Mohon tunggu...
Syam Pituduh
Syam Pituduh Mohon Tunggu... Syamsulhadi

Sublimasi hidup

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tafsir Al-Ibriz: Mengupas Isi Kandungan Al-Quran dengan Kearifan Lokal

18 Maret 2021   19:01 Diperbarui: 18 Maret 2021   19:38 446 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tafsir Al-Ibriz: Mengupas Isi Kandungan Al-Quran dengan Kearifan Lokal
dutaislam.com

Dunia keintelektualan Islam tentunya sangat mengenal kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Jalallain karya dari dua tokoh mufasirin antara guru dan murid yaitu Syeikh Jalalludin al-Mahalli dan Syeikh Jalaludin as-Shuyuti. Mungkin juga, mengenal Tafsir Ibnu Katsir karya Syeikh Ismail bin Katsir yang tak kalah masyhurnya. Ataupun pembaca juga familiyar dengan karya Tafsir ulama kontemporer seperti Tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Ridho, Tafsir al-Munir karya Wahbah Suhaili, Tafsir al-Mizan karya Ayatullah Thabataba'i dan Tafsir al-Misbah karya ulama Indonesia yang masih eksis hingga saat ini yaitu Muhammad Quraish Shihab.

Adapun karya tafsir yang dikemukakan di atas, tentunya pembaca yang mengambil study ulumul qur'an ataupun Ilmu al-Qur'an dan Tafsir di perguruan tinggi Islam, pasti tak lepas dari mufasirin tersebut. Lalu  menjadikannya rujukan untuk bahan kajian atau diskusi. Kemudian di kalangan santri tentunya juga cukup familiyar dengan Tafsir Jalallain yang dikaji di banyak Pondok Pesantren, baik itu dimasukan ke kurikulum Madrasah Diniyah maupun kajian weton yang langsung dipandu oleh sang kyai.

Namun, dengan rentetan karya tafsir di atas dan menjamurnya tafsir-tafsir modern yang digeluti kebanyakan anak-anak muda, kita jangan sampai tidak mengenal karya tafsir ulama karismatik asal Indonesia yaitu Tafsir al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa. Ia adalah ulama asal Rembang Jawa tengah yang merupakan ayah KH Mustofa Bisri atau akrab dengan sapaan Gus Mus. KH Bisri Mustofa memiliki sumbangsih pemikiranya diberbagai disiplin ilmu keislaman. Termasuk karyanya yang sangat monumental yaitu al-Ibriz lil Ma'rifat Tafsir al-Qur'an al-Aziz yang dikenal dengan Tafsir al-Ibriz sebanyak 30 juz.

KH Bisri Mustofa memiliki nama kecil Mashadi kemudian namanya berganti setelah kepulangannya dari Ibadah Haji pada tahun 1923 menjadi Bisri Mustofa. Beliau lahir di kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah pada tahun 1915 M. Di langsir dari islami.co perjalananya dalam mencari ilmu dimulai dari tanah kelahirannya sendiri yaitu pendidikan dasar dari sekolah jawa " Ongko Loro" sekolah tersebut merupakan sekolah rakyat atau sekolah dasar untuk bumi putra. 

Setelah lulus dari sekolah rakyat kemudian ia melanjutkan pengembaraanya untuk mencari ilmu keislaman di Pondok Pesantren Kasingan Asuhan KH Cholil. Beliau juga pernah mengenyam di Pondok pesantren Termas Pacitan asuhan KH Dimyati. Selain menimba ilmu di daratan Jawa beliau juga pernah menimba ilmu di daratan Timur Tengah tepatnya di Kota Mekkah. Beliau adalah salah satu anak murid dari Sayid Alwi ketika mengkaji Tafsir Jalallain di Mekkah.

KH Bisri Mustofa menafsirkan al-Qur'an dalam Tafsir al-Ibriz menggunakan metode tahlili atau metode penafsirkan al-Qur'an yang menjelaskan ayat atau surat dengan menguraikan apa yang dimaksud dari subtansi ayat dan surat tersebut. Kemudian beliau juga merujuk atau mengambil refrensi dari kitab tafsir yang muktabar. Seperti Tafsir Jalallain, Tafsir Baidlowi, Tafsir Khozin dan lain sebagainya.

Hal unik dari Tafsir al-Ibriz adalah penulisannya yang begitu khas. Yaitu penjelasan ayatnya menggunakan bahasa jawa yang bertuliskan arab pegon. Dalam menguraikan maksud ayat demi ayat, susunan kitab tersebut menggunakan istilah tanbih ketika menjelaskan nasikh mansukh. Menggunakan istilah faidah ketika menjelaskan asbabul nusul. Menggunakan istilah Qishosh dan Hikayat ketika menjelaskan hari akhir, kisah para nabi dan kisah umat terdahulu.  Dengan adannya penulisan tersebut menambah khasanah keilmuan nusantara dengan kearifan lokal yang begitu estetik ketika dikajinya.

Pembaca yang budiman, adapun karya monumental dari KH Bisri Mustofa tersebut penulis jadi teringat masa kecil dulu. Ketika masih umur sekitar empat tahun ikut emak, ngaji Tafsir al-Ibriz ba'da Isya' di Langgar (Mushola). Masih teringat dengan jelas betapa khidmatnya ibu-ibu mengikuti kajian tersebut, memahami kata demi kata, memperhatikan ayat demi ayat dengan seksama, sambil saya berada dipangkuannya.

Penulis:

Syamsulhadi

Mahasiswa Ushuludin Adab dan Dakwah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x