Mohon tunggu...
Sandi Saputra
Sandi Saputra Mohon Tunggu... Tenang saja, aku hanya belajar.

Mahasiswa S2 yang sedang menjalani mimpinya di Kutub Utara

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Arkhangelsk: Surabaya Menghapus Jejak Kita di Jakarta

15 Juli 2019   16:35 Diperbarui: 15 Juli 2019   16:37 0 0 0 Mohon Tunggu...
Arkhangelsk: Surabaya Menghapus Jejak Kita di Jakarta
Dokpri

Aku tidak  pernah tinggal di Surabaya. Dulu pernah ke Bali dan hanya melewati saja. Ini bukan tentang aku dan Surabaya, bukan juga tentang sejarah kota itu, even aku tau Surabaya adalah kota Pahlawan. Ini tentang dia yang sudah di sana, di bekerja, pindah dari Jakarta.

Kermaren aku bercakap-cakap dengan salah satu teman lama, lebih tepat kami Lisa namanya. Kami bicara banyak, sebelumnya aku tidak pernah bercerita tentang hubungan kami, menurut ku ya tidak perlulah, walau hampir 5 tahun kami berteman. Namun, kemarin aku ceritakan semua dari awal pertemuan aku dan dia, menjadi kita dan kembali menjadi aku dan dia.

Dari Lisa itu juga aku tau bahwa dia setelah kepergianku ke sini, Russia bicara ke pada Lisa tentang hubungan kami, tentang LDR, tentang ketidakthanan dia terhadap beberapa sikapku. Oke, akan aku perjelas, jadi waktu itu sekitar dua bulan aku di sini, aku texted dia via WhatsApp, namun tidak ada balasan, sampai satu dua hari, alasannya simple busy, I know dia memang bekerja di salah satu start up dengan kredibilats sangat baik yang memiliki level Unicon. Namun, besok-besok pun, sama aku WhatsApp pagi, akan berbalas ketika tengah malam. Ini seperti tidak sehat, karena aku tau Instagramnya aktif juga twitternya.

Begini, aku bukan type cowok possesif, dulu pas di Jakarta bahkan berhari hari kami tanpa kabar, tidak ada telepon, WA, bagiku tidak masalah, toh kami di Jakarta ini, kami pasti tahu langsung jika ada apa apa, ataupun kalo kelewat kangen tinggal ketemu, even kami sama-sama sibuk kerja. Namun, ini Russia bukan?

Kami dipisahkan oleh benua, samudra, jarak, waktu, musim, siang dan malam. Kami benar-benar jauh. Dengan itu aku mencoba menghubungi temannya yang bekerja di kantor yang sama, menanyakan kabar, hari-hari dia, itu saja. Lalu aku juga menghubungi teman yang lain, Ayu karena aku sedang mempersiapkan pengiriman hadiah kecil untuk Ulang tahun dia, aku juga sudah menyiapkan hadiah sebelum aku pergi untuk Anniv kami yang ke 5 dan Ulang tahun dia. Namun, semua itu dimaknai oleh dia sebagai hal yang salah, dia mengira aku memata-matai dia. Aku tau dari Lisa. But I did not.

Jika aku sedang menulis di sini, berarti aku sedang merindukannya. Aku tidak memiliki hal lain, selain menulis ketika aku merasa merindukannya. Tidak mungkin aku ujuk-ujuk menulis pesan "Aku kangen kamu". Aku pun tidak memiliki kenymanan untuk bercerita, sudah umur 25 begini, lagi lanjut S2 di Russia masa iya cerita ke teman soal ginian hahaa. Di bawah langit kutub Utara ini, semut-semut, bunga musim panas bahkan tukang listrik yang sedang bekerja di lantai satu pasti tau bahwa aku sedang merindukannya. Ya aku rindu kamu.

Jujur, sempat terpikir sekilas, pas dia meminta berhenti, mungkin dia menemukan seseorang di sana, aku juga tidak ingin egois, walaupun hati tak rela, jiwa kecewa , namun aku jauh, aku tidak bisa melakukan apa apa, mungkin dia butuh seseorang yang benar-benar ada. Ada ratusan kata mungkin ketika hal itu terjadi. Aku juga sempat berpikir jika dia kembali ke mantanya, dan itu tidak salah. Namun, lisa mengklarifikasi semua kemungkinan itu,  ternyata tidak terjadi, namun memang benar saat ini, sebelum dia pindah ke Jakarta dia dekat dengan seseorang di kantornya, cinlok istilahnya, aku tidak tahu dengan pasti dia dekat ketika kami masih bersama atau setelah putus. Dari Lisa juga aku dapat menyimpulkan dia bolak-balik Jakarta-Surabaya.

Inilah dia, wanita ku yang telah memulau kehidupan baru di Surabaya meninggalakan Jakarta. Di kota itu dia sudah meninggalkan semua kenangan kami, dia mungkin sudah mengahapus semu cerita yang kami buat selama 5 tahun. Surabaya sudah menghapus jejak-jeka Jakarta. Di Surabaya mungkin dia telah atau akan menemukan seseorang. Sedangkan aku? Masih hidup di dalam kumpulan rindu sesak. Aku tidak menyalahkan Surabaya, aku tidak membenci Surabaya. Aku ingin Surabaya tau, bahwa di sini, di Arkhangelsk ribuan mil dari Surabaya ada seseorang yang selalu mencontai dia, menyayangi dia. Vin, aku kangen kamu.