Sandra Suryadana
Sandra Suryadana Dokter

Memimpikan Indonesia yang aman bagi perempuan dan anak-anak. More of me: https://sandrasuryadana.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Setiap Tertangkap, Kok Sabu Terus yang Dikonsumsi?

4 Maret 2018   13:16 Diperbarui: 4 Maret 2018   17:58 1592 7 5
Setiap Tertangkap, Kok Sabu Terus yang Dikonsumsi?
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pengujian barang bukti sabu-sabu sebelum dimusnahkan di lapangan Kantor BNN Jakarta, Selasa (4/3/2014). BNN melakukan pemusnahan sabu seberat 5.610,3 gram dari tujuh tarsangka yang ditangkap di tiga lokasi berbeda diantaranya merupakan jaringan internasional Malaysia-Aceh. TRIBUNNEWS/HERUDIN(HERUDIN)

Tanggal 1 Maret 2018 lalu, Komjen (Pol) Budi Waseso resmi digantikan oleh Irjen (Pol) Heru Winarko sebagai kepala BNN. Bapak Budi Waseso meninggalkan BNN dengan sejumlah prestasi yang patut diapresiasi.

Selama beberapa bulan terakhir sebelum pensiun, Bapak Budi Waseso seakan ingin meninggal legacy berupa kinerja maksimal dari BNN, puluhan artis ditangkap berturut-turut bahkan konon masih ada 100 artis lagi yang sudah ditarget. Penyelundupan sabu berulang kali digagalkan di darat, di bandara, di laut, mulai dari yang hanya beberapa kilogram sampai yang hitungan ton, dari yang disembunyikan di celana dalam sampai di mesin cuci.

Menarik mengikuti pemberitaan penangkapan artis dan penyelundupan narkoba ini. Narkotika yang paling sering dikonsumsi oleh para artis adalah sabu, sementara penyelundupan yang paling sering ketahuan juga sabu. Mengapa tampaknya sabu favorit sekali di Indonesia?

Tahun 2015 Direktur Eksekutif Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Inang Winarso, mengatakan jumlah pengguna narkoba jenis heroin di Indonesia menurun. Menurut dia, selama enam tahun terakhir, jumlah pemakai heroin berkurang lebih dari separuh dari 25 ribu pada tahun 2008 menjadi 12 ribu pada tahun 2014.

Bapak Inang Winarso bisa jadi bangga dengan pencapaian ini. Tetapi usut punya usut ternyata penurunan pecandu narkoba bukan karena pecandu sudah insaf melainkan karena mereka berpindah ke produk lain yaitu narkotika sintetik alias buatan pabrik. Kokain dan heroin adalah narkotika semi sintetis, berasal dari bahan alami kemudian diproses untuk didapatkan bahan aktifnya. Pilihan lainnya adalah narkotika organik yang murni berasal dari bahan alami contohnya: marijuana, mushroom, dan opium.

Memang sudah banyak dikembangkan juga ganja sintetik yang sempat heboh disebut "Tembakau Gorila" atau jamur sintetis atau dikenal dengan "Psilocybin" yang saat ini mulai dikampanyekan untuk terapi depresi di Amerika atau kokain sintetis yang nama jalanannya "Garam Mandi" tidak tahu apakah ada beredar di negara kita atau tidak. Tetapi di Indonesia semua produk ini popularitasnya belum menyamai sabu. Sabu adalah narkotik sintetis murni, artinya murni dari bahan kimia, dibuat di laboratorium atau pabrik. Contoh lain dari narkotik sintetis adalah MDMA alias ekstasi.

Melalui artikel ini, saya ingin mengajak Kompasianer melihat peredaran narkotika di Indonesia dari segi bisnis, bukan dari sudut pandang medis, hukum maupun psikologis.

Seperti layaknya bisnis apapun di dunia ini, bisnis narkotika memiliki beragam segmen pasar, oleh karenanya jenis produknya sangat beragam. Tim research dan development-nya senantiasa berusaha mengembangkan produk baru untuk menangkap segmen pasar yang belum tersentuh, memperbaiki kualitas produk demi menjamin loyalitas konsumen, untuk menurunkan production cost, menyederhanakan proses produksi barang, dll.

Konsumen membutuhkan narkotika yang efek kerjanya cepat didapat tetapi bisa bertahan lama, sifat barangnya tidak mudah menarik perhatian, pemakaiannya praktis, saat high tetap bisa beraktivitas senormal mungkin tanpa kelihatan teler atau loncat ke alam lain, dan tentu saja yang harganya murah.

Ganja memiliki bau khas yang mudah dikenali orang. Heroin cara penggunaannya yang paling maksimal adalah dengan disuntik sementara banyak orang tidak suka disuntik, lagipula sakaunya terlalu menyakitkan. Kokain dan ekstasi kerjanya memang cepat tetapi hilangnya efek obat juga terlalu cepat (kokain hanya bertahan 1-2 jam, ekstasi 4-5 jam) dan saat high-nya terlalu kelihatan tripping. Mushroom dan LSD membuat pengguna kesulitan membedakan mana yang nyata mana yang halusinasi.

Dari segi harga, ambil contoh sesama narkotika stimulan: 1 gram kokain di Indonesia harganya Rp 2.500.000 padahal efeknya sebentar saja. Lalu 1 butir ekstasi kira-kira Rp 300.000. Kokain bahkan dianggap sebagai narkotika kelas atas karena harganya yang istimewa ini. Harga ini bisa jadi terlalu mahal untuk warga Indonesia.

Gayung bersambut. Produsen narkotika sangat memperhatikan pola konsumen di Indonesia karena Indonesia merupakan salah satu pasar narkotika terbesar di dunia. Dan kebutuhan konsumen tadi mudah dijawab oleh produsen.

Produsen juga lebih suka memproduksi narkotika sintetis ketimbang organik atau semisintetis karena tentunya lebih mudah untuk menyembunyikan laboratorium ketimbang perkebunan ganja atau opium. Biaya produksi narkotika sintetis juga jauh lebih rendah dan kualitas serta kuantitas produknya lebih stabil ketimbang yang organik.

Narkotika organik membutuhkan lebih banyak pegawai untuk merawat setiap hari dan memanen, prosesnya juga lebih lama dan produksinya dipengaruhi oleh cuaca, hama, dll. Dengan biaya produksi yang rendah, harga jualnya juga bisa diturunkan sehingga akan lebih banyak konsumen yang bisa membeli.

Satu pertimbangan lagi di sisi produsen adalah produk harus highly addictive, satu kali pakai langsung bikin kecanduan untuk menjamin demand yang sustainable.

Produk andalan yang bisa menjawab demand pasar sekaligus menguntungkan bagi produsen adalah sabu atau disebut juga methamphetamine.

Jumlah 1 gram sabu harga jualnya hanya Rp 1.500.000 dan bisa untuk penggunaan berkali-kali. Bahkan konsumen bisa juga membeli paketan kecil seharga 200 ribuan saja. Bila dihirup uapnya efek sabu segera dirasakan dalam beberapa menit dan bisa bertahan sampai 12 jam dan uapnya tidak berbau jadi tidak mudah menarik perhatian. Saat menggunakan sabu, pengguna justru bisa semakin berkonsentrasi dan bersemangat dalam beraktivitas tanpa terlihat teler dan sakaunya masih dalam batas yang bisa ditoleransi atau bisa diatasi dengan obat lain.

Mungkin satu-satunya kelemahan dari sabu adalah peralatan penggunaannya yang agak tricky karena butuh kreativitas dan modifikasi. Tetapi bagi pecandu, hal ini rasanya tidak terlalu menjadi soal, malah menjadi keasyikan tersendiri.

Di Indonesia tampaknya belum ada pabrikan yang bisa memproduksi sabu dalam jumlah massal untuk memenuhi kebutuhan di penjuru Nusantara. Maka celah ini dimanfaatkan oleh produsen dari luar negeri untuk menyelundupkan sabu ke Indonesia. Apalagi mereka mengetahui selama ini penjagaan dari area perbatasan sangat lemah. Polisi bisa disuap untuk meloloskan narkotika, bahkan terkadang polisi atau sipir penjara ikut membantu kelancaran bisnis ini. Maka Indonesia menjadi top market incaran produsen sabu di seluruh dunia.

Keuntungan produsen menjual sabu ke Indonesia konon bisa mencapai 2000%.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2