Mohon tunggu...
Ma Sang Ji
Ma Sang Ji Mohon Tunggu...

dikenal sebagai Siluman Feminin ~ pengarah umum klub A Sia Na » http://asianaclub.wordpress.com ~ redaktur majalah Sanggar Jiwa » http://masangji.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Media

Menjadi Perawan di Sarang Perjaka

1 Juni 2011   20:17 Diperbarui: 26 Juni 2015   04:58 1852 8 37 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjadi Perawan di Sarang Perjaka
ilustrasi Menjadi Perawan di Sarang Perjaka (fototercantik.wordpress.com)

Pernahkah Anda merasakan atau membayangkan menjadi seorang perempuan di tengah-tengah kaum lelaki? Saya merasakannya sekarang, dua bulan setelah ngeblog di Kompasiana.

Perasaan saya ini muncul bukan karena mas Roni si gimbal romantis R-82 bertekuk-lutut di depan saya sebelum dibabat habis oleh mbak Fitri si Nona Kacamata. Bukan, bukan itu. Perasaan ini tak terkait pula dengan munculnya mas Bambank yang tiba-tiba menyatakan suka kepada saya sesudah merasa cemburu (demikianlah menurut mas Roni) ketika menyaksikan saya merayu si gimbal romantis. Bukan, bukan itu. Ini bukan pula mengenai seorang lelaki misterius yang rajin menghujani inbox saya dengan 70 pesan cinta setiap hari. Bukan, bukan itu.

Yang saya maksudkan, saya merasa menjadi seorang blogger feminin yang kesepian di tengah hiruk-pikuk sebuah media maskulin yang bernama Kompasiana.

Ditilik dari nama dan slogannya, Kompasiana memang terkesan feminin. Begitu pula interaksi antara para kompasianer. Namun di luar 3 hal tersebut, saya rasa media ini 100% maskulin.

Baru desain grafisnya saja kita sudah bisa merasakannya. Penampilan media ini berlatar putih (maskulin) seraya menonjolkan warna-warna maskulin (seperti hitam, biru, dan oranye). Warna-warna feminin (seperti pink, tan, dan ungu) hampir tak pernah terlihat. Dekorasinya pun berupa garis-garis hitam tegas yang khas maskulin. Saya belum pernah menjumpai dekorasi yang berupa garis-garis lengkung berwarna-warni yang khas feminin di Kompasiana.

Bagaimana dengan tataletaknya? Media ini ditata dengan struktur arsitektur yang khas maskulin. Isinya dirancang sedemikian rupa, sehingga memacu aktivitas otak kiri yang khas maskulin. (Contohnya: "Teraktual" lebih ditonjolkan daripada "Menarik".) Tataletaknya cenderung kurang memicu aktivitas otak kanan yang khas feminin.

Begitu pula sikap Admin dalam memilih artikel-artikel yang dipajang di Headline, Highlight, dan Terekomendasi. Semakin maskulin (atau semakin memacu aktivitas otak kiri) suatu artikel, semakin besar peluangnya untuk dipilih oleh Admin. Sebaliknya, semakin feminin (atau semakin memicu aktivitas otak kanan) suatu artikel, semakin kecil peluangnya untuk terpilih. Walaupun tak jarang karya kompasianer wanita dijadikan HL, hampir semuanya bercorak maskulin pula.

Dengan sikap Admin yang begitu, para kompasianer pun (baik pria maupun wanita) cenderung menulis artikel yang maskulin pula. (Saya sendiri pun terkadang terseret arus untuk menulis dengan gaya maskulin walau sebenarnya lebih senang bergaya feminin.)

Secara demikian, mudahlah bagi saya bila diminta untuk merekomendasikan tulisan-tulisan kompasianer yang merangsang kecerdasan analitis dan verbal kita. Sebaliknya, sulitlah bagi saya untuk menunjukkan artikel-artikel kompasianer yang melejitkan kecerdasan emosi dan spiritual kita.

[caption id="" align="aligncenter" width="400" caption="ilustrasi Menjadi Perawan di Sarang Perjaka (fototercantik.wordpress.com)"][/caption]

Dengan menyadari kenyataan-kenyataan seperti itu, saya merasa "menjadi seorang perawan lugu di sarang perjaka-perjaka berpengalaman". Dengan kata lain, saya merasa sendirian di tengah keramaian. Padahal, saya bukanlah wanita yang betah mengurung diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x