Dhul Ikhsan
Dhul Ikhsan Content Writer

"Confidence is fashion" Twitter : @dzakwanfirst IG : @sandzarjak See you there.

Selanjutnya

Tutup

Regional Artikel Utama

Dua Hari Mengeksplorasi Rute "Tanah Abang Explorer"

9 Januari 2018   14:32 Diperbarui: 10 Januari 2018   07:54 624 3 3
Dua Hari Mengeksplorasi Rute "Tanah Abang Explorer"
Pasar Tanah Abang adalah pasar tekstil dan grosir terbesar di Indonesia. Dokumentasi pribadi

Hari ke Dua

Tidak satupun petugas kepolisian terlihat. Sepanjang rute bus Tanah Abang Explorer hanya saya dapati gabungan petugas Trans Jakarta, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan.

2 Januari 2018; Pukul 17.06 Wib

Waktu telah mendekati Maghrib, saya gagal menemukan topi yang pas untuk keponakan saya. Model bagus yang disukai gadis 11 tahun itu hanya ada untuk ukuran kepala orang dewasa. Kami pun segera mencari jalan pulang.

Rencana saya adalah kembali ke rumah menggunakan bus yang terkoneksi langsung dengan halte Trans Jakarta. Saya tanyakan hal ini kepada petugas karcis bus explorer. Perempuan berhijab itu berkata, "Nanti bapak turun aja di halte Jati Baru. Di situ ada bus Trans."

"Nanti saya nunggunya di mananya, mba?"

"Di pinggir fly over, pak. Nanti ada bus yang lewat. Bapak naik aja. Banyak kok yang ikut nunggu."

Di pinggir fly over memang sudah menanti beberapa ibu dan anak muda. Saya pun ikut bergabung bersama mereka menanti armada yang saya cari. Di saat menunggu itu, saya ikut dengar seorang ibu bertanya tentang bus tujuan tertentu. Untuk itu, saya juga tertarik nimbrung, "kalau bus Trans Jakarta lewat sini juga gak, mas / bu?"

"Gak tau juga ya, pak. Kalau ada saya juga mau naik itu. Coba tanyakan ke bapak-bapak yang itu!" seorang ibu menunjuk ke arah berkumpulnya petugas dinas perhubungan di bangku halte, "saya tunggu ya, mas!"

Sebenarnya, saya agak risih dengan perintah si ibu. Tapi misi awal saya adalah bertanya dan menggali informasi apapun dari semua orang. Jadi, saya tidak ambil pusing, dan mendatangi petugas-petugas itu.

"Maaf, pak. Kalau mau naik bus Trans Jakarta nunggu di mana ya?"

"Bapak mau kemana?"

"Ke Priok."

"Oh, ada kok pak bus yang langsung ke priok."

"Tapi dia lewat halte bus Trans, bukan?"

Mereka memandang satu sama lain, lalu menjawab, "Gak tau ya, pak. Mending nunggu bus jurusan Priok, pak. Di situ!" Mereka menunjuk ke arah fly over.

"Iya pak, saya tau. Tapi saya maunya naik bus Trans Jakarta yang koneksi ke halte busway. Ada gak?" Saya tekankan keinginan saya.

Dengan cengengesan mereka menjawab, "Aduh, saya gak tau pak. Coba tanyakan ke Satpol PP." 

Seorang petugas berbaju coklat gelap mendekat. "Terima kasih, pak," saya segera pamit dan mendatangi petugas yang dimaksudkan mereka. Ketika saya tanyakan hal yang sama kepadanya, jawabannya pun tidak jauh berbeda dengan yang lain: "tidak tahu". Mereka tidak tahu di mana, bahkan tidak tahu seandainya ada bus berkoneksi langsung dengan halte Trans di Brother Land ini.

Mata saya menatap ke seberang timur Jalan Jati Baru Raya dan menemukan bus yang dimaksud. Akhirnya!

Sebuah bus berukuran 3/4 berdiri sendiri terparkir di sebelah kanan trotoar jalan dekat Taman DPU Jati Baru Pangkalan 640. Ia seakan menanti penumpang datang dengan bermain bersama bocah-bocah lokal. Armada biru tersebut adalah salah satu bus pengumpan jurusan Pasar Minggu-Tanah Abang yang punya rute pemberhentian di halte busway Sarinah. Beberapa wanita masuk melalui pintu depannya. Kami pun ikut menyusul dan mengambil bangku paling belakang.

Pukul lima sore lewat tiga puluh menit bus berangkat meninggalkan pangkalan. Kami pulang dengan kelelahan.

3 Januari2018; Pukul 10.46 Wib

Saya sudah berdiri di halte busway Sarinah. 

Sesuai janji kemarin, saya berangkat kembali ke Brother Land, sebutan lain Pasar Tanah Abang di kalangan generasi zaman now. Tanpa keponakan, tanpa kesulitan berarti, meski kakak perempuan saya memesan kembali celana banana untuk anaknya. Gak masalah.

Tidak berapa lama, bus Pasar Minggu-Tanah Abang sampai di pintu masuk 2 halte. Bukan rekor, sih. Karena bisa jadi, setelah ini, bus rute yang sama akan datang sejam atau dua jam kemudian. 

Bus pengumpan tersebut mengantar penumpang hanya sampai pertigaan jalan Fachrudin. Saya pun menyebrangi JPO dan turun di halte Blok E Pasar Tanah Abang menanti kehadiran bus berlantai rendah pengeksplorasi Pasar Tanah Abang.

Bus Tanah Abang Explorer berhenti di halte Jati Baru dan mengangkut penumpang yang sudah agak penuh tersebut. Keriuhan ala emak-emak terjadi karena beberapa dari mereka mencari seatyang comfy versi mereka. Lalu ada seorang ibu mendekati tempat yang saya duduki dan meminta izin duduk di sebelahnya.

"Maaf dek, kalau mau ke Blok B naik bus ini, ya?" Tanya sang ibu tiba-tiba.

Saya pun mengiyakan.

"Bisa tidak dek, bus ini berhenti di sembarang tempat?"

"Kayaknya gak bisa, bu. Karena bus ini punya rutenya sendiri; mengelilingi kawasan Tanah Abang. Kalau ibu mau berhenti bisa di halte yang sudah disediakan. Seperti yang tertera di gambar itu." Saya menunjuk papan biru yang di pasang di dalam bus.

Papan biru petunjuk rute Tanah Abang Explorer
Papan biru petunjuk rute Tanah Abang Explorer

"Maaf ya dek, kalau banyak bertanya."

Loh, apa saya menjelaskannya dengan ketus ya? Saya pun mengklarifikasi, "Tidak apa-apa kok, bu. Tidak masalah."

"Soalnya saya biasa naik bajaj ke Blok B. Bajaj-nya bisa turun langsung di pasar (Blok B). Kalau sekarang kan nggak bisa. Jadi, turun dulu naik ini." Jelasnya.

"Ibu baru pertama kali naik ini?"

"Iya. Ibu pertama kalinya naik."

"Kalau ibu mau turun ke Blok B, ibu musti turun dulu di Stasiun Tanah Abang. Lalu ambil lagi karcis buat naik lagi bus yang sama menuju Blok B."

"Oh iya. Terima kasih ya, dek. Maaf kalau banyak bertanya. Soalnya baru pertama, sih." Jawaban sang ibu justru membuat saya makin merasa bersalah.

Sebenarnya saya melihat di tiap tiang besi bus terpasang tombol "STOP". Saya tidak tahu fungsi dari tombol merah tersebut. Entah karena apa, saya pun lupa menanyakan perihal itu ke petugasnya hingga misi ini selesai. Dalam benak saya,tombol ini mungkin hanya berfungsi sebagai pajangan. Padahal bisa jadi tombol tersebut dapat menurunkan penumpang di tempat yang diinginkan. Bisa jadi.

Sesampainya di depan stasiun Tanah Abang, kondisi trotoar tidaklah sepenuh kemarin. Tidak ada wartawan, tidak ada pegawai pemda ataupun walikota. Hanya ada calon penumpang yang berlalu-lalang, beberapa calon pembeli yang ber-selfie ria, pedagang asongan yang menjaja barang dagangannya di tempat semaunya, serta petugas gabungan Dinas Perhubungan-Trans Jakarta-Satpol PP.

Saya segera memasuki lapak yang kemarin menjual rok keponakan saya. Pedagangnya masih mengingat saya, dan melayani dengan baik. Hanya saja sayang, celana Banana yang dicari sudah habis terjual. Saya pun memasuki pasar agak ke dalam. 

Sekitar 100 meter dari mulut gang, saya temukan celana Jogger banana berwarna biru. Pegawai lapak menjual barang tersebut seharga 65ribu. Lalu saya tawar seharga 50ribu rupiah.

"Kalau beli tiga bisa 50ribu." Sahut pedagangnya.

Saya tawar kembali, "60ribu, deh." 

Deal.

Sebenarnya, ingin segera saya langsung menuju halte Blok B. Namun pemandangan di Blok G menarik perhatian saya. Seakan-akan ada kekuatan lain yang menarik kaki saya turun, dan saya tersadar sudah berdiri di atas trotoarnya.

Blok G, Pasar Tanah Abang yang tampak sepi
Blok G, Pasar Tanah Abang yang tampak sepi

Dari pengamatan saya di seberang, Blok G terlihat sangat sepi. Tidak ada calon pembeli yang berlalu-lalang sama sekali. Kalaupun ada palling hanya segelintir saja. Teman saya pernah mengatakan kalau toko di Blok G sangatlah sempit, sehingga ia harus meninggalkan lapaknya dan memfokuskan seluruh barang dagangannya dijual di lapaknya yang lain, di Blok A. Saya tidak bisa mungkir untuk harus menyetujuinya. Gedung Blok G tampak tidak memiliki harapan.

Spot terakhir yang saya kunjungi berada di bangunan serupa pusat perbelanjaan modern itu. Bus explorer yang saya tumpangi berhenti di haltenya. Cuaca makin lembab dan panas. Langkah kaki ini dipercepat agar segera sampai di Pos Damkar Brother Land.

Benar dugaan saya! Pos pemadam kebakaran itu dipenuhi pembeli. Saya juga malah ikutan membeli. Tapi kegiatan ini saya lakukan agar saya dapat lebih dalam lagi masuk untuk melihat kondisi di sana.

Sela ruang antara mobil blambir yang terparkir agak lebar dan memanjang. Di pertengahan sela ruang tersebut terdapat satu papan pembatas sehingga terdapat area pribadi dan area jualan.

Pos Damkar dipenuhi pedagang dan pembeli
Pos Damkar dipenuhi pedagang dan pembeli

Di area pribadi berkumpul beberapa orang pemuda yang memainkan aplikasi permainan Ludo. Mereka terkoneksi satu sama lain melalui handphone dan bermain bersama. Saking serunya, beberapa dari mereka berteriak dan berkomentar. Kemudian datang penjual nasi goreng yang meminta piringnya kembali. Penjual cendol tempat saya memesan satu gelas berteriak ke dalam dan di respon seorang pemuda bertopi dan berkaos. Entah dia seorang petugas Damkar atau tidak, yang pasti tidak satupun orang yang berseragam resmi di sana.

Tepat di depan  mobil tergelar barang dagangan. Sungguh aneh. Tidakkah pos tersebut seharusnya steril? Mulai pakaian dalam, pernak-pernik suvenir, makanan dan minuman, semua berserakan di sana. Tampak pos Damkar menjadi tempat ideal menjajakan dagangan. Spot-nya dilindungi atap yang dapat dijadikan tempat berteduh. Mungkin karena hal itulah para pedagang kaki lima berkerumun mencari uang.

Saya berharap, semoga tidak pernah terjadi bencana apapun di kawasan strategis ekonomi ini. Karena, saya tidak bisa membayangkan hal itu jika terjadi. Penuhnya barang dagangan dan orang-orang di sana tentu akan mempersulit kinerja para petugas pemadam kebakaran dalam bekerja menyelamatkan nyawa manusia. Dalam hal penanggulangan bencana, sepersekian detik berlalu sangatlah kritis. 


Selesai