Samuel Edward
Samuel Edward Penikmat Hidup

Tugas yang kuemban adalah membawa dan membuat mulia nama Bos-ku di mana pun aku hidup, apa pun yang aku lakukan, kepada siapa pun yang aku temui, kapan pun waktu dan kesempatannya.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Gelap

2 September 2018   15:54 Diperbarui: 2 September 2018   16:04 311 3 0
Cerpen | Gelap
(Sumber foto: http://natbg.com)

Malam ini tak jauh berbeda dengan malam-malam yang lain. Hanya saja kali ini terasa lebih gelap dan sunyi. Apalagi di dalam kamar itu. Gelapnya terasa berpuluh-puluh kali lebih pekat, dan kesunyian menjadi berlipat ganda kesenyapannya. Demikianlah yang dirasakan lelaki itu. Sendirian ia duduk di atas tempat tidurnya yang beralaskan seprai putih polos. Tangannya bertopang pada kedua lutut.

 Rambut yang sebagian telah memutih dan wajah yang di sana-sini mulai mengeluarkan keriput, yang memperkenalkan usianya yang senja, memancarkan ekspresi ketidakmengertian yang juga sulit dimengerti. Matanya melukiskan kekosongan pikirannya. 

Lurus menatap ke depan, ke dalam sunyinya gelap ruang kamar itu. Tak ada sesuatupun muncul dalam benaknya, cuma perasaan saja yang seolah masih tersisa untuk dirinya. Dan semua perasaan yang masih tersisa itu pun tidak terlalu banyak berbicara. Sehingga ia merasakan suatu perasaan kosong yang hampa dalam dirinya. Tidak terasa menyenangkan, tetapi juga tidak menyiksa. Menghibur tidak, mengganggu pun tidak.

Itulah dunianya, keseluruhan perasaan yang membisu dan cuma dapat disentuh indera tertentu di dalam dirinya. Sudah sekian lamanya ia berada di sana, sampai tak tahu lagi untuk berapa lama lagi semuanya akan ada dan bilamana ia bisa berada dalam dunia itu.

Pun malam ini, tak selintaspun bayangan melalui ruang pikiran lelaki separuh baya itu. Namun bagaimanapun, ada sesuatu yang baru dalam perasaannya saat ini. Ada yang berbeda. Ia merasakan bahwa perasaannya memiliki kepekaan yang lebih. Sensasinya lebih intens, menimbulkan sebentuk pengertian absurd akan sesuatu yang tidak jelas. Kini ia seolah dapat melihat kegelapan. Ya, kegelapan yang dapat dilihat! Dan juga kesunyian dapat didengarnya; senyap yang dapat ditangkap indera pendengarannya!

Tangan yang sedari tadi seolah terpaku pada lutut digerakannya sedikit ke atas dan ke depan dengan sangat lambat, seolah-olah sudah lama sekali tangan itu tidak difungsikan sebagai alat gerak. Kepalanya dimiringkan sedikit ke kiri dengan kecepatan yang sama dengan sang tangan sekalipun arah tatapan matanya tidak berubah. Jemarinya sedikit demi sedikit bergerak pelan; satu per satu dengan irama tertentu. Apa yang dirasakannya kini adalah bahwa kegelapan dan kesunyian dapat disentuhnya. Terasa di ujung-ujung jari sesuatu yang dingin tanpa tekstur yang dapat didefinisikan. Lelaki itu terus menggerak-gerakkan jari-jarinya, menikmati setiap sentuhan yang tampaknya menimbulkan semacam eksitasi tersendiri.

Beberapa lamanya lelaki itu berbuat begitu. Kian lama sensasi yang ditimbulkan pesona kekelaman dan kesenyapan itu kian mengkristal; lalu serpihan-serpihannya mulai menyatu sehingga akhirnya mewujud, membentuk suatu sosok kekuatan yang terasa begitu nyata di dalam dirinya. Sosok itu semakin memenuhi diri lelaki itu. Makin besar, makin dominan, memasuki setiap celah organ tubuhnya.... Dan akhirnya seluruh keberadaannya dirasakannya dikuasai sosok tadi!

Lelaki itu untuk pertama kalinya sejak sekian banyak masa terlewati melihat sesuatu yang baru, berbeda dengan kegelapan yang selama ini merupakan satu-satunya sahabat bagi matanya. Yang muncul sekarang ini serupa awan pekat menggumpal, keluar dari tubuhnya. Dari ubun-ubun, celah mata, lubang hidung, lubang telinga, mulut, pusar, lubang kemih. Bahkan sampai keluar juga dari anus dan dari seluruh pori-pori. Dan secara cepat kegelapan tergantikan awan yang rupa-rupanya adalah pengejawantahan sosok yang menguasai sang lelaki. Antero lapang pandang lelaki itu hanya terisi awan pekat kelabu itu.

Mendadak dari dalam awan tadi terdengar suatu suara berbicara kepadanya. "Mari!" kata suara itu. Lelaki itu tiba-tiba merasa dirinya terangkat, kemudian dibawa terbang dengan sangat cepat; entah oleh siapa atau apa dan ke mana ia dibawa pergi. Yang dirasakannya, sekonyong-konyong ia berhenti. Di depannya terdapat lorong yang kelihatannya tidak berujung, tidak berpangkal, dan tidak beratap. Hanya ada dinding di kiri-kanan lorong yang jaraknya satu sama lain sempit sekali, dan juga lantai yang mengalasi lorong itu. Setelah itu terjadi sesuatu pada diri lelaki itu.

Entah bagaimana, perubahan yang cukup besar dialami sang lelaki. Ia kini mendapati dirinya berada dalam keadaan yang berbeda. Akal budinya dikembalikan. Lampu-lampu di dalam ruang pikirannya kembali dinyalakan. Serta segenap kesadaran dan orientasinya dipulihkan. Cuma satu yang kurang: memori dan ingatannya belum dihidupkan. Ia masih belum ingat siapa dirinya, apa yang telah terjadi padanya selama ini, dan bagaimana kelanjutan semua yang dialaminya saat ini.

Lelaki itu memandang berkeliling. Didapatinya bahwa kini ia berada dalam suatu tempat yang aneh. Sejauh yang dapat dilihatnya hanyalah keremangan merah gelap yang berdenyut-denyut. Sesaat kemudian ia sadar, yang berdenyut-denyut itu adalah dinding-dinding dan lantai lorong, yang berbentuk aneh, dengan tonjolan dan lekukan di sana-sini yang tak terhitung banyaknya. Di antara remang-remang dan warna merah pekat tempat itu, tercium olehnya bau yang menusuk hidung. Busuk dan kotor sekali aromanya! Betul-betul menjijikkan! Lelaki itu menutup hidung dengan tangan sambil mengernyit karena merasa jijik.

Lalu perlahan ia melangkah untuk melihat-lihat tempat aneh itu lebih jauh. Baru saja ia menapakkan langkah pertama, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menggelitik dan agak menusuk di dalam kepalanya. Memang tidak menyebabkan rasa sakit yang berarti, namun cukup membuatnya kaget. Ia melangkah lagi. Gelitikan dan tusukan tadi kembali terasa. Tiga-empat kali lagi ia melangkah, setiap kali diikuti rasa tergelitik dan tertusuk yang sama.

Bingung dan heran karena kejadian itu, ia berhenti berjalan untuk berpikir sejenak. Tanpa sadar, sambil berpikir-pikir demikian tubuhnya bersandar pada salah satu dinding, lalu melorot terduduk. Belum juga pantatnya menyentuh lantai lorong, tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya, sehingga tubuhnya terhuyung lalu terbanting ke lantai dengan posisi terduduk. Namun akibatnya kepalanya seolah-olah tertikam sesuatu secara cepat dan kencang! Sakit sekali!

Ia berteriak-teriak sambil memegangi kepala. Tubuhnya terhenyak ke belakang. Kembali tikaman itu menghunjam kepalanya dengan kejam! Lelaki itu menjerit keras. Kemudian tak sadarkan diri....

Suara itu membangunkan sang lelaki dari pingsannya. Mula-mula sayup-sayup tak jelas. Makin lama makin terdengar jelas; mendesak-desak dan keras. Lelaki itu pelan-pelan membuka mata. Merah pekat yang berdenyut-denyut mengisi ruang pandang. Linglung sejenak, kemudian baru ia teringat di mana saat ini ia berada. Kepalanya diangkat dengan hati-hati sekali. Sakitnya sudah hilang, tapi serasa ada sesuatu yang kecil mengganjal dan memberati sebelah depan kepalanya. Meski demikian, dikuatkannya diri, lalu berusaha duduk tegak. Walau sangat lambat, usahanya berhasil juga. Sekarang ia sudah berada dalam posisi duduk, meski badannya masih agak terbungkuk menahan beban yang sedikit mengganjal kepala hingga tetap tertunduk.

"Kau sudah siuman, manusia? Bagus!" terdengar olehnya suara tadi. Agak terkejut, lelaki itu mengangkat kepalanya dengan hati-hati. Nampak olehnya awan pekat kelabu menyelubungi dirinya. Dari dalam awan itu keluar lagi suara bicara padanya, "Berdirilah, manusia! Jangan kau tetap terduduk kalau kau tidak mau kepalamu terus-menerus terasa berat. Ayo, berdirilah!"

Lelaki itu menurut. Perlahan ia mengangkat tubuhnya. Dan benar. Kepala bagian depannya yang tadinya berat menjadi jauh terasa lebih ringan. Sejenak ia diam menenangkan diri, lalu lirih ia berkata, "Di mana aku? Apa yang terjadi? Bagaimana...?"

Tiba-tiba ia tertegun, tidak meneruskan kata-katanya. Ada sesuatu yang aneh.... Kemudian disadarinya apa yang aneh itu, sehingga ia kaget setengah mati: suara tadi mirip sekali dengan suaranya! Atau mungkin lebih tepat: suaranya yang mirip suara itu?! Awan tadi tahu apa yang dipikirkan lelaki itu.

"Kau merasa heran suaramu dan suaraku serupa? Pantas saja kalau kau sangat heran. Kau tidak mengenaliku. Sama sekali tidak pernah kau kenal padaku. Tidak seperti aku yang mengenalmu. Sangat mengenalmu. Lebih daripada kau mengenali dirimu sendiri," kata awan itu. "Baiklah. Akan kukatakan sesuatu padamu. Engkau, manusia, kini berada dalam suatu tempat di mana segala pikiran, perasaan, dan hasrat --ya, jiwa dengan segala aspek dan dimensinya!-- berasal dan menetap.... Sebuah otak! Otakmu sendiri, manusia!... Kau berada dalam otakmu sendiri!"

Lelaki itu menjadi pucat pasi. Terhenyak. Kaget mendengar hal itu. "Tidak...!! Itu tak mungkin!"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5