Muhammad Nazaruddin sudah identik dengan kasus korupsi Demokrat. Dan tentu saja masyarakat Jember dan Lumajang tidak mau mengulangi kesalahannya dengan memilih koruptor sebagai wakilnya di Senayan.

Kasus korupsi Demokrat dan Muhammad Nazaruddin menjadikan peluang Anang Hermansyah untuk mendapatkan satu kursi cukup besar. Kesan masyarakat terhadap Anang Hermansyah juga positif. Sebagai Duta Jember, Anang bahkan pernah mendapatkan kehormatan menjadi Raja dan Ratu sehari di Jember dalam acara resepsi pernikahannya yang bersamaan dengan Bulan Berkunjung Jember (BBJ) yang sangat fenomenal. Sebuah peristiwa pesta rakyat yang tentu saja tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Jember. Anang adalah Jember dan Jember adalah Anang.

Dari segi popularitas tentu tidak ada caleg yang mampu menandingi popularitas Anang Hermansyah. Artinya, meskipun pesaingnya adalah politisi beken yang hebat-hebat, Anang telah memenangkan pertempuran udara. Tinggal bagaimana timsesnya bergerak di darat membuat jejaring yang solid dengan menyentuh hati masyarakat. Sebagai putra asli Jember, Anang mengaku optimis bisa lolos ke Senayan mewakili tanah kelahirannya, bagaimana dengan prediksi anda?

Sumber tulisan dan tulisan sejenis:

Pertarungan Anang Hermansyah Melawan Politisi dan Aktivis

Desy Ratnasari Menatap Senayan

Jalan Terang Angel Lelga Makin Mantap

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x