Mohon tunggu...
Sang Nanang
Sang Nanang Mohon Tunggu...

Manungso tan keno kiniro!

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Setelah Hari Kartini, Sosok Kartono yang Terlupakan

22 April 2015   08:31 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:48 497 0 0 Mohon Tunggu...

Huruf Alif dan Air Putih

[caption id="" align="aligncenter" width="323" caption="https://gantharwa.files.wordpress.com/2010/07/drs-rmp-sosrokartono.jpg"][/caption]

Raden Mas Panji Sosrokartono barangkali merupakan nama asing bagi sebagian generasi saat ini. Menilik dari nama Kartono, barangkali kita akan menebak adanya hubungan kekerabatan dengan Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi wanita dari Jepara. Bulan April memang bulannya Kartini, sebagaimana peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April diperingati. Adakah hubungan antara Kartono dan Kartini?

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini. Ia dilahirkan di Jepara pada tahun 1877, merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara putra Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat yang menjabat bupati dari 1890 – 1905. Selama 29 tahun beliau malang melintang sebagai pengembara di Eropa sejak 1897. Para kaum intelektual dan bangsawan Eropa menyebutnya sebagai De Javanese Prins(Pangeran dari Jawa) atau De Mooie Sos(Sos yang tampan).

Pada awalnya ia belajar di Delft untuk kemudian mendalami ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Selepas menamatkan pendidikannya, Kartono berprofesi sebagai wartawan perang untuk koran The New York Tribune. Ia meliput secara langsung dari fron terdepan Perang Dunia I di daratan Eropa. Untuk memudahkan tugas jurnalistik dan menembus medan perang, ia diberi pangkat Mayor oleh tentara Sekutu. Meski demikian ia menolak dipersenjatai. Ia pernah pula bekerja sebagai staf Kedutaan Prancis di Den Haag, bahkan pernah menjadi penerjemaah di Liga Bangsa Bangsa yang berkedudukan di Wina.

Apa sebenarnya keistimewaan seorang Kartono hingga sebagai seorang putra pribumi yang dijajah lebih dari tiga setengah abad begitu cemerlang berkarir di perantauan jauh dari tanah kelahirannya?

Sosrokartono dikenal sebagai orang yang cerdas dengan penguasaan 17 bahasa asing dan 9 bahasa daerah. Ia berbicara dalam bahasa Inggris, Belanda, India, Cina, Jepang, Arab, Sanskerta, Rusia, Yunani, Latin, bahkan ia juga pandai berbahasa Basken(Basque), suatu suku bangsa Spanyol, demikian pernah dituturkan oleh Bung Hatta. Sebagai wartawan perang ia menerima gaji US$ 1.250 pada waktu itu. Dengan penghasilan sebesar itu, ia termasuk konglomerat di Wina. Maka tidaklah mengherankan apabila lingkup pergaulannya begitu luas di kalangan para bangsawan Eropa.

Konon di masa pengembaraannya tersebut ia pernah sempat berkorespondensi dengan Rajendra Tagor dan Albert Einstein, dan terlibat dalam perdebatan panjang mengenai filsafat dan teologi. Semenjak di Eropa, Kartono memang sudah menekuni laku tirakat sebagaimana tradisi orang Jawa di tanah asalnya. Dan kebiasaan ini yang kelak menjadikannya seorang spiritual spesial.

Kecakapannya dalam berbagai bahasa asing menjadikan Kartono berani menemui calon pejabat Gubernur Jendral di Hindia Belanda, W Rooseboom pada tanggal 14 Agustus 1899. Kepada calon petinggi tanah jajahan itu, ia menyampaikan bahwa Kerajaan Belanda harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi kaum pribumi. Bagaimanapun kejayaan dan kemakmuran yang dinikmati bangsa Belanda adalah mutlak atas jasa tanah jajahan. Upaya yang disampaikannya tersebut merupakan bentuk dukungan moral terhadap perjuangan yang pernah digagas oleh adiknya, RA Kartini, untuk memajukan pendidikan kaum pribumi terlebih kaum perempuannya.

Pada saat menjadi pembicara dalam Kongres Bahasa dan Sastra Belanda ke-25 di Gent, Belgia pada September 1899, Kartono menyampaikan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indie(Bahasa Belanda di Indonesia). Dalam kesempatan tersebut ia mempersoalkan hak-hak kaum pribumi di Hindia Belanda yang tidak pernah dipenuhi oleh pemerintah penjajah. Dengan tegas ia menyatakan sebagai musuh dari siapapun pihak yang akan menjadikan Hindia Belanda menjadi bangsa Eropa atau berkebudayaan Eropa. Baginya Hindia Belanda memiliki khasanah budaya adiluhung yang yang bersumber dari adat istiadat berbagai suku bangsa yang telah mendiami gugusan Nusantara secara turun temurun.

Keluhuran tradisi, adat istiadat dan budaya yang dimiliki Nusantara harus terus dipupuk dan dikembangkan. Kepada siapapun putra pribumi yang berada di belahan bumi manapun, dihimbaunya agar tetap bangga dan melestarikan budaya bangsanya. Hanya dengan rasa kebanggaan terhadap bangsa dan budayanya itu, bangsa kita akan menemukan jati diri hingga akan menjadi bangsa yang mulia dan bermartabat disegani bangsa lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x