Mohon tunggu...
Dendi SwaranDanu
Dendi SwaranDanu Mohon Tunggu... sanghana

kenapa saya menulis ? ini sebuah pertanyaan klasik yang sering dipertanyakan bagi mereka penulis, bahkan untuk saya yang ingin memulai. ini zaman penyebaran ide dimana-mana orang pada sadar untuk menyebarkan apa yang mereka tau. orang akan menyebarkan apa yang mereka punya dan orang akan menyebarkan apa karya mereka.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Kembalilah pada Potensi Diri

25 Juni 2020   13:20 Diperbarui: 25 Juni 2020   13:19 46 2 0 Mohon Tunggu...

Dunia sedang dilanda perang melawan makhluk yang tidak terlihat, belum tau asal usulnya dimana, dia hidup ditubuh manusia. Perang yang terjadi begitu mendadak tidak ada persiapan membuat ratusan ribu jiwa meninggal . Tidak ada etika perang disini siapa pun bisa gugur, tidak memandang profesi dan umur apalagi gender. Yang dapat mengangkat senjata diperang ini hanya dokter mereka garda terdepan.

Para pemimpin mulai mengatur strategi menghadapi perang ini ada beberapa Negara melakukan lockdown dan sebagian yang lain melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).  Efek samping atas kebijakan ini mulai terlihat salah satunya ekonomi.  Ekonomi mulai lesu perdagangan gulung tikar, banyak karyawan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), pengangguran bertambah, bagaimana mendapatkan uang jika hanya duduk dirumah. Mulailah masa dimana kebijakan kesehatan dan kebijakan perekonomian berbenturan.

Tapi tidak boleh menyerah manusia merupakan makhluk yang memiliki daya menyesuaikan diri yang cepat. Jika boleh mundur kebelakang ketika manusia nomaden mereka harus berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan makanan ketika berburu menciptakan tombak, panah untuk mendapatkan binatang buruannya. Ketika manusia mengenal bercocok tanam mereka tidak lagi berpindah-pindah tempat, mendiami sebuah tempat yang subur membuat peralatan pertanian seperti cangkul, sabit dan lain-lain.

Manusia juga dikenal dengan sifat bosannya ingin menikmati berbagai macam makanan, ingin memiliki berbagai macam benda sehingga munjullah jual beli, barang diganti barang dengan ukuran nilai yang sama. Coba bayangkan jika seorang petani singkong pergi kepasar ingin membeli ikan, beras, pakaian, berapa karung singkong yang harus dia bawa, disinilah otak adaptasi manusia berjalan mereka menciptakan uang sebagai alat tukar.

Masa pandemik covid-19 ini otak adaptasi manusia kembali diuji, ketika mereka harus berdiam diri dirumah apa yang harus dilakukan. Dengan teknologi informasi yang canggih ini diharapkan manusia bisa terus bergerak walau berdiam diri dirumah. Dengan berbagai macam aktifitas masih terus bersuara walau hanya menggunakan telepon genggam. Manusia mulai berfikir dan beradaptasi dengan itu.

Para pemimpin dengan kebijakannya mulai berkompromi dengan video call, masyarakat membeli barang melalui perdagangan online, para murid belajar dan mengumpulkan tugas melalui online, informasi terbaru bisa diperoleh tanpa harus kemana-mana melalui media online, semua bisa dilakukan hanya dengan permainan jempol.

Indonesia merupakan daerah agraris memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan tanahnya juga subur, bahkan salah satu lirik Koes Plus yang ada dalam lagu Kolam Susu, "Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu bisa jadi tanaman".  Untuk potensi kelautan juga besar wilayah perairan Indonesia lebih besar dari pada wilayah daratannya masa kecil juga sering dinyanyikan bahwa nenek moyang kita orang pelaut. Menurut data Badan Pusat Statistik orang yang bekerja dibidang pertanian, kehutanan dan Kelautan mencapai 29% atau 38 juta jiwa.

Dengan masa pandemik covid-19 ini banyak negara yang menyimpan pasokan makanannya dan tidak mengekspor lagi keluar untuk memenuhi kebutuhan negara mereka sendiri. Indonesia harus sadar dengan hal ini mulailah meningkatkan dari sumber pertanian, kehutanan dan kelautan. Tidak perlu harus menjadi orang lain tapi bercerminlah kekuatan kita apa, potensi kita apa. Indonesia harus mempunyai target yang jelas terhadap ketiga bidang tersebut sehingga masyarakat akan senang mengikutinya. Anak-anak muda harus bangga berada didalam ketiga hal tersebut dan berfikirlah bagaimana memajukannya.

Masyarakat bisa memulai dengan hal yang sedehana seperti menanam sayur-sayuran di samping rumah, tanamlah pohon yang berusia lama dan menghasilkan buah sehingga bisa diwariskan oleh anak cucu. Ajarilah anak --anak untuk menanam apabila dihari dewasa nanti sulit mendapatkan kerja mereka bisa kembali menanam. Ingatlah Indonesia adalah wilayah yang subur dengan laut yang luas. jika masyarakat kembali berdaptasi dengan sumber pertanian, kehutanan dan kelautan Indonesia akan mampu berdiri sendiri tanpa harus bersandar pada eksport.

VIDEO PILIHAN