Mohon tunggu...
Widodo Judarwanto
Widodo Judarwanto Mohon Tunggu... Penulis Kesehatan

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. VIRTUAL MEDICINE CALL TODAY: 021.29614252 - 021.5703646 ** www.drwido.com ** www.kesulitanmakan.com ** www.alergiku.com ** www.pickyeatersclinic.com ** www.klinikbayi.com ** www.dokteranakindonesia.com **

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Imlekmu adalah Imlekku

1 Februari 2011   13:11 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:59 361 0 1 Mohon Tunggu...

Tahun imlek adalah hari besar bagi masyarakat Tionghoa. Sebelumnya dalam era orde baru perayaan imlek dilarang presiden Soeharto. Tradisi imlek dalam sepuluh tahun terakhir ini juga menjadi tradisi yang dinikmati bersama semua masyarakat Indonesia setelah Presiden “Gus” Dur mencabut Inpres pelarangan itu. Imlekmu adalah imlekku, sebaiknya dijadikan tradisi untuk mempersatukan bangsa ini dari kemajemukan suku dan ras dunia. Secara perlahan budaya dan tradisi ini melebur dalam tradisi Indonesia. Meski tidak ikut  langsung merayakan, sebagian besar masyarakat yang bukan keturunan Tionghoa terasa ikut menghormati dan merayakannya saat ikut menikmati sajian perayaan Imlek di berbagai tempat umum. Perayaan Tahun Baru Imlek merupakan sebuah perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa. Perayaan Imlek adalah perayaan paling tua yang pernah diciptakan manusia di muka bumi ini yang berlanjut hingga sekarang.  Sama seperti kebudayaan Cina yang juga tidak terputus hingga hari ini, walaupun sempat pernah hendak dimusnakan rezim komunis di Cina semasa Revolusi Kebudayaan yang dijalankan dengan tangan besi Oleh Mao Tje Tung.  Ras Mongoloid adalah ras paling banyak dan paling luas penyebarannya di muka bumi ini.Menggantung lenter merah, membunyikan petasan, pentas barongsai dan menyembunyikan sapu adalah salah satu keunikan dari perayaan ini. Disamping itu, masyarakat Tionghoa juga akan mulai menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan ini.

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai di hari pertama bulan pertama di kalender Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal kelima belas pada saat bulan purnama. Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti “malam pergantian tahun”. Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan Tahun Baru Cina sangat beragam. Namun, kesemuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam Tahun Baru, serta penyulutan kembang api. Meskipun penanggalan Cina secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok seringkali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2009 masehi “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4707, 4706, atau 4646. Tahun Perayaan Imlek sudah ada sejak zaman dinasti Xia (2100-1600 SM). Perayaan Imlek menurut sejarah dimaksudkan sebagai perayaan kaum petani yang menyatakan syukur kepada alam atas datangnya musim semi.  Perayaan ini sendiri erat huungannya dengan penanggalan Cina yan dipakai sampai sekarang.

Ada dua kalender yang dipakai oleh orang orang Cina.  Yang pertama Kalender Yin (berdasarkan Bulan) dan yang kedua Kalender Yang (berdasarkan Matahari).  Pada perkembangan selanjutnya, hitungan yang spesifik antara revolusi bumi terhadap Matahari dan revolusi Bulan terhadap Bumi, menghasilkan suatu hitungan yang sangat selaras pada kalender Imlek yang kita kenal sekarang. Ada selisih antara 12 kali revolusi Bulan terhadap Bumi dibanding dengan 1 kali revolusi bumi terhadap Matahari. Di penanggalan Bulan milik orang orang Cina, selisih ini dikoreksi dalam bentuk Jun Gwee.  Maksudnya, dalam 4 tahun sekali akan ada bulan yang kembar atau double.  Misal Dji Gwee – Jun Gwee, maka bulan dua nya ada 2 kali.  Itu mengapa perayaan Imlek yang jatuh pada tanggal 1 Cia Gwee (bulan satu) selalu antara bulan Januari dan Februari di penanggalan Gregorian. Ini berbeda misalnya, bila kita bandingkan dengan penanggalan bulan yang lain, misalnya penanggalan Arab/Kalender Arab.

Imlekmu dan Imlekku Imlekmu adalah imlekku adalah gambaran bahwa semua masyarakat Indonesia secara tidak sadar sudah menerimanya menjadi bagian budaya masyarakat Indonesia. Di Indonesia, selama 1965-1998, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur yang fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002 (12 Februari 2002), Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Sukarno Putri. Di Indonesia, di berbagai wilayah suasana Imlek sudah mulai terasa, terutama di mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Hiasan-hiasan berwarna merah dan yang berbentuk kelinci emas dipajang di mana-mana. Di berbagai klenteng pun persiapan menyambut Imlek sudah terasa. Hiasan-hiasan berwarna merah, kue keranjang, angpau, lentera, petasan, tebu, dan barongsai menjadi ciri khas dalam perayaan Imlek. Sejak tahun 2000 perayaan imlek swing mendominasi pada tempat-tempat umum. Pada berbagai media massa juga sudah mulai diramaikan dengan iklan-iklan yang berhubungan dengan tahun baru China dan ucapan-ucapan Gong Xi Fa Cai, sebuah ungkapan Selamat Tahun Baru Imlek yang diucapkan kepada orang-orang keturunan China yang merayakannya. Tahun 2011 inipun gambar kelinci pun mulai muncul di mana-mana.

Setiap orang Indonesia seharusnya boleh ikut menikmati perayaan Imlek karena tidak berkaitan dengan ritual keagamaan, tetapi hanya sebuah perayaan seperti peringatan tahun baru Masehi ataupun tahun baru Hijriah. Apapun agamanya baik Buddha, Khong Hu Cu atau Taoisme, Islam, Kristen baik Katolik maupun Protestan. Makna spiritual perayaan Imlek tidak pertama-tama digali dalam ajaran agama tertentu. Semula, Imlek merupakan perayaan petani. Makna spiritual Imlek perlu digali dari pengalaman kehidupan dan dunia yang berkembang di antara kaum petani. Dalam perjalanan waktu, Imlek juga dirayakan oleh masyarakat yang bukan dari golongan petani. Karena itu, tidaklah mencukupi pemaknaan spiritual Imlek hanya dibatasi dari dunia pertanian.

Imlek adalah perayaan manusia yang menyatu dengan Alam.  Ada cinta kasih sangat universal pada alam dan lingkungan yang sangat kental dalam perasayaan Imlek. Di Indonesia yang tidak mengenal musim semi.  Perayaan Imlek adalah perayaan Tahun baru.  Waktunya bersyukur kapada rezeki tahun lalu serta semangat untuk hal hal yang lebih baik di tahun baru, bermaaf-maafan dengan anggota keluarga.  Yang tua menyayangi yang muda (angpau) yang muda menghormati yang tua (bakti).

Memang ada bagian dari perayaan Imlek yan bersifat religius.  Misalnya Doa penganut Khong Hu Cu padaThien - Langit - ungkapan mereka untuk Yang Maha Kuasa.  Namun, penganut agama lain, misalnya etnis Cina yang Buddha, mereka akan melakukan doa Tahun Baru Imlek di Vihara, bersujud pada Sang Tri Ratna. Etnis Cina, yang umumnya beragama Buddha tentu saja memiliki hari raya sendiri, yaitu Tri Suci Waisak. Bukan Imlek. Tapi Imlek lebih sebagai hari raya Khong Hu Chu.  Dan, sebagai orang-orang Cina. Imlek, melebihi itu semua.

Nenek moyang mereka membuat penanggalan tahun baru China dengan menghitung waktu rotasi bumi selama 360 hari dan kembali ke titik nol, kemudian berputar kembali menjadi tahun yang baru dan dirayakan sebagai Imlek. Selain itu juga, mereka merayakannya sebagai musim tanam baru dengan harapan akan mendapatkan panen yang berlimpah. Sebagian besar masyarakat Tionghoa beragama Budha, jadi banyak yang mengira kalau Imlek adalah perayaan khusus umat Budha. Sebenarnya ini hanya perayaan tahun baru biasa dan musim tanam oleh leluhur. Meski merupakan penduduk minoritas, tetapi masyarakat Indonesia sebenarnya sangat menghargai perayaan yang diadakan oleh masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa Indonesia adalah salah satu komunitas suku di Indonesia yang hidup dalam pluralitas agama semenjak adanya paksaan asimilasi budaya yang ditanamkan oleh pemerintah Orde Baru. Sehingga banyak masyarakat Tionghoa yang berpindah dari pemahaman atheis atau agama Samkaw seperti Tri-Dharma : Buddha, Tao, Kong Hu Cu ke agama mayoritas seperti agama Samawi seperti Islam dan Nasrani. Meski konsep setiap agama tidak berbeda jauh, dimana jalan untuk mencari kebenaran akan ajaran-ajaran kebajikan. Namun kadang agama ini masih menjadi pemisah di kalangan masyarakat Tionghoa. Ada tudingan dari orang-orang Tionghoa pemeluk agama Samawi kalau agama Tri-Dharma ini adalah agama kuno yang menyembah rupang-rupang berhala. Di kubu agama Tri-Dharma itu sendiri terjadi pemikiran yang menganggap kalau agama-agama Samawi adalah warisan peninggalan imperialisme Barat yang akan membinasakan agama asli Tionghoa dan kecenderungan tidak menghargai kebebasan orang untuk tidak memilih agama. Baik Tionghoa yang memilih atheis, agama Samawi, atau agama Samkaw sebenarnya semuanya adalah masyarakat Indonesia. Semoga dengan semakin meleburnya budaya imlek dengan budaya Indonesia dapat membuat masyarakat keturunan Tionghoa tidak menjadi ekslusif lagi. Gong Xi Fa Cai, bangsa Indonesia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x