Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto dokter

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. "We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life" *** www.growup-clinic.com *** www.alergiku.com www.kesulitanmakan.com *** www.dokterindonesia.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Siapakah Politikus dan Partai Pembela Agama Allah?

17 April 2018   06:56 Diperbarui: 17 April 2018   09:33 964 2 6

Siapakah Politikus dan Partai Pembela Agama Allah ?

Di tahun politik ini kembali suhu media mainstream dan media sosial dipanaskan oleh pendapat tokoh reformasi Profesor DR Amin Rais tentang partai pembela agama Allah atau bukan. Ternyata yang membuat sebagian orang semakin gerah ketika ada istilah partai setan terselip dalam pesan tausyiah subuh di masjid itu. 

Meski Amin tidak pernah menunjukkan sedikitpun nama partai dan tokoh partainya, tetapi banyak yang tersentil karenanya. Bukan hanya para pendukung, para elit politikpun beramai ramai merasa tertohok dan langsung bereaksi keras bahkan melaporkan ke polisi.

 Sebaliknya kelompok tertentu lainnya justru mengamini pendapat Amin Rais itu. Bila dicermati kegerahan itu hanya masalah pilihan kata. Egoisme politik dan egoisme kelompok membuat sebagian masyarakat gagal fokus terhadap substansi penting yang diungkapkan sesepuh gerakan 212 itu. Bila dicermati sebenarnya fokus utama pesan itu adalah "Siapakah Politikus dan Siapakah Partai Pembela Allah Itu ?"

Mantan Ketua MPR, Pendiri dan Ketua Dewan Kehormatan PAN dan sekaligus Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212 Amien Rais mengungkapkan dua kelompok besar partai-partai politik di Indonesia yakni partai pembela agama Allah dan bukan. "Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. 

Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan," demikian diungkapkan Amien dalam tausiyah usai mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4) pagi.

 "Orang-orang yang anti Tuhan, itu otomatis bergabung dalam partai besar, itu partai hizbusy syaithan. Ketahuilah partai itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia rugi akhiratnya. Tapi di tempat lain, orang yang beriman bergabung di sebuah partai besar namanya hizbullah, Partai Allah. 

Partai yang memenangkan perjuangan dan memetik kejayaan. Tampaknya suhu politik Indonesia semakin tinggi sehingga membuat tensi emosi dan kepanikan pihak trtentu lebih sensitif. Seruan untuk sesama umat agar dijauhkan dari pola pikir dan perilaku setan dijauhkan membuat banyak pihak jadi kepanasan.

Saat ini isu itu terus bergulir memanaskan berbagai pihak yang merasa tertohok. Tampaknya setiap apa yang diucapkan tokoh reformasi adalah fakta kontroversial yang membuat heboh dunia politik Indonesia. Mengapa disebut fakta bukan hoax ? Karena, kalau yang sering disebutkan hoax maka sudah dari awal Amin akan dilaporkan polisi dan akan segera dicokok polisi. Apalagi Amin sudah pernah diancam salah satu menteri yang akan dicari dosa dosanya. 

Maka mungkin saja kali ini sang maestro reformasi itu akan segera diproses segera dan dijemput polisi secepatnya meskipun yang disebutkan adalah fakta. Sampai saat ini meski ditekan dengan berbagai ancaman ternyata pendekar reformasi itu tetap tak bergeming. Beberapa pakar bahasa memandang sebagian bangsa masih kurang cermat dan kurang fokus. 

Karena, fokus utama adalah: "Manakah partai pembela agama Allah dan siapakah politikus dan rakyat pembela agama Allah di Indonesia ? Bambang Susetyo Ketua DPR yang saat ini dianggap berada di seberang Aminpun membela ini hanyalah masalah pilihan kata.

Tudingan bukan Pembela Agama Allah

Bila ditanya siapakah saja partai, politikus atau rakyat pembela agama Allah maka tidak mudah untuk menjawabnya. Pastinya, semua beramai ramai akan mengatakan bahwa dirinya dan partainya mengaku pembela agama Allah terdepan. Siapapun yang menjawab itu akan tampak terbelah menjadi dua kutub yang berbeda seperti kutub yang diungkapkan Amin. Siapa saja orang yang ditanya jawabannya akan membuat rakyat tahu di posisi mana politikus itu berdiri dan dimana posisi partainya berada. 

Saat dituding partainya bukan pembela agama Allah. Serta merta para pendukung pasti akan membela dengan jawaban senada bahwa partainya pembela agama Allah sebenarnya. Buktinya, banyak anggota partainya yang shaleh shalat lima waktu, keturunannya kyai, puasa senin kamis, pengetahuan agamanya baik dan alasan baik keagamaan lainnya. 

Pada kelompok yang sama menuding dengan tuduhan selalu seragam pada partai lain dan pendukungnya yang mengaku pembela agama Allah sebenarnya bukan membela agama Allah sejatinya. Buktinya, kelakuannya yang suka berkata kasar, caci maki, koruptor, intoleransi, pendukung teroris, radikal, anti NKRI, anti Pancasila, tukang kawin dan berbagai fitnah dan tuduhan keras lainnya.

Sebaliknya pada kelompok lainnya selalu menuding politikus atau partai lainnya tidak membela agama Allah. Buktinya, karena membela penista agama, mendukung partai dan cagub pilkada penista agama, munafik menjual ayat dan agama, pendukung tindakan ketidakadilan hukum pada umat Islam, mendukung kelompok pembenci Islam, pendukung kriminalisasi ulama, pendukung paham yang diharamkan MUI seperti liberalisme, sekuler dan pluralisme. 

Tuduhan lainnya partainya bukan pembela agama Allah karena partai pendukung UU Ormas, pendukung LGBT, pelindung Anti Tuhan, bekerja sama dengan non muslim, partai dengan koruptor terbanyak, dan tudingan panas lainnya. Sehingga tidak mudah untuk menentukan siapakah partai pembela agama islam itu sebenarnya ? 

Sulit menentukan siapakah pembela agama Allah di antara dua kutub itu karena sama sama merasa paling benar dan paling suci. Kualitas penilaian itu tergantung siapa latar belakang orang yang menilai atau apa niat dan tujuan orang tersebut dalam menentukan sebuah partai adalah pembela agama Allah.

Siapakah pembela Agama Allah ?

Saat ini banyak kelompok tertentu yang menyindir para pembela agama Allah bahwa agama dan Allah tidak perlu dibela karena sudah hebat dan kuat. Sejatinya baik orang-orang lemah, orang tak berdaya, orang yang butuh pertolongan, agama dan Allah sama-sama perlu dibela. Walaupun alasan dan sebab pembelaannya berbeda. Orang-orang kecil dan lemah dibela karena mereka tak berdaya untuk membela diri. Ini sesuai dengan ajaran Islam. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3