Sandra Suryadana
Sandra Suryadana Dokter

Memimpikan Indonesia yang aman bagi perempuan dan anak-anak. More of me: https://sandrasuryadana.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengenal "Inclusion Rider" yang Dibicarakan Aktris Terbaik 2018

9 Maret 2018   11:51 Diperbarui: 9 Maret 2018   12:11 453 0 0

Pagelaran 90th Academy Awards pada tanggal 4 Maret 2018 di Dolby Theatre, Hollywood berlangsung tertib dan megah. Tidak ada dominasi gerakan tertentu seperti #OscarsSoWhite maupun #Timesup, para undangan yang hadir memang berpakaian bebas, bukan berwarna hitam atau mengenakan asesoris khusus seperti pada Golden Globe Januari lalu tetapi semangat menuntut kesetaraan gender dan kaum minoritas terus disuarakan sepanjang acara.

Nominator lebih bervariasi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Rachel Morrison, menjadi perempuan pertama yang masuk nominasi Sinematografi Terbaik untuk film Mudbound. Greta Gerwig menjadi perwakilan perempuan dalam nominasi Sutradara Terbaik untuk film Lady Bird. Jordan Peele mewakili warga kulit hitam dalam nominasi Sutradara Terbaik, Naskah Original Terbaik dan Film Terbaik untuk film Get Out, menjadi orang pertama dalam sejarah Academy Awards yang dinominasikan dalam 3 kategori untuk film debut.

Meskipun dari Rachel Morrison dan Greta Gerwig gagal membawa pulang Oscar dan Jordan Peele hanya membawa piala untuk Naskah Original Terbaik tetapi minimal para pekerja seni Hollywood sudah merasakan adanya perubahan positif dalam dunia perfilman. Langkah-langkah lebih lanjut perlu dilakukan dan perjuangan mencapai keadilan dalam dunia kerja manapun tidak boleh berhenti.

Jimmy Kimmel, komedian yang membawakan Academy Awards kemarin, berulang kali menyampaikan materi terkait perjuangan ini dalam suasana santai. Dia mengangkat contoh kasus ketimpangan honor yang terjadi antara Mark Wahlberg dengan Michelle Williams saat syuting ulang film All The Money In The World, di mana Mark dibayar 1,5 juta USD sementara Michelle dibayar 80 USD per hari. Mark Wahlberg kemudian menyumbangkan seluruh honornya itu kepada tim pengacara gerakan Time's Up.

US Census Bureau melaporkan data tahun lalu bahwa perempuan Latin menghasilan hanya 54 sen untuk setiap 1 USD yang dihasilkan oleh laki-laki, perempuan kulit hitam 63 sen, perempuan pribumi Amerika 57 sen, perempuan Asia-Amerika 87sen dan perempuan kulit putih 75 sen.

Selain soal ketidakadilan honor, Jimmy Kimmel juga menyampaikan bahwa hanya 11% film Hollywood yang disutradari oleh perempuan, menunjukkan bahwa dunia perfilman Hollywood masih sangat didominasi oleh laki-laki dan selama dominasi ini masih terus terjadi, perempuan akan sulit untuk mendapatkan keadilan. Penelitian atas 900 film Hollywood yang dilakukan Annenberg Inclusion Initiative di University of Southern California menunjukkan data sebagai berikut:

  • Hanya 31,4% tokoh berdialog adalah perempuan, padahal populasi perempuan di Amerika Serikat lebih dari 50%
  • Hanya 4,2% sutradara perempuan dan 1,4% komposer perempuan
  • Hanya 29% tokoh ¬†berdialog adalah warga non kulit putih, padahal populasi mereka di Amerika Serikat hampir 40%.
  • Hanya 2,7% tokoh berdialog yang digambarkan memiliki disabilitas, padahal populasi warga difabel di Amerika Serikat hampir 20%.

Proporsi yang tidak berimbang ini menjadi perhatian khusus dari pemenang Aktris Terbaik tahun ini, Frances McDormand. Dalam pidato kemenangannya, Frances mengajak rekan-rekannya para nominator wanita, untuk berdiri dan merayakan prestasi mereka. Frances kemudian menutup pidatonya dengan "I have two words to leave with you tonight, ladies and gentlemen: inclusion rider."

Saya kira Frances akan lanjut menjelaskan apa yang dia maksud dengan inclusion rider. Ternyata dia malah membungkukkan badan kemudian turun panggung. Tapi trik Frances ini ternyata berhasil, inclusion rider langsung menjadi top search di Google malam itu dan trending di Twitter. Banyak masyarakat yang juga belum mengerti apa itu inclusion rider, Frances sendiri setelah diwawancara selesai acara mengakui bahwa dia baru mempelajari konsep ini 3 bulan terakhir.

Inclusion rider adalah suatu ketentuan yang bisa diminta oleh seorang aktor atau aktris dalam kontrak kerja mereka yang mewajibkan adanya keberagaman dalam level tertentu di antara pemain dan kru film. Ketentuan ini diharapkan mampu mendesak para pembuat film untuk menampilkan tokoh dan merekrut kru dengan persentase yang sesuai dengan demografi setempat, di lokasi syuting ataupun lokasi dalam cerita, tidak hanya soal gender dan etnis tetapi juga warga difabel, orientasi seksual dan ciri-ciri fisik.

Representasi ciri fisik para tokoh film yang sesuai dengan demografi diharapkan mampu mengurangi stress warga karena ketidakpuasan diri, misalnya: warga di daerah yang mayoritas warganya gemuk akan menjadi rendah diri bila selalu disodori tokoh-tokoh film yang langsing, warga kulit gelap akan jadi rendah diri bila selalu melihat tokoh kulit cerah, dll.

Inclusion rider pertama kali digagas oleh pendiri Annenberg Inclusion Inisiative, Stacy Smith dan Kalpana Kotagal, mereka adalah pengacara yang sehari-hari bekerja membela ketidakadilan dalam bidang apapun khususnya bagi para perempuan. Stacy Smith sudah berusaha mempopulerkan konsep ini dalam 3 tahun terakhir termasuk melalui TED Talk di California tahun 2016, tapi tampaknya baru sekarang orang menaruh perhatian.

Setelah pidato Frances, kita bisa menduga bahwa inclusion rider akan menjadi trend baru di Hollywood, sudah ada dua artis yang tercatat mendukung gerakan ini yaitu Brie Larson melalui cuitan di Twitternya dan Michael B. Jordan yang menyatakan bahwa rumah produksinya, Outlier Company, akan segera mengadaptasi konsep ini.

Bila di Amerika Serikat baru mulai familiar dengan konsep ini, mungkin kita di Indonesia butuh 200 tahun lagi. Padahal situasinya tidak terlalu berbeda menurut saya. Film Indonesia termasuk sinetron dan komedi situasi masih terlalu didominasi oleh etnis tertentu. Kompasianer pasti merasa juga, film Indonesia didominasi tokoh berlogat Betawi dan Jawa, bila ada variasi mungkin logat Batak atau Ambon, berapa banyak film dengan tokoh berlogat Makasar, Manado, Banjar, Nusa Tenggara, Hokkian, Melayu?

Representasi tokoh dengan etnis tertentu juga selalu digandengkan dengan stereotip yang tidak pantas menurut saya. Tokoh etnis Jawa pasti digambarkan lambat dan tidak tegas, etnis Betawi digambarkan kasar dan blak-blakan, etnis Batak pasti suka marah-marah, etnis Ambon pasti sering tidak nyambung bila diajak bicara kemudian jadi bahan tertawaan penonton, dll.

Soal agama juga, tokoh utama perempuan berhijab selalu lemah lembut dan tidak pendendam, kapan ada tokoh beragama lain? Belum lagi soal penampilan dan status sosial, anak muda tajir melintir ditampilkan sombong dan bossy, yang perempuan dengan dandanan maksimal dan baju mahal, bangga dengan kekayaan yang bukan hasil kerjanya sendiri, Indonesia ini mayoritas warganya miskin, Bos! Warga miskin kemudian lebih banyak ditampilkan dalam reality show demi mengundang simpati padahal bisa jadi hanya eksploitasi kemiskinan demi rating.

Jika kita ingin negara kita bersatu di tengah sekian banyak perbedaan, tentunya bukan dengan cara mengkotak-kotakkan etnis atau golongan tertentu sesuai dengan pengetahuan sutradara atau penulis naskah yang mungkin belum pernah menjelajahi Indonesia sehingga wawasannya tentang keragaman Indonesia hanya didapat dari buku pelajaran saat dia sekolah di zaman Orde Baru. Atau malah disesuaikan dengan preferensi penonton sekali lagi demi rating, penonton yang seharusnya dididik oleh tayangan di televisi malah jadi pengatur kemudi.

Produser film juga termasuk para Youtuber yang videonya ditonton generasi muda kita, harus mulai menyadari bahwa film atau video adalah bagian penting pembentukan budaya suatu bangsa. Bantu persatukan bangsa kita melalui film atau video Anda, jangan malah menjadi bagian dari propaganda!

Referensi:

Npr.org

Theguardian.com